Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Ternyata Cakra


__ADS_3

Aga memperhatikan sekitarnya. Cakra belum terlihat menampakkan diri. Sepertinya asistennya itu sedang berada di dalam kamar mandi saat ini. Entah mengapa rasa penasaran Aga terasa sangat besar setelah melihat surat dari rumah sakit.


Tanpa membuang waktu lama, Aga segera meraih kertas tersebut dan membaca isinya. Dahi Aga seketika mengkerut membaca surat tersebut yang ternyata adalah surat keterangan pelunasan biaya pengobatan di rumah sakit dan pelunasan jaminan kesehatan.


Aga memicingkan kedua kelopak matanya. Entah mengapa ia merasa ada yang tidak beres di sini. Aga segera meletakkan kembali dua buah kertas yang tadi diambilnya di atas meja dan menjauhkan tubuh dari meja Cakra saat mendengar suara pintu kamar pribadi Cakra terbuka dari dalam.


"Tuan Aga?" Wajah Cakra terlihat terkejut melihat Aga kini berada di dalam ruangan kerjanya.


Aga menatap datar wajah asistennya itu. Ada sebuah pertanyaan besar yang kini bersarang di kepalanya namun Aga memilih tidak mempertanyakannya.


Cakra mempercepat langkahnya menuju meja kerjanya. Gerak-geriknya saat ini terlihat sangat mencurigakan di mata Aga yang terus memperhatikannya. Terlebih saat ini, Cakra terlihat meraih surat yang tadi sudah sempat ia baca dan menyimpannya di laci meja.


"Saya ingin menyerahkan berkas-berkas itu kepadamu." Ucap Aga seraya menunjuk berkas yang sudah ia letakkan di atas meja Cakra dengan lirikan matanya.


Cakra melihat berkas yang Aga maksud. Posisi berkas tersebut berada tidak terlalu jauh dari surat dari rumah sakit yang tadi belum sempat ia simpan di laci mejanya. Hati Cakra mulai tidak tenang. Ia tengah berpikir keras apakah Aga sudah membaca surat tersebut atau tidak.

__ADS_1


"Tolong diperiksa karena saya dan Amara ada urusan di KUA hari ini." Pesan Aga.


Cakra menganggukkan kepalanya. "Baik, Tuan. Saya akan memeriksanya setelah ini." Jawabnya tenang.


"Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu." Setelah berucap, Aga langsung saja melangkah keluar dari dalam ruangan Cakra tanpa menunjukkan gerak-gerik yang mencurigakan.


Melihat sikap Aga tadi, membuat Cakra berpikir ulang jika Aga belum sempat melihat surat yang berada di atas meja kerjanya. Karena jika itu benar terjadi, Aga pasti mempertanyakannya kepadanya.


"Syukurlah kalau Tuan Aga tidak membaca suratnya." Cakra mengusap dada merasa lega tanpa mengetahui fakta jika sebenarnya Aga sudah membaca surat tersebut sampai habis.


**


**


"Mara, apa kau mengetahui nama ibu Sisil?" Tanya Aga membuka percakapan di antara mereka.

__ADS_1


"Tahu, namanya ibu Linda, Kak." Jawab Amara.


Aga tertegun. Ternyata dugaannya benar jika surat yang berada di atas meja Cakra tadi adalah surat pelunasan biaya rumah sakit dan jaminan kesehatan Ibu Sisil yang bernama Linda.


"Ada apa, Kak. Kenapa Kakak bertanya nama Ibu Sisil? Apa Kakak ada urusan dengannya?" Tanya Amara.


Aga menggelengkan kepalanya. "Enggak. Hanya saja tadi aku menemukan surat dari rumah sakit tempat ibu Sisil dirawat di atas meja kerja Cakra."


"Apa? Maksud Kakak bagaimana?" Tanya Amara merasa belum paham.


Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Amara, Aga lantas saja menceritakan apa yang ia lihat tadi di ruangan kerja Cakra berikut dengan isi kedua surat tersebut. Mendengar penjelasan dari Cakra, tentu saja membuat Amara terkejut karena ternyata orang baik yang sudah membantu biaya pengobatan Ibu Linda adalah Cakra.


"Tapi... bagaimana bisa?" Lirih Amara merasa tak percaya.


***

__ADS_1


__ADS_2