Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

"Bagaimana?" Aga kembali bertanya karena Amara hanya diam saja.


"Boleh, Kak." Jawab Amara.


Aga menarik sebelah sudut bibir setelah mendapatkan persetujuan dari Amara. "Baiklah, kalau begitu aku pesan dulu tiketnya." Aga segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Membuka aplikasi tix id untuk memesan tiket secara online. Sebelum menentukan pilihan pada film yang akan ditonton mereka, Aga memilih meminta pendapat dari Amara lebih dulu.


"Nonton yang ini saja, Kak!" Amara menunjuk pada cover salah satu film bergenre horor.


Sebelah sudut bibir Aga kembali tertarik mendengar saran Amara yang ternyata sejalan dengan pemikirannya. "Yakin mau yang ini saja?" Tanyanya sebelum memesan kursi.


Amara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Baiklah." Aga segera memilih kursi yang akan mereka duduki nanti. Dan tentunya pilihan kursi tersebut ia serahkan kepada Amara.


Setelah memesan tiket secara online, Aga pun mengajak Amara untuk berjalan-jalan di dalam mall sambil menunggu jadwal film mereka tiba.


"Yakin tidak mau makan lebih dulu?" Aga memastikan kembali sebelum mereka pergi ke bioskop untuk menonton film.


"Aku yakin, Kak. Makannya setelah nonton saja. Kebetulan aku masih kenyang."

__ADS_1


Aga mengangguk saja mengiyakan perkataan Amara. Keduanya terus berjalan beriringan menuju lokasi bioskop berada.


Untuk menemani waktu mereka selama menonton film, Aga memilih memesan popcor dan minuman lebih dulu sebelum masuk ke studio. Amara pun memilih menunggu Aga yang sedang mengantri membeli popcorn di kursi tunggu.


"Amara?" Seorang wanita yang sangat dikenali Amara datang menghampiri Amara.


"Ulva," Amara terkesiap menatap salah satu maneger di perusahaan Aga berada di tempat yang sama dengannya.


"Kau di sini juga. Dengan siapa kau datang ke sini Amara, apa hanya sendiri saja?" Wanita bernama Ulva itu mengedarkan pandangan mencari teman Amara.


"Emh..." Amara menggaruk kepalanya yang tak gatal. Merasa bingung harus menjawab apa. Rasanya ia tak enak jika menyebut datang bersama Aga mengingat Ulva juga menaruh hati pada Aga.


"Tuan Aga?" Kedua kelopak mata Ulva terbuka lebar. Menatap pujaan hatinya berada di tempat yang sama dengannya.


Aga hanya menatap datar wajah Ulva yang nampak terkejut melihat keberadaannya.


Ulva menatap Aga dan Amara secara bergantian. "Apa kau datang ke sini bersama Tuan Aga, Mara?" Tanya Ulva memastikan. Sebab, ia mendengar dengan jelas saat Aga memanggil nama Amara.


"Ya, Amara datang ke sini dengan saya." Sahut Aga.

__ADS_1


Ulva terkesiap. Ulu hatinya terasa nyeri mendengar pria pujaan hatinya tengah berkencan dengan wanita yang sangat dikenalinya.


Amara menatap wajah Ulva dengan raut wajah tak enak hati. Amara dapat merasakan bagaimana perasaan Ulva saat ini setelah mendengar jawaban Aga.


"Amara, ayo pergi. Filmnya sudah mau dimulai sebentar lagi." Ajak Aga yang kini sudah memegang popcorn dan minuman di tangannya.


Amara menganggukkan kepalanya. "Ulva, kalau begitu aku duluan, ya." Pamit Amara.


Ulva menganggukkan kepalanya. Kemudian tersenyum kaku pada Aga.


Amara dan Aga pun segera melangkah meninggal Ulva yang nampak termenung di tempatnya berdiri.


"Ada hubungan apa Amara dan Tuan Aga. Kenapa mereka seperti pasangan yang sedang berkencan?" Cicit Ulva merasa patah hati. Ulva pun mengarahkan pandangan pada Aga dan Amara yang kini tengah berjalan ke arah studio berada dengan posisi tangan Aga mengusap kepala Amara.


"Oh, tidak..." dugaan Ulva tentang hubungan di antara Amara dan Aga pun diperkuat melihat usapan tangan Aga di kepala Amara saat ini.


***


Sebelum lanjut, jangan lupa like, komen, gift dan votenya dulu ya. Dan jangan lupa follow instagram @shy1210 untuk seputar info karya shy. Terima kasih🪴

__ADS_1


__ADS_2