Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Jangan Menyalahkannya


__ADS_3

"Apa?" Amara terkejut. Kedua bola matanya membola mendengar perkataan Cakra. "Kak Aga masuk rumah sakit?" Ulang Amara tanpa menggunakan embel-embel Tuan untuk memanggil nama Aga.


"Iya, Mara."


Amara terkesiap. Kemarin ia memang melihat wajah Aga yang nampak pucat seperti orang tidak sehat. Namun Amara tidak menyangka jika Aga sampai masuk ke dalam rumah sakit seperti ini.


"Maaf, Mara. Saya berangkat ke rumah sakit dulu." Pakit Cakra tak ingin membuang waktu lama karena kedatangannya sudah ditunggu oleh Tuan Andrew di rumah sakit.


Amara mengangguk tanpa suara. Lidahnya terasa kelu ingin mengucapkan sepatah kata.


Cakra segera berlalu dari hadapan Amara dengan langkah tergesa-gesa.


Amara hanya bisa menatap kepergian Cakra dengan tatapan tak terbaca.


"Kak Aga masuk rumah sakit? Tapi kenapa tidak ada yang memberitahukan hal ini kepadaku termasuk Agatha?" Lirih Amara. Entah mengapa Amara merasa hatinya menjadi tidak tenang setelah mengetahui keadaan Aga saat ini. "Kak Aga, semoga Kakak baik-baik saja."


*

__ADS_1


Dua puluh lima menit berlalu, Cakra telah tiba di rumah sakit tempat Aga dirawat. Kedatangannya pun disambut dengan tatapan dingin di wajah Daniel. Cakra yang mengerti arti tatapan Daniel menunduk merasa bersalah.


"Duduklah," ucap Tuan Andrew meminta Cakra menunggu di kursi tunggu.


Cakra mengangguk tanpa suara. Daniel yang melihatnya masih memasang wajah datar tanpa ekspresi.


"Daniel, kau juga duduklah." Titah Tuan Andrew karena sejak beberapa saat yang lalu Daniel hanya berdiri di sebelah pintu ruangan Aga.


Daniel mengiyakannya lalu duduk di kursi tunggu yang berada di sebelah Tuan Andrew.


Cakra mengangkat kepala menatap wajah Papa Andrew. "Maafkan saya, Tuan. Seharusnya saya bisa lebih tegas menolak permintaan Tuan Aga untuk lembur beberapa hari ini."


"Tidak perlu meminta maaf. Sudah saya katakan saya tidak menyalahkanmu."


Cakra mengangguk tanpa suara.


"Cakra, kau tahu bukan jika Aga adalah pewaris pertama perusahaan milik keluarga Tuan Andrew. Sebagai seorang asisten, kau seharusnya tahu bagaimana caranya menjaga Aga sebagai pewaris pertama agar tetap sehat." Ucap Daniel dingin. Awalnya ia tidak ingin menyalahkan Cakra, namun setelah mendengar penjelasan dari dokter tentang kondiai kesehatan Aga membuat Daniel menjadi kecewa pada kinerja Cakra.

__ADS_1


"Maafkan saya, Tuan. Saya akan berusaha semaksimal mungkin agar hal ini tidak terjadi lagi."


"Sayang..." suara Naina terdengar mendayu memanggil nama suaminya. Ia baru saja keluar dari dalam ruangan rawat Aga dan sedikit mendengar percakapan Daniel dan Cakra. 


Daniel menoleh menatap wajah istrinya dengan senyum. Raut dinginnya tadi saat menatap Cakra sudah lenyap begitu saja.


"Jangan menyalahkan Cakra, dia tidak bersalah. Cakra hanya lah asisten yang berusaha untuk turut denga perintah atasannya" Naina memperingati.


Daniel mengangguk paham. "Aku hanya ingin memberikan nasihat kepadanya agar kejadian ini tidak terulang kembali." Jelas Daniel.


Pandangan Naina beralih pada Cakra. Pria itu nampak tersenyum menatap wajahnya.


"Cakra, sekarang masuk lah ke dalam. Kak Aga mencari keberadaanmu. Sepertinya ada yang ingin ia bicarakan." Ucap Naina mengingat pesan Aga sebelum ia keluar dari dalam ruangan kerja Aga.


"Baik, Nona." Jawab Cakra lalu meminta persetujuan pada Tuan Andrew. Setelah mendapatkan anggukan kepala dari Tuan Andrew, Cakra pun melangkah masuk ke dalam ruangan perawatan.


***

__ADS_1


__ADS_2