Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Surat Peringatan


__ADS_3

"Permisi, Tuan. Saya mau melanjutkan pekerjaan saya kembali." Pamit Sisil hendak kembali masuk ke dalam kamar mandi. Ia tak sedikit pun mempermasalahkan Cakra yang tidak memberikan hukuman pada kedua rekan kerjanya padahal saat dirinya membuat kesalahan langsung diberi hukuman dengan dipecat.


Cakra menatapnya dengan wajah datar. Tanpa menjawab perkataan Sisil, Cakra berlalu begitu saja meninggalkan Sisil yang masih berdiri diam di posisinya.


**


Setelah selesai dengan urusannya di lantai delapan, Cakra segera kembali ke lantai teratas perusahaan dimana ruangan kerjanya berada. Sebelum masuk ke dalam ruangan kerjanya, Cakra memilih masuk ke dalam ruangan Aga memberitahukan pada Aga apa yang sudah terjadi pada Sisil tadi.


"Kenapa kau tidak membelanya?" Tanya Aga memastikan walau dirinya sudah mengetahui alasan Cakra tak ingin membela Sisil.


"Karena saya tidak mau membuat Nona Sisil jadi merasa besar kepala, Tuan." Jawab Cakra.


Aga menganggukkan kepalanya. Ternyata apa yang ia pikirkan sama dengan jawaban yang Cakra berikan. Di masa hukuman Sisil seperti saat ini, tidak diharuskan rasanya jika Cakra membelanya. Sebab, dikhawatirkan Sisil akan jadi besar kepala dan tidak menyadari kesalahannya. Anggap lah saat ini Sisil tengah merasakan sanksi sosial atas perbuatan yang sudah dilakukannya pada Amara.

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu untuk selanjutnya kau sudau tahu apa tugasmu bukan?" Tanya Aga mengingat Cakra belum memberikan hukuman pada kedua wanita yang sudah membuli Sisil.


Cakra menganggukkan kepalanya. "Saya akan menghubungi HRD untuk membuatkan surat peringatan untuk mereka, Tuan."


Aga mengangguk. "Sekarang kembalilah ke ruangan kerjamu." Jawab Aga.


"Baik, Tuan." Cakra segera melangkahkan kaki meninggalkan ruangan kerja Aga setelah menjawab perkataan Aga.


**


"Kalian ini sepertinya tidak bisa menggunakan kuping dengan benar agar tidak melakukan lagi pembulian di perusahaan ini!" Sang ketua HRD menggelengkan kepalanya menatap kedua wanita yang kini sedang tertunduk dengan wajah pucat pasih sambil membaca surat peringatan untuk mereka.


"Sudah jelas beberapa waktu yang lalu Tuan Aga memberikan peringatan agar tidak terjadi lagi pembulian di perusahaan ini, tapi kalian tetap melakukannya!" Lanjutnya dengan keras.

__ADS_1


Kedua wanita itu saling menyenggol. Tidak menyangka jika aksi mereka tadi mendapatkan surat peringatan seperti saat ini. Padahal tadi, mereka sudah merasa lega sebab Cakra tidak mempermasalahkan sikap mereka pada Sisil.


"Kami mana tahu kalau Tuan Cakra akan datang ke lantai ini, Mbak." Salah satu wanita itu menjawab berniat untuk membela diri.


Jawaban yang ia berikan pun lantas saja membuat kepala HRD tersebut menggeleng. "Mau tahu atau pun tidak, tidak seharusnya kalian melakukan itu pada Sisil. Sudah tahu peraturan di perusahaan semakin ketat. Masih saja membuat masalah. Jika kalian masih mau bekerja di sini, maka rubahlah sikap kalian itu karena saya tidak bisa menjamin hukuman apa yang akan diberikan Tuan Aga selanjutnya pada kalian jika kalian tak kunjung berubah juga!"


Kedua wanita itu mengangguk.


Setelah melihat respon dari keduanya, ketua HRD pun memilih pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Sudah tahu cari pekerjaan susah saat ini. Tapi masih saja membuat masalah." Kepala HRD tersebut kembali menggeleng. Merasa tak habis pikir dengan jalan pemikiran kedua wanita itu.


***

__ADS_1


__ADS_2