Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Anak Kecil Ayah dan Ibu


__ADS_3

"Mara, ayo jawab pertanyaan Ibu, kenapa kau menangis?" Ibu melepas paksa pelukan Amara agar dapat melihat wajah Amara dengan jelas.


Amara belum mau menjawab. Hanya isakan kecil yang keluar dari mulutnya.


Ibu jadi semakin cemas melihat keadaan putri bungsunya itu. Tidak pernah ada sejarahnya putri bungsunya itu pulang dalam keadaan menangis seperti saat ini. Ibu yakin telah terjadi suatu hal pada Amara yang mengakibatkan putrinya itu bersedih.


"Mara, ayo jawab Ibu atau Ibu akan marah!" Bu Fatma mengancam. Jurus yang ia andalkan berharap Amara dapat menjawab pertanyaannya.


"Ma-mara sedih, Bu..." Amara tergagap. 


"Sedih kenapa? Siapa yang sudah membuatmu bersedih, Nak?" Tanya Ibu.

__ADS_1


Amara kembali memeluk Bu Fatma dan menangis di dalam pelukannya. "Orang-orang di kantor jahat sama Mara, Bu. Mereka bilang kalau Mara sudah memakai guna-guna untuk menarik perhatian Kak Aga. Gak hanya menghina Mara saja, mereka juga menuduh Kak Nai yang bukan-bukan." Amara mengadu layaknya anak kecil pada ibunya.


Bu Fatma terkesiap mendengar aduan dari putri bungsunya itu. Amara yang belum merasa puas untuk mengadu pun kembali melanjutkan ceritanya hingga membuat Ibu ikut sedih mendengarnya.


"Memangnya orang seperti kita tidak pantas bersanding dengan orang berada ya, Bu? Apa kita ini terlihat menjijikkan di mata mereka? Kenapa mereka tega sekali mengatai Amara yang bukan-bukan seperti itu... huuu..." Amara semakin menangis dengan keras. Dan tangisannya itu akhirnya mengundang Ayah Arif masuk ke dalam dapur untuk melihat apa yang sudah terjadi.


"Ibu, Mara, ada apa ini?" Wajah Ayah Arif nampak cemas melihat putrinya yang menangis sambil memeluk sang istri. Ayah Arif pun mendekat pada mereka dan mengusap kepala Amara.


Mendengar aduan putrinya membuat Ayah Arif menjadi geram. Selama ini ia sudah bersusah payah menjaga putrinya agar tetap bahagia namun di belakangnya ternyata ada orang-orang yang bersikap jahat pada putrinya.


"Mara sedih, Yah. Mara sedih karena Kak Nai juga ikut dihina oleh mereka padahal Kak Nai tidak tahu apa-apa." Ucap Amara seraya terisak.

__ADS_1


Tangan Ayah Arif mengepal. Ia jadi kembali mengingat masa lalu pada saat Naina mengandung anak Daniel. Bagaimana putrinya menanggung rasa sakit saat itu hingga akhirnya ia memutuskan membawa putrinya tinggal di desa untuk menjaga nama baik putrinya. Bukan hanya itu saja, Ayah Arif dan Ibu Fatma bahkan mengganti status Zeline sebagai anak mereka bukan cucu mereka. Dan hal itu lah yang membuat Naina semakin sakit karena sampai usia Zeline beranjak empat tahun, putri kecilnya itu belum pernah memanggilnya dengan sebutan Mama.


"Sudahlah, Nak. Jangan bersedih lagi..." Ayah Arif mencoba mengontrol emosinya agar tetap bisa menenangkan putrinya yang sedang menangis.


Bukannya berhenti menangis, tangisan Amara justru semakin keras. 


Bu Fatma dan Ayah Arif sampai kewalahan menenangkan putri mereka yang sedang menangis layaknya anak kecil itu. Setelah Amara cukup tenang, Ayah Arif pun mengajak Amara dan Ibu untuk duduk di ruang tengah keluarga. 


Amara yang masih bersedih pun berbaring dengan meletakkan kepala di pangkuan ibunya.


"Jangan bersedih lagi ya, Nak. Ibu jadi ikut sedih melihat kau menangis seperti ini." Ibu mengusap sayang kepala putrinya. Selama ini ia pikir Amara sudah berubah menjadi wanita kuat mengingat Amara selalu bisa mengatasi masalahnya seorang diri. Namun ternyata pikirannya salah, Amara tetaplah putrinya yang dulu yang masih suka mengadu jika hatinya tersakiti.

__ADS_1


***


__ADS_2