Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Aku Kalah


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Amara mencoba bersikap seperti biasanya. Tetap tersenyum pada Aga dan membuatkan kopi setiap pagi untuk Aga. Namun yang berbeda adalah saat Amara membuatkan kopi untuk Aga ia tak lagi ceria seperti biasanya dan hal itu membuat OB yang cukup dekat dengan Amara menjadi bingung melihatnya.


"Nona Amara kenapa tidak ceria seperti biasanya lagi?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Dodo saat Amara membuatkan kopi untuk Aga pagi itu.


"Dodo." Amara tersenyum pada Dodo. "Aku tak apa Dodo. Tetap seperti biasanya."


"Tapi saya lihat tidak seperti itu. Nona Amara terlihat tidak ceria dan tidak berbicara sendiri lagi saat membuatkan kopi untuk Tuan Aga."


Amara menyurutkan senyum di wajahnya. Apakah perubahannya itu sangat terlihat jelas oleh Dodo. "Aku tak apa-apa. Hanya sedang malas saja. Oh ya Dodo, kalau begitu aku pergi ke ruangan Kak Aga dulu ya." Pamit Amara karena ia sudah selesai membuat kopi untuk Aga.


Dodo mengangguk saja dan menatap kepergian Amara. "Apa Nona Amara sedang patah hati sehingga bersikap seperti itu?" Gumam Dodo. Sesungguhnya Dodo lebih menyukai sosok Amara yang ceria bukan pendiam seperti saat ini.


Amara yang kini sudah berada di dalam ruangan kerja Aga segera meletakkan kopi buatannya di atas meja kerja Aga.


"Terima kasih." Ucap Aga.

__ADS_1


Amara mengiyakannya lalu berpamitan untuk keluar dari dalam ruangan kerja Aga.


"Tunggu dulu." Suara Aga menghentikan langkah Amara.


"Ada apa, Tuan?"


"Tolong minta OB untuk membersihkan dan merapikan ruangan rapat karena hari ini kita ada pertemuan kembali dengan Nona Anjani." Perintah Aga.


Amara terdiam beberapa saat mendengar nama Anjani yang keluar dari mulut Aga. "Baik Tuan. Saya akan meminta OB untuk membersihkan dan merapikan ruangan rapat."


Amara mengiyakannya lalu keluar dari dalam ruangan kerja Aga.


"Nona Anjani akan berkunjung lagi ke perusahaan ini. Tapi kenapa aku tidak mengetahuinya?" Gumam Amara. Karena penasaran, Amara pun membuka email masuk di komputernya. Ia ingin memastikan apakah ada jadwal Aga yang terlewat olehnya hari ini.


"Sepertinya Nona Anjani membuat janji bertemu secara pribadi saja dengan Tuan Aga." Komentar Amara.

__ADS_1


Tak ingin terlalu memikirkan Anjani dan Aga karena hanya akan membuat moodnya menjadi buruk, Amara pun memilih fokus pada pekerjaannya dan tak lupa meminta OB untuk membersihkan ruangan rapat. Untuk urusan Aga dan Anjani ia akan memikirkannya nanti.


*


Tepat pukul sepuluh pagi, Aga keluar dari dalam ruangan kerjanya. Ia menghampiri meja kerja Amara dan meminta Amara untuk ikut dengannya ke ruangan rapat.


Amara yang tadinya berpikir ia tidak akan diajak pergi ke ruangan rapat pun segera bangkit dari kursi kerjanya dan membawa buku kecil yang sudah biasa ia bawa saat rapat.


Setibanya di ruangan rapat. Amara segera duduk di kursi yang berada tidak terlalu jauh dari kursi Aga. Baru saja beberapa menit berada di ruang rapat, sosok Anjani pun nampak masuk ke dalam ruanga rapat dan tersenyum pada Aga.


"Selamat datang Nona Anjani." Ucap Aga sambil bersalaman dengan Anjani.


Anjani tak menjawab ia masih memegang lembut tangan Aga seraya menatap wajah Aga dengan tersenyum. Amara yang melihatnya pun mengalihkan pandangan pada Aga yang nampak tidak risih dengan perlakuan Anjani saat ini.


"Kau kalah Amara. Mereka memang sudah sedekat itu."

__ADS_1


***


__ADS_2