Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Maksud Terselubung?


__ADS_3

Kedatangan seorang perawat yang ditugaskan untuk mengantarkan kepulangan Bu Linda sampai ke lobby menghentikan percakapan di antara Cakra, Sisil dan Bu Ningsih.


"Sudah siap untuk pulang, Ibu?" Perawat tersebut tersenyum ramah pada Bu Linda yang sudah terlihat lebih segar dari beberapa waktu sebelumnya.


"Sangat siap, Sus." Jawab Bu Linda semangat sebab hal yang ditunggunya selama ini adalah kembali pulang ke rumahnya bersama Sisil.


Perawat tersenyum kemudian meminta Bu Linda turun dari atas ranjang dan duduk di atas kursi roda yang ia bawa.


Mengerti jika sudah saatnya sang ibu meninggalkan ruangan perawatan, Sisil segera mengambil tas miliknya dan ibunya yang masih berada di dalam ruangan tersebut.


"Biar aku saja yang membawanya," tanpa menunggu jawaban dari Sisil, Cakra segera mengambil alih tas yang dipegang oleh Sisil saat ini.


Sisil yang ingin menolak jadi mengurungkan niatnya tat kala melihat tatapan tak bersahabat Cakra.


"Baiklah," gumamnya membiarkan Cakra yang memegang tas miliknya dan ibunya.


Sisil dan Cakra akhirnya keluar dari dalam ruangan perawatan mengikuti langkah perawat yang sedang mendorong kursi roda.


Setelah mereka tiba di lantai lobby, Cakra segera berpamitan untuk mengambil mobilnya dan meminta Sisil dan ibunya untuk menunggu.

__ADS_1


"Sisil, Nak Cakra itu kelihatannya baik sekali, ya." Ucap Bu Linda.


Sisil menganggukkan kepalanya. "Iya, Bu." Jawabnya singkat. "Selain baik, dia juga aneh, Bu." Lanjut Sisil dalam hati.


Tak lama menunggu, mobil milik Cakra nampak sudah berhenti di depan pintu lobby. Seorang security yang bertugas segera membantu Bu Linda untuk masuk ke dalam mobil milik Cakra.


Sementara Cakra dan Sisil memasukkan barang-barang ke dalam mobil milik Cakra.


"Mau kemana?" Cakra menahan pergerakan Sisil saat Sisil hendak membuka pintu belakang mobil.


"Mau masuk ke dalam mobil, Tuan." Jawab Sisil seadanya.


"Tapi..." Sisil yang ingin protes mengurungkan niatnya saat melihat kedua mata Cakra sudah melotot seakan ingin keluar dari dalam wadahnya. "Baiklah," putusnya kemudian masuk ke kursi depan.


Bu Linda yang melihat interaksi antara keduanya tersenyum sambil berucap dalam hati.


"Nak Cakra kelihatannya memang baik. Beruntung sekali Sisil memiliki atasan sebaik dirinya."


**

__ADS_1


**


Setelah mengantarkan Sisil dan Ibunya sampai di kediaman mereka, Cakra memilih untuk langsung berpamitan pulang. Ia tidak bisa singgah di kediaman Bu Linda dan Sisil mengingat malam ini sudah ada janji yang ia buat untuk datang ke kediaman kedua orang tuanya.


Bu Linda yang sangat menginginkan Cakra untuk mampir lebih dulu pun hanya bisa pasrah menghargai keputusan Cakra saat menyebutkan alasannya tak bisa singgah.


"Sayang sekali, padahal Ibu ingin mengajaknya makan bersama di sini lebih dulu, Sisil." Ungkap Bu Linda.


Sisil mengusap lengan ibunya itu. "Tidak enak Bu kalau mau mengajak Tuan Cakra makan di sini. Apa lagi Sisil hanya berniat membelikan lauk seadanya saja untuk makan kita."


Bu Linda menganggukkan kepalanya. "Iya juga, ya. Orang kaya seperti Nak Cakra pasti tidak terbiasa makan makanan seperti makanan kita."


Kali ini Sisil mengangguk membenarkan perkataan ibunya. Tak ingin sang ibu kembali membahas Cakra, Sisil segera membawa ibunya untuk masuk ke dalam kamarnya lalu setelahnya membeli makanan di ampera yang berada dekat dengan rumahnya.


Sementara Cakra yang tengah berada di dalam perjalanan pulang saat ini tengah berpikir tentang tujuan ibunya memintanya datang ke rumah mereka malam ini.


"Tumben sekali Mama memaksaku datang begini. Seperti ada maksud terselubung saja." Gumam Cakra.


***

__ADS_1


__ADS_2