
Agatha serasa mendapat angin segar setelah mendengarkan tawaran dari Amara. Tanpa pikir panjang, Agatha langsung saja mengangguk mengiyakan perkataan Amara.
"Anggap saja saat ini adalah kesempatan untuk Amara dan Kak Aga bisa berduaan tanpa adanya gangguan." Ucap Agatha dalam hati.
"Apa kau yakin tidak masalah menunggu Kak Aga di sini, Mara? Aku takut merepotkanmu." Agatha pura-pura sungkan.
"Tentu saja tidak masalah. Lagi pula aku sudah izin pada ibu dan ayah kalau pulang malam hari ini."
Agatha mengembangkan senyum. Pun dengan Papa Andrew. "Baiklah kalau begitu."
Agatha dan Papa Andrew pun akhirnya masuk ke dalam ruangan perawatan Aga untuk berpamitan pada Aga. Amara pun ikut melangkah masuk bersama mereka. Setelah berpamitan pada Aga, Papa Andrew dan Agatha akhirnya pergi meninggalkan ruangan perawatan Aga.
"Maaf sudah merepotkanmu." Ucap Aga setelah kepergian adik dan ayahnya.
"Tidak merepotkan kok Kak Aga. Oh ya, apa Kak Aga ingin sesuatu?" Tawar Amara.
"Aku ingin minum saja." Pinta Aga.
Amara mengangguk paham lalu mengambilkan air minum untuk Aga. Kemudian Amara dengan hati-hati membantu Aga untuk minum dengan menyodorkan sedotan ke arah mulut Aga.
"Kenapa, Kak?" Amara nampak cemas melihat Aga yang meringis.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Kepalaku hanya sakit sedikit saja." Jawab Aga.
Amara menghela napas kemudian membantu Aga untuk berbaring kembali. "Lebih baik Kakak tidur saja. Semoga saja setelah bangun nanti keadaan Kakak sudah cukup membaik."
"Aku tidak mungkin meninggalkanmu tidur."
"Kenapa tidak mungkin? Tidur saja, Kak. Aku akan menjaga Kakak di sini."
Aga tak lagi menyahut. Ia menatap wajah cantik Amara yang nampak tulus ingin menjaganya saat ini. Ditatap demikian oleh Aga berhasil membuat Amara menjadi salah tingkah hingga memalingkan wajah.
"Bagaimana perasaanmu saat ini kepadaku, Mara? Bukankah saat ini kau pernah berkata jika mencintaiku sejak lama?"
Deg
"Apa kau sudah melupakan rasa cintamu kepadaku?" Lanjut Aga.
Amara semakin terkesiap. Ditatapnya wajah Aga yang kini menatapnya menanti sebuah jawaban.
"Kenapa Kakak bertanya seperti itu?"
"Jawab saja. Aku hanya penasaran dengan perasaanmu saat ini."
__ADS_1
Amara menghela napas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Aga. "Dengan berjalannya waktu perlahan perasaanku pada Kakak sudah mulai memudar. Kakak juga sudah bisa lihat sendiri kan jika saat ini aku sudah mulai menjalin hubungan dengan seseorang."
"Apa secepat itu kau melupakan pria yang kau cintai selama lima tahun lamanya?" Sahut Aga.
"Kenapa tidak? Toh selama ini pria yang aku cintai hanya menganggapku sebagai seorang adik."
Aga hening dalam waktu yang cukup lama. Amara pun ikut hening seakan tak ingin lagi bersuara.
Kedatangan seorang perawat mengalihkan tatapan Aga dan Amara ke arah perawat.
"Permisi, saya ingin mengganti infus Tuan Aga dulu." Ucapnya ramah.
"Baik, Sus." Sahut Amara.
Perawat pun segera melakukan tugasnya dengan baik. Mengganti infus Aga dengan yang baru dan mengukur tensi Aga saat ini. Setelah selesai melakukan semua tugasnya dengan baik, perawat pun berpamitan keluar pada Aga dan Amara.
"Amara," suara Aga memanggil nama Amara mengalihkan pandangan Amara ke wajah Aga.
"Ya, ada apa, Kak?"
"Kau bilang tadi jika kau bisa dengan mudah menghilangkan perasaanmu kepadaku karena aku hanya menganggapmu sebagai seorang adik. Namun, bagaimana bila saat ini aku sudah tidak lagi menganggapmu sebagai seorang adik melainkan seorang wanita?" Tanya Aga.
__ADS_1
***