
Perasaan Rendra dibuat tidak tenang setelah mengetahui wanita yang dicintainya akan menikah dengan seorang pria yang cukup dikenalinya. Beberapa pertanyaan terus berkeliaran di dalam benak Rendra. Bagaimana bisa Amara mau menikah dengan Aga dan sejak kapan mereka dekat mengingat hubungan dirinya dan Amara baru saja kandas beberapa bulan yang lalu akibat pernikahannya dan Okta.
"Mara, apa semudah itu kau melupakan aku?" Lirih Rendra. Pria itu menjatuhkan wajah di atas stir yang ia pegang. Ingatannya tertuju pada kebersamaannya dan Amara yang terjalin sangat manis dalam waktu beberapa bulan.
"Sampai saat ini aku masih sulit untuk melupakanmu Amara. Tidak bisa aku pungkiri jika kau masih jadi pemenang di dalam hatiku." Lirih Rendra.
Bukannya berniat untuk menjadi pria jahat dengan mencintai wanita lain di saat dirinya sudah memiliki seorang istri. Hanya saja sampai saat ini Rendra tak bisa mendustai hati jika dirinya masih mencintai Amara walau sudah bersusah payah belajar menerima dan mencintai istrinya.
Di saat pemikirannya terus tertuju pada Amara, di saat yang sama, Rendra pun teringat dengan sosok istrinya yang mungkin saat ini tengah menunggunya pulang di rumah.
"Okta, maafkan aku karena belum bisa mencintaimu dan masih mencintai Amara." Ucapnya merasa bersalah pada wanita yang sudah tulus menerima kehadirannya sedangkan dirinya tidak demikian.
**
Dua minggu telah berlalu sejak kepergian Aga keluar negeri, namun sampai saat ini belum ada kabar pasti kapan Aga akan kembali ke tanah air. Tidak mendapatkan kepastian dari Aga kapan pria itu akan kembali lantas saja membuat Amara merasa gundah dan gelisah sebab memikirkan hal buruk jika saja Aga diharuskan menetap di sana dalam waktu lama.
Untuk menghilangkan rasa gelisah yang terus mengampiri Amara beberapa hari belakangan ini, Amara memilih berkunjung ke kediaman kakaknya. Berharap dengan bermain di sana dapat menghilangkan segala pemikirannya tentang Aga.
__ADS_1
"Masih galau juga?" Tanya Naina pada adiknya yang nampak murung sambil menatap Zeline dan Ziko yang sedang bermain di taman samping rumahnya.
"Kak Nai..." Amara tersenyum menyambut kedatangan Naina.
Naina mengusap rambut adiknya itu. "Tidak perlu cemas begitu, Mara. Kak Aga pasti pulang." Ucap Naina menenangkan.
Amara menganggukkan kepalanya. "Iya, Kak. Mara hanya rindu saja pada Kak Aga."
Naina tersenyum kemudian menjatuhkan bokong di kursi kosong di sebelah Amara.
Amara menggelengkan kepala. "Bagaimana Mara bisa menelefon Kak Aga, Kak. Sejak kemarin saja nomer telefon Kak Aga tidak aktif. Sepertinya dia sangat sibuk." Beri tahu Amara.
"Begitu, ya?" Tanya Naina sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Iya..." lirih Amara.
Naina mengulum senyum menyembunyikan smirk yang tercetak di sudut bibir. "Kalau begitu coba saja lagi nanti. Mana tahu nomer telefon Kak Aga sudah aktif."
__ADS_1
Amara mengangguk pelan tak bersemangat.
"Oh ya, Amara, Kakak titip Zel dan Ziko dulu, ya. Kakak mau ke dapur membuatkan makan siang untukmu dan anak-anak."
Amara kembali mengangguk pelan.
Naina tersenyum kemudian beranjak pergi meninggalkan Amara yang kembali termenung memikirkan Aga.
"Kenapa Kak Aga lama sekali pulang. Apa Kak Aga tidak rindu pada aku, ya?" Lirih Amara dengan wajah semakin sendu.
"Siapa bilang jika aku tidak merindukanmu?" Sahut seseorang dari arah belakang Amara.
Deg
Suara itu...
***
__ADS_1