
Amara dibuat menghela napas panjang mendengar jawaban dari Zeline. "Terserah Zel saja. Kalau begitu Anty pergi dulu, ya. Pulang dari pasar malam Anty bawakan Zel dan adik Ziko jasuke." Ucap Amara.
Zeline hanya diam saja dengan bibir mengerucut tajam.
Tak ingin membuang waktu lama, Amara mengecup kening keponakannya lalu membawa Zeline keluar dari dalam rumah.
"Mara, kau ingin pergi dengan Rendra?" Tanya Naina yang baru saja masuk ke dalam rumah setelah menghampiri Rendra yang kini sedang berada di teras rumah bersama Daniel.
"Iya, Kak." Amara tersenyum.
"Berdua saja?" Tanya Naina lagi dan diangguki Amara sebagai jawaban.
Naina menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu pergilah. Hati-hati di jalan." Ucap Naina tak ingin banyak tanya lagi padahal ia sudah sangat penasaran kenapa Amara hanya pergi berdua dengan Rendra tanpa Agatha.
"Amara pergi dulu." Amara menyalimi Naina tak lupa memberikan ciuman di sebelah pipi Naina. Setelahnya Amara melakukan hal yang sama pada Zeline lalu melangkah keluar dari dalam rumah.
"Amara..." senyuman cerah di wajah Rendra menyambut kedatangan Amara.
Amara membalas senyuman Rendra.
__ADS_1
"Kak Daniel, Mara pergi dulu." Pamit Amara.
Daniel mengiyakannya. Ayah Arif yang baru keluar dari dalam rumah pun tersenyum pada Rendra yang kini berpamitan untuk pergi dengannya.
Setelah berpamitan pada keluarga Amara, Rendra pun mengajak Amara untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Kita langsung pergi ke pasar malam?" Tanya Amara.
"Ya. Atau mau pergi ke tempat lain dulu?" Tawar Rendra.
"Tidak. Langsung ke pasar malam saja."
Perjalanan menuju pasar malam dilewati Amara dan Rendra dengan saling bercerita satu sama lain. Amara menceritakan kegiatannya di kantor hari ini dan Rendra menceritakan kegiatannya di lokasi proyek.
"Kau hebat sekali. Baru selesai kuliah sudah dipercayakan memimpin perusahaan oleh orang tuamu." Puji Amara.
"Papa memberikan kepercayaan kepadaku karena saat kuliah di luar negeri aku juga ikut membantu mengelola perusahaan pusat di sana dan sudah mulai memahami secara keseluruhan tugas dan kewajiban sebagai pemimpin perusahaan."
Kedua kelopak Amara terbuka lebar mendengarkan penjelasan dari Rendra. Bagaimana tidak, ia pikir selama ini Rendra hanya fokus melanjutkan study di luar negeri namun ternyata Rendra juga fokus sambil bekerja.
__ADS_1
Tanpa terasa mobil milik Rendra telah sampai di dalam area parkiran pasar malam. Saat sudah keluar dari dalam mobil milik Rendra, pandangan Amara terpusat pada sebuah mobil yang tidak asing di matanya.
"Itu kan mobil Kak Aga. Apa Kak Aga juga berada di tempat ini saat ini?" Gumam Amara.
"Mara?" Rendra menegur Amara yang terlalu fokus menatap mobil milik Aga.
"Eh, iya." Amara tersenyum kaku.
"Ada apa?" Tanya Rendra.
"Tidak apa-apa. Ayo kita masuk!" Ajak Amara.
Rendra mengiyakannya lalu melangkah masuk ke area pasar malam yang nampak ramai dan terdengar berisik malam itu. Melihat banyaknya wahana yang bisa ia naiki di pasar malam membuat Amara langsung saja mengajak Rendra menuju salah satu stand untuk membeli tiket.
Dan tanpa diduga, sang pemilik mobil yang tadi Amara lihat ternyata juga berbaris di antara antrian orang-orang yang ingin membeli tiket.
"Amara?" Ucap Aga pelan menatap wajah Amara lalu menatap wajah Rendra.
Amara tak membalas sapaan Aga. Pandangannya kini terpusat pada Anjani yang tengah berdiri tak jauh dari Aga berada.
__ADS_1
***