
"Apa Kak Anjani tidak apa-apa?" Amara memberikan pertanyaan setelah melihat Anjani terdiam dalam waktu yang cukup lama dan wajah yang nampak tegang.
Anjani mengulas senyum menyamarkan ketegangan di wajahnya saat ini. "Aku tak apa." Jawaban yang diberikan Anjani menjadi penutup pembicaraan di antara mereka karena pintu lift sudah terbuka dan keduanya pun melangkah keluar dari dalam lift.
Tatapan mata Aga kini terisi penuh pada sosok Amara yang baru saja masuk ke dalam resto bersama dengan Anjani.
"Apa kau sudah menunggu lama, Aga?" Tanya Anjani seraya menjatuhkan bokong di atas kursi yang bersebelahan dengan Aga. Amara yang tidak ikut bersuara pun menjatuhkan bokong di atas kursi yang berhadapan dengan Aga dan Anjani.
"Hanya lima belas menit. Sekarang ayo segera makan, waktu kita tidak banyak."
Amara dan Anjani mengangguk patuh lalu mengambil makanan masing-masing. Sementara Aga yang sudah selesai mengambil makanan untuk dirinya sendiri langsung saja menyantap makanannya tanpa menunggu Amara dan Anjani.
__ADS_1
Lima belas menit berlalu, ketiganya sudah selesai menghabiskan makanan masing-masing. Sepuluh menit setelahnya, ketiganya langsung saja beranjak menuju lokasi proyek.
Jika sebelumnya Anjani datang ke kota B menggunakan mobilnya sendiri, kali ini Anjani pergi ke lokasi proyek menggunakan mobil Aga. Sadar diri jika posisinya lebih muda dari Anjani, Amara memilih masuk ke kursi belakang dan membiarkan Anjani duduk di sebelah kursi Aga.
Mobil milik Aga akhirnya melaju menuju lokasi proyek yang berada tidak terlalu jauh dari hotel berada. Hanya membutuhkan waktu lima belas menit, kini ketiganya sudah berada di lokasi proyek.
Kedatangan ketiganya disambut oleh seorang pria muda yang diperkirakan seumuran dengan Aga yang dipercayakan oleh Aga sebagai ketua proyek.
Aga, Anjani dan Amara akhirnya melangkah melihat satu persatu rumah yang sedang dalam proses pembangunan. Tak hanya sekedar melihat saja, Aga juga memastikan jika bahan bangunan yang digunakan dalam proyek mereka kali ini sesuai dengan laporan yang masuk kepadanya.
Merasa semuanya berjalan dengan semestinya dan tidak terlihat hal yang mencurigakan, Aga langsung saja melangkah ke arah pembangunan rumah yang lainnya diikuti Anjani dan Amara.
__ADS_1
Saat hendak masuk ke dalam pembangunan rumah lantai dua, seseorang dari arah belakang Amara tiba-tiba saja berteriak saat melihat sebuah batu-bata dari lantai dua jatuh dan hendak mengenai kepala Amara.
Merasa terkejut mendengar teriak orang tersebut, Amara lantas saja mendongak melihat ke arah atas dan menutup kepalanya dengan kedua tangan karena beberapa batu-bata yang jatuh sudah dekat mengenai kepalanya.
"Aw..." Amara berteriak. Namun bukan karena sakit terkena batu-bata tapi karena sakit akibat terjatuh ke atas tanah akibat dorongan seseorang.
"Aga!" Anjani berteriak cukup keras melihat batu-bata berukuran besar yang terjatuh dari lantai atas mengenai kepala Aga hingga membuat kepala Aga mengeluarkan darah.
"Kak Aga!" Kedua bola mata Amara membeliak melihat sebelah tangan Aga yang dipenuhi darah setelah memegang kepalanya. Tanpa memperdulikan rasa sakit di lututnya akibat terjatuh mengenai tanah, Amara segera bangkit menghampiri Aga yang sudah menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi dirinya.
***
__ADS_1