Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Jujurlah Kak Aga


__ADS_3

Aga yang mengerti maksud perkataan Papa Alex pun hanya diam lalu mengalihkan pandangan pada Amara yang nampak memasang wajah tenang seakan tak terganggu dengan perkataan Papa Alex.


Pembicaraan mereka malam itu pun akhirnya beralih pada tumbuh kembang keempat cucu Papa Alexander. Jika membahas tentang tingkah laku keempat cucu Papa Alexander sudah dapat dipastikan jika anggota keluarga yang berkumpul pasti tertawa. Terlebih dengan sikap si centil Zeline yang selalu ada-ada saja setiap harinya.


"Naina, apa kau tidak berniat menambah adik untuk Zeline? Sepertinya Zel masih cocok jika diberikan seorang adik." Ucap Mama Hasna lembut.


Naina tersenyum lalu menatap pada Daniel meminta Daniel mengambil alih jawabannya.


"Untuk saat ini sepertinya belum, Mah. Kami hanya ingin fokus membesarkan Zel dan Ziko. Rasanya kasih sayang yang aku berikan pada mereka masih kurang. Aku takut kedua anak kami merasa kurang kasih sayang nantinya jika diberikan adik." Jawab Daniel.


Bukan tanpa alasan Daniel berkata seperti itu, sebagai seorang pemimpin perusahaan yang sering disibukkan dengan banyaknya pekerjaan dan perjalanan ke luar kota dan luar negeri membuat Daniel merasa kekurangan waktu untuk bisa bermain dan menghabiskan waktu dengan kedua anaknya.


"Baiklah, Mama mendukung keputusan kalian saat ini. Untuk cucu yang baru Mama mengharapkan dari Aga, Agatha dan Amara saja."


"Nah, kalau itu aku setuju, Mah." Sahut Daniel lalu menampilkan senyuman smirk pada Aga.


Aga mendengus sebal melihat senyuman menyebalkan di wajah adik sepupunya itu. "Jangan terus membawa namaku. Fokuslah pada pembahasan keluargamu sendiri." Ucap Aga.

__ADS_1


Daniel menahan tawa dan mengiyakan saja perkataan Aga.


*


Hampir dua jam lamanya berbincang di ruang keluarga, akhirnya pembicaraan keluarga Papa Alexander malam itu selesai. Daniel yang melihat Aga bangkit dari duduknya dan berpamitan pergi ke kamar mandi pun melangkah mengikuti Aga tanpa sepengetahuan Aga.


Keluar dari dalam kamar mandi, Aga dibuat bingung melihat Daniel yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada sambil bersedekap dada.


"Ada apa?" Tanya Aga yang mengerti jika Daniel memilih maksud hingga menghampirinya.


"Apa yang ingin kau bicarakan, Daniel?" Tanya Aga dengan raut wajah datar.


"Tentu saja tentang hubungan Kakak dan Amara."


Kening Aga mengkerut halus mendengar jawaban yang Daniel berikan. "Hubungan apa yang kau maksud?" Tanya Aga.


Bukannya menjawab, Daniel justru melangkah mengajak Aga ikut bersamanya ke samping rumah.

__ADS_1


Setelah duduk di kursi yang tersedia di samping rumah yang terhubung dengan kolam renang, Daniel lantas saja mengatakan maksud perkataannya tadi.


"Apa sampai saat ini Kakak belum bisa menganggap Amara sebagai seorang wanita bukan lagi seorang adik?" Tanya Daniel dengan raut wajah bersungguh-sungguh.


Aga terdiam beberapa saat. Wajahnya yang datar tengah menyimpan keraguan atas jawaban yang akan ia berikan pada Daniel.


"Aku rasa aku telah mendapatkan jawabannya." Ucap Daniel melihat keterdiaman dan keraguan di wajah Aga.


"Jawab apa yang kau maksud?" Tanya Aga.


"Aku tahu jika Kakak mulai ragu dengan perasaan Kakak sendiri. Sepertinya saat ini Kakak sedang menyangkal jika Kakak sudah menganggap Amara sebagai seorang wanita bukan seorang adik lagi."


"Jangan berbicara sembarangan, Daniel!" Tekan Aga.


"Aku berbicara apa adanya, Kak. Ayolah Kak Aga, jangan terlalu larut memendam rasa. Suatu saat Kakak bisa menyesal dengan sikap Kakak sendiri karena berlian yang sudah berada di depan mata diambil oleh orang lain."


***

__ADS_1


__ADS_2