
Hujan masih terdengar mengguyur ibu kota saat Cakra telah berada di dalam apartemennya. Cakra yang merasa sudah lelah tapi tubuhnya terasa basah akibat terkena air hujan memilih langsung membersihkan tubuhnya tanpa istirahat lebih dulu.
Setelah membersihkan tubuh dan memakai pakaian, Cakra memilih berdiri di depan jendela menatap derasnya air hujan yang turun membasahi bumi.
"Hujannya awet sekali." Gumamnya. Jika prediksinya tidak salah, sepertinya hujan baru berhenti tengah malam atau keesokan harinya seperti yang terjadi beberapa waktu lalu.
Cakra segera menutup gorden jendela kamar setelah merasa cukup puas melihat ke arah luar jendela. Kaki jenjangnya pun melangkah ke arah ranjang kemudian menjatuhkan tubuh lelahnya di sana.
"Untung saja tidak ada pekerjaan yang aku bawa pulang sehingga aku bisa tidur lebih awal malam ini." Gumamnya. Sambil berbaring di atas ranjang, Cakra memainkan ponselnya melihat beberapa pesan yang masuk ke dalam aplikasi pesannya.
Cukup lama Cakra memainkan ponsel hingga akhirnya kedua matanya terasa lelah menatap ke layar ponsel.
Saat ia baru saja meletakkan ponselnya di atas nakas dan berniat untuk memejamkan kedua kelopak matanya, tiba-tiba saja bayangan Sisil yang sedang kedinginan menunggu bus di halte pun terlintas di benaknya hingga membuat kedua kelopak mata Cakra yang hendak terpejam jadi terbuka kembali.
__ADS_1
"Kenapa aku jadi memikirkannya, sih?" Rutuk Cakra. Perkataan Sisil yang ingin pergi ke rumah sakit malam ini untuk menjaga ibunya pun terngiang di telinga Cakra.
"Bagaimana caranya dia pergi ke rumah sakit jika cuaca masih hujan seperti saat ini. Walau pun dia memaksa pergi menggunakan ojek online, pasti tubuhnya jadi basah. Dan apa ada ojek yang mau membawanya dalam situasi hujan deras begini?" Gumam Cakra.
Satu-satunya transportasi yang mungkin digunakan Sisil untuk pergi ke rumah sakit pasti hanyalah ojek mengingat tadi uang yang Sisil punya hanya selembar uang bewarna hijau.
"Dipikir-pikir kok jadi kepikiran sih!" Cakra kembali merutuki pemikirannya tentang Sisil saat ini. Selama hampir tiga puluh tahun hidup, tak pernah sekali pun ia mengkhawatirkan seseorang yang bukan bagian dari keluarga dan teman dekatnya.
Kini, hanya karena seorang Sisil yang notabenenya bukan siapa-siapa untuknya, Cakra jadi memikirkannya seperti ini.
Walau sebisa mungkin tidak memperdulikan Sisil yang ingin pergi ke rumah sakit, tapi pada akhirnya Cakra kalah dengan hati nuraninya sendiri yang meminta dirinya untuk memastikan kepergian Sisil dengan menghampiri kediaman Sisil kembali.
Dan di sini lah Cakra berada saat ini. Di depan kediaman Sisil yang nampak sepi namun lampu di dalam rumah nampak masih hidup.
__ADS_1
"Sepertinya dia belum pergi." Gumam Cakra. Karena jika Sisil sudah pergi meninggalkan kediamannya, pastilah wanita itu mematikan lampu dalam rumahnya.
Tanpa memperdulikan akal sehatnya yang memintanya untuk pergi meninggalkan rumah tersebut, Cakra segera keluar dari dalam mobil dengan menggunakan payung untuk melindungi kepala dan tubuhnya dari air hujan.
Tok
Tok
Cakra yang sudah berada di depan rumah Sisil mengetuk pintu kayu bewarna coklat yang nampak tertutup rapat.
Tak menunggu waktu lama, pintu yang awalnya tertutup rapat itu pun terbuka dan menampakkan wajah cantik Sisil di sana.
"Tuan Cakra?" Kedua mata bulat Sisil membola sempurna melihat sosok yang berdiri di depan rumahnya saat ini.
__ADS_1
***