
"Husst..." Naina menaruh jari telunjuk di atas bibir. Memberikan peringatan pada Amara lewat lirikan matanya jika Zeline sedang memasang kuping mendengar pembicaraan mereka saat ini.
Menyadari jika keponakan centilnya berada di dekat mereka saat ini, Amara pun mengulum senyum.
"Mamah, apa maksud Anty tadi bilang Om Aga datang melamar dua kali ke sini?" Tanya Zeline penasaran sebab Amara menghentikan percakapannya dengan Naina saat dirinya belum menangkap maksud perkataan Amara.
"Tidak ada maksud apa-apa, Sayang. Anty hanya bercanda saja."
Zeline nampak tak percaya. Namun Naina kembali meyakinkan putri kecilnya itu jika apa yang ia katakan benar adanya.
Agar mengalihkan pemikiran Zeline tentang lamaran Aga untuk yang kedua kalinya, Amara pun mengalihkan pembicaraan ke hal lain dengan memberitahu Zeline jika Divan dan Arthur akan datang bersama rombongan keluarga Aga ke rumah mereka sebentar lagi.
Lantas saja informasi yang Amara sampaikan tersebut langsung mengalihkan pemikiran Zeline dari Aga kepada dua sosok pria tampan yang sangat disukainya.
"Apa, Divan dan Arthur akan bermain ke sini." Zeline sudah memasang wajah malu-malu mengingat wajah kedua pria tersebut. "Asyiknya... Zel bisa cantik-cantik nih depan mereka." Lanjutnya menirukan gaya Amara saat berbicara jika Aga akan datang ke rumah mereka.
"Astaga centil..." Amara melototkan kedua matanya kepada keponakannya yang sudah kelewatan centil itu. "Mereka itu bukan mau bermain ke sini. Dan satu lagi, acara hari ini dilangsungkan bukan buat dirimu agar bisa tebar pesona pada kedua adikmu itu!" Protes Amara.
__ADS_1
"Napa Anty tuh, marah-marah saja!" Zeline mendekap kedua tangannya kemudian mengalihkan pandangan ke arah samping.
Amara jadi dibuat semakin gemas melihatnya. Ia sampai mencubit kedua pipi Zeline hingga membuat keponakannya itu mengaduh.
"Mamah, Anty jahat pada Zel." Adu Zeline dengan merengek.
"Amara..." Naina menggelengkan kepala. "Jangan menjahili keponakanmu terus."
"Iya, Anty jangan jahil terus pada Zel." Timpal Zeline.
Tak ingin berdebat, Amara memilih mengangguk saja. Namun setelah acara ini Amara berjanji dalam hati akan memberi pelajaran pada Zel dengan menggelitiknya hingga Zel meminta ampun.
**
"Mamah... Anty..." kedatangan Ziko ke dalam kamar Amara mengagetkan Amara dan Naina yang kini sedang bercerita tentang berkas apa saja yang perlu dipersiapkan untuk melangsungkan pernikahan.
"Ziko!" Amara melototkan kedua matanya. Jika Ziko sudah berada di kediamannya saat ini, itu berarti Aga dan rombongannya sudah sampai di rumahnya.
__ADS_1
"Papah dan Om Aga di depan, Mah." Beri tahu Ziko menyampaikan pesan Daniel kepadanya tadi.
"Apa?" Amara berucap lirih. Jantungnya mulai berdegup tak karuan membayangkan wajah sang pujaan hati yang akan ia lihat sebentar lagi.
"Amara, Naina, ayo keluar. Aga dan keluarganya sudah datang." Ucap Tante Ajeng di depan pintu kamar.
Naina mengangguk kemudian mengalihkan pandangan pada wajah Amara yang nampak tegang karena gugup.
"Ayo Amara kita keluar." Ajak Naina.
Amara mengangguk mengiyakannya. Degub jantungnya semakin tak karuan saat mendengar suara Aga dan Daniel dari arah ruang tengah rumahnya.
"Astaga... kenapa rasanya jadi gugup begini." Amara menggosok kedua telapak tangannya yang terasa dingin.
Naina yang melihat Amara semakin gugup pun mencoba menenangkannya dengan mengusap punggung Amara. "Jangan gugup, ayo kita temui calon suamimu." Ajaknya lagi dengan lembut.
***
__ADS_1