Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Hari Pernikahan


__ADS_3

Setelah melewati banyaknya ujian menjelang pernikahan, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu Aga dan Amara tiba. Hari itu, di salah satu hotel ternama di kotanya, Amara dan Aga nampak sudah duduk berhadapan dengan penghulu untuk melakukan ijab qabul yang akan dilaksanakan sebentar lagi.


Naina, Daniel, Agatha beserta keluarga besar mereka yang lainnya nampak menanti dengan harap-harap cemas acara ijab qabul yang akan digelar sebentar lagi. Ayah Arif yang kini sudah duduk di hadapan Aga pun nampak menghela napas beberapa kali sebelum menikahkan Aga dengan putri bungsunya.


Acara sakral pun akhirnya dimulai. Setelah dipandu oleh penghulu untuk mengucapkan kalimat akad, akhirnya Ayah Arif dan Aga berjabat tangan untuk melakukan prosesi akad nikah. Dengan suara lantang Aga menjawab ucapan Ayah Arif menerima nikahnya Amara menjadi istrinya.


Sah


Suasana haru menyelimuti ballroom hotel setelah Aga dan Amara resmi ditetapkan sebagai sepasang suami istri. Amara yang duduk di sebelah Aga tak dapat membendung tangisannya karena kini ia sudah sah menjadi seorang istri dari Aga. Hal yang pernah Amara impikan selama ini menjadi seorang istri dari pria yang dicintainya akhirnya terwujud. Rasa sakit yang sempat ia rasakan karena penolakan dari Aga kini terbayar lunas.


Naina, Agatha dan Ibu Fatma pun tak dapat membendung tangisannya. Ketiganya menangis haru melihat Aga dan Amara yang kini sudah sah menjadi sepasang suami istri.


"Selamat Amara, akhirnya kau sah juga menjadi istri dari kakakku." Ucap Agatha sambil memeluk tubuh Amara.

__ADS_1


"Terima kasih, Gatha." Air mata Amara kembali mengalir mengalir melihat sahabat baiknya yang tengah menangis.


"Hua..." si centil Zeline akhirnya ikut menangis melihat semua keluarganya menangis. Mendengar suara tangisannya yang terdengar cukup keras, akhirnya membuat Farhan dan Fahri mendekatinya dan memintanya untuk diam.


"Diamlah, Zel. Kau itu tidak diajak untuk menangis." Celetuk Farhan.


"Benar. Kau itu tidak diajak. Jadi diam saja. Dasar air mata buaya." Timpal Fahri.


Bukannya berhenti menangis, Zeline justru semakin menangis dengan keras sebab Farhan dan Fahri berani mengejek dirinya.


Si centil Zeline pun memilih pergi mendekati sang papa dari pada diledek kembali oleh sepupunya.


"Anty..." si centil Zeline yang kini sudah berdiri di sebelah sang papa menatap wajah Amara dengan berkaca-kaca.

__ADS_1


Melihat keponakannya yang tengah menahan tangis membuat Amara meminta Zeline mendekat kepadanya. "Ada apa, kenapa kau jadi ikut menangis?" Tanya Amara sambil mengusap kepala Zeline.


"Zel sedih, Anty. Sekarang Anty dah nikah sama Om Aga. Zel udah gak bisa lagi deh bobo sama Anty." Ungkapnya.


Agatha yang berdiri di sebelah Amara melototkan kedua matanya. "Kenapa kau jadi membahas hal ini lagi, centil. Jika kau tidur bersama Anty Mara, lalu bagaimana caranya kau bisa punya adik lagi." Jawab Agatha.


Zeline mengerutkan dahi merasa bingung dengan perkataan Agatha. Sesaat kemudian ia pun mengangguk mengerti dengan maksud perkataan Agatha dan menghentikan tangisannya.


Setelah drama kecil itu selesai, Aga dan Amara pun diminta untuk melakukan sesi foto berdua kemudian bersama keluarga.


"Apa kau bahagia, Sayang?" Bisik Aga lembut di telinga Amara setelah selesai melakukan sesi foto bersama keluarganya.


"Sa-sayang..." Amara tergugu. Bulu kuduknya terasa merinding mendengar kata sayang yang keluar dari mulut pria yang sudah sah menjadi suaminya.

__ADS_1


***


__ADS_2