
Kepulangan Amara ke rumahnya pagi itu disambut dengan senyuman di wajah ayah dan ibu yang sudah mengetahui apa yang terjadi pada Amara dari Naina. Melihat senyuman penuh maksud di wajah ayah dan ibunya membuat Amara tersenyum kaku karena malu.
"Anak Ayah dan Ibu sebentar lagi mau jadi istri orang nih ceritanya." Ayah Arif tersenyum jenaka pada putri bungsunya.
Kepala Amara jadi tertunduk. Agatha yang berdiri di sampingnya pun menyenggol lengan Amara sembari tersenyum meledek.
"Cie..." terdengar suara Zeline menyahut dari dalam rumah. Wajah cantik keponakan Amara itu kini nampak dipenuhi oleh bedak pertanda ia baru saja selesai mandi.
"Centil..." kedua bola mata Amara melotot. Memberikan peringatan pada sang keponakan agar tak menggodanya.
"Anty mau nikah sama Om Aga loh Kakek. Tadi di bandara nangis-nangis itu gak mau ditinggal." Bukannya berhenti meledek, si centik Zeline justru semakin semangat meledek Amara.
Amara dibuat semakin malu. Ia jadi teringat lagi kejadian di bandara tadi dimana dirinya melakukan hal konyol hingga membuat perhatian orang-orang tertuju kepadanya.
Di sebelah Amara, Agatha tengah tertawa-tawa. Nampaknya ia juga semangat untuk menggoda Amara.
Amara dibuat semakin sebal sebab Agatah ikut-ikutan menggodanya.
__ADS_1
"Sudah, sudah. Ayo masuk dulu." Ajak Ayah Arif sebab mereka masih berada di luar saat ini.
Agatha menganggukkan kepala. Sementara Amara langsung melangkah masuk ke dalam rumah setelah mendengar perintah dari sang ayah.
Ibu memusatkan pandangan pada wajah putrinya yang masih saja nampak malu-malu. "Mara, apa benar kau sudah menerima lamaran nak Aga?" Tanya Ibu memastikan.
Amara mengangguk pelan. "Iya, Bu. Mara sadar jika Mara masih mencintai Kak Aga." Lirihnya.
Ibu mengembangkan senyum. Ia merasa bersyukur karena pada akhirnya Amara menjatuhkan pilihan pada Aga. Seorang pria yang sudah ia kenal dengan baik dan dapat ia percaya bisa menjaga dan melindungi Amara dengan baik.
"Bibi, apa Bibi setuju jika Kak Aga menjadi calon suami Amara?" Tanya Agatha penuh harap.
Agatha menghembuskan napas lega. Ia mengusap dada kemudian mengucap rasa syukur karena doanya selama ini dijabah juga.
"Syukurlah kalau begitu. Sekarang, Gatha sudah tenang karena Kak Aga bisa mendapatkan wanita sebaik Amara untuk menjadi pendamping hidupnya." Ucap Agatha tulus.
Mendengar perkataan Agatha lantas saja membuat pandangan Amara tertuju kepadanya. Kedua bola mata Amara berkaca-kaca. Merasa haru mendengar perkataan teman baiknya itu.
__ADS_1
"Agatha..." lirih Amara kemudian memeluk tubuh Agatha.
Agatha balik memeluk tubuh Amara. "Sekarang sudah saatnya kau menuai hasil dari kesabaranmu selama ini, Amara." Ucap Agatha.
Amara menganggukkan kepalanya. "Terima kasih karena selalu mendukungku di setiap perjalanan hidupku, Gatha."
"Sama-sama. Aku juga berterima kasih kepadamu karena sudah memantapkan hati memilih kakakku."
Pelukan keduanya pun terlepas.
Zeline yang kini duduk di sebelah ibu nampak mengerucutkan bibir karena keberadaannya di sana seakan tak dianggap.
"Kenapa dengan bibirmu itu centil? Mau Anty tarik, ya?" Tanya Amara gemas melihat ekspresi wajah keponakannya saat ini.
"Zel sebal, Anty. Apa Anty gak mau berterima kasih pada Zel juga karena Zel juga ikut berperan menyatukan Anty dan Om Aga?" Tanyanya cemberut.
"Wah, benar juga. Zeline adalah salah satu orang yang sudah berperan penting menjadi mak comblang. Kau harus berterima kasih kepadanya, Mara!" Sahut Agatha.
__ADS_1
***