Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Calon Istri Presdir


__ADS_3

Agatha menghembuskan napas bebas di udara setelah berhasil kabur dari pembicaraan kedua kakaknya yang terus membahas tentang pasangan hidupnya.


"Kenapa semua orang jadi menyebalkan begitu sih." Gatha menggelengkan kepalanya kemudian meneguk air putih yang baru saja ia ambil dari atas meja.


Zeline yang mengikuti Agatha kabur ke arah dapur pun mendongak menatap wajah Agatha.


"Anty kenapa kabur. Papah dan Om Aga kan belum selesai berbicara." Protesnya.


Agatha menatap keponakan kecilnya itu dengan mata menyipit. "Kau ingin Anty berlama-lama diejek oleh Papah dan Ommu itu, ya?" Selidiknya.


Tanpa diduga si kecil Zeline menganggukkan kepalanya. "Supaya cepat punya pasangan Anty tuh. Kan kasihan Anty nda punya teman lagi karna Anty Mara mau menikah. Nanti mau pergi sama siapa Anty kalau nda punya teman?"


Agatha jadi terdiam. Memikirkan perkataan Zeline yang ada benarnya. Selama beberapa tahun belakangan ini ia hanya berteman baik dengan Amara dan sangat jarang bepergian dengan orang lain selain Amara. Setelah Amara menikah nanti, Agatha pun membayangkan jika Amara akan sulit pergi bersamanya karena statusnya yang sudah menikah.


"Anty kan bisa pergi dengan teman wanita Anty yang lain. Gak harus bersama pasangan." Jawab Agatha setelah cukup lama terdiam.

__ADS_1


Si kecil Zeline mengerucutkan bibir. "Lebih enak punya Oom kaya Anty Mara, Anty. Bisa jagain Anty kaya Papah Zel jagain Mamah Zel."


Agatha tertegun mendengar perkataan Zeline yang sudah layaknya orang dewasa itu. "Sudahlah, anak kecil tahu apa sih." Ia mengusap rambut Zeline dengan gemas.


"Jangan diacak rambut Zel, Anty. Nanti kusut!" Protesnya.


"Biarkan saja. Itu hukuman karena kau sudah banyak bicara."


"Anty..." Zeline akhirnya merengek sebab Agatha tak kunjung menghentikan usapan tangannya di kepalanya.


Zeline menganggukkan kepala. "Ayuk Anty. Zel suka bantu-bantu gini!" Jawabnya semangat.


Agatha jadi tersenyum melihatnya. Kemudian ia bangkit dari posisi duduk dan mengangkat piring yang ada di atas meja menuju kamar mandi dimana saat ini para tetangga dan keluarga Naina sedang bekerja sama mencuci piring dan peralatan masak yang sudah selesai digunakan.


**

__ADS_1


Berita acara lamaran Aga dan Amara pun akhirnya sampai di telinga para karyawan yang bekerja di perusahaan Aga. Kedatangan Amara pagi itu pun disambut dengan ramah oleh para karyawan yang bertemu dengannya di lantai lobby.


Semuanya nampak menunduk seolah sangat menghargai Amara yang akan menjadi istri dari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.


Amara tentu saja merasa risih dengan sikap rekan kerjanya yang menurutnya sangat berlebihan. Ia tidak suka terlalu dihormati seperti saat ini.


"Mbak, bisakah bersikap seperti biasanya saja? Mara risih loh karna Mbak terlalu kaku seperti ini." Ucap Amara pada salah satu maneger di perusaahan Aga.


Wanita itu tersenyum. "Iya deh. Mbak kan hanya mau menghotmati calon istri dari pemilik perusahaan ini." Jawabnya.


Amara menggelengkan kepala kemudian mengingatkan kembali agar wanita itu bersikap seperti biasanya kepada dirinya.


Di tengah pembicaraannya dengan wanita itu, pandangan Amara tiba-tiba beralih pada sosok yang baru saja keluar dari dalam ruangan kamar mandi.


"Loh, itu kan Sisil." Ucap Amara menatap wanita yang kini memakai pakaian khusus cleaning service.

__ADS_1


***


__ADS_2