
"Apa? Amara akan menikah dengan kakakmu?" Ulang Rendra dengan ekspresi terkejutnya.
Agatha menganggukkan kepala.
"Kakakmu yang mana? Apa Kak Aga?" Tanya Rendra memastikan.
"Ya, tentu saja Kak Aga. Memangnya aku punya kakak lain selain Kak Aga?" Tanya Agatha diikuti gelengan kepala.
"Apa..." Rendra berucap lirih. Merasa tak percaya dengan yang didengarnya baru saja. Pandangannya pun beralih pada Amara meminta kepastian.
Amara mengulas senyum pada Rendra seakan menyatakan pada Rendra jika apa yang didengarnya baru saja adalah benar.
"Bagaimana bisa?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Rendra. Ia memang perna mendengar Aga menyebut Amara sebagai calon istrinya saat hari pernikahannya. Namun, Rendra pikir itu hanyalah bercanda.
"Tentu saja bisa, Rendra. Amara dan Kak Aga kan bukan saudara sedarah. Jadi sah saja jika mereka mau menikah."
Rendra masih dibuat tak percaya mendengar pernyataan Agatha. Bagaimana bisa Amara menikah dengan Aga sedangkan selama ini ia tak pernah melihat Amara menjalin hubungan dengan Aga.
"Rendra, ayo habiskan makananmu. Nanti keburu dingin loh." Ucap Agatha.
__ADS_1
Rendra tak menghiraukannya. Ia masih saja terkejut dengan informasi yang baru saja ia dengar.
"Kenapa rasanya sakit sekali..." lirih Rendra dalam hati. Walau sudah berusaha mengikhlaskan Amara tak menjadi jodohnya, namun tetap saja hatinya tak bisa berbohong jika ia masih sangat mencintai Amara.
**
Selama berada di dalam restoran, Agatha mencoba memecahkan ketegangan yang ada dengan mengajak Amara dan Rendra terus berbicara walau Rendra nampak sekali tak ingin menjawab perkataannya.
Amara yang mengerti maksud dan tujuan Agatha saat ini pun mengikuti saja drama yang Agatha buat. Menurutnya apa yang Agatha lalukan saat ini sudah benar agar Rendra tak semakin merasa bersalaha kepadanya karena pada akhirnya ia juga akan menikah dengan pria yang dicintainya.
"Oh ya, Rendra. Apa saat ini Okta sudah hamil?" Sebuah pertanyaan yang keluar dari mulut Agatha membuat Rendra yang baru saja menghabiskan makanannya jadi tersedak.
Rendra segera menyeruput minumannya yang tinggal setengah hingga tandas.
"Kenapa kau jadi batuk-batuk seperti itu. Apa pertanyaanku mengagetkanmu?" Tanya Agatha.
"Tidak." Jawab Rendra singkat.
"Jadi bagaimana, apa saat ini Okta sudah hamil?" Tanyanya memastikan.
__ADS_1
Rendra menggelengkan kepala sebagai jawaban. Bagaimana bisa istrinya itu bisa hamil sedangkan dirinya selalu mengabaikan keberadaan istrinya sejak mereka menikah karena pemikirannya selalu tertuju pada sosok Amara.
"Aku doakan agar rumah tanggamu dan Okta segera dikaruniai keturunan." Ucap Agatha tulus.
Amara mengaminkannya. "Iya. Aku juga mendoakan hal yang sama. Semoga saja keponakanku dan Agatha segera launching!"
Rendra dibuat menghela napas mendengar jawaban Amara. Dan akhirnya, ia hanya mengangguk mendengar doa dari kedua sahabat baiknya itu.
**
Rendra memilih berpamitan pergi lebih dulu meninggalkan restoran sebelum Amara dan Agatha selesai menghabiskan makanan mereka. Ia merasa tidak kuat berlama-lama berada di tempat yang sama dengan wanita yang masih dicintainya itu terlebih setelah mendengar kenyataan pahit jika Amara akan menikah sebentar lagi.
Amara dan Agatha saling pandang setelah kepergian Rendra. Keduanya menyampaikan hal yang ada di pemikiran mereka masing-masing lewat tatapan mata.
"Amara, aku pikir saat ini Rendra masih belum bisa melupakanmu walau dia sudah menikah dengan Okta." Ucap Agatha mengeluarkan isi pemikirannya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu dan tidak mau lagi memikirkannya. Dari pada memikirkan Rendra, lebih baik aku memikirkan kakakmu saja." Kelakar Amara sambil tersenyum malu.
***
__ADS_1