
"Jangan berkata seperti itu, Agatha. Kakak akan selalu menyayangimu dan menjagamu walau kita tidak tinggal bersama." Jawab Aga.
"Kak Aga pembohong. Jika Kakak benar menyayangiku tidak mungkin Kakak membiarkan aku hanya tinggal berdua dengan Papa di rumah ini." Sahut Agatha dengan berderai air mata.
Mendengar suara tangisan Agatha yang terdengar menyayat hati membuat kedua bola mata Aga tanpa sadar berkaca-kaca.
"Terkadang aku iri dengan Amara, walau Kak Daniel bukanlah kakak kandungnya tapi Kak Daniel selalu ingin memberikan yang terbaik untuk Amara. Kak Daniel juga tidak egois dengan menjauhkan Kak Naina dari keluarganya. Setiap ada waktu Kak Daniel pasti selalu membawa Kak Naina kembali ke rumah orang tuanya sehingga membuat Amara tidak merasa terlalu kehilangan kakaknya."
Aga merasa sangat tersindir mendengarkan pernyataan dari adiknya. Sudah sepuluh tahun belakangan ini ia memilih hidup menyendiri tanpa memperdulikan jika adiknya masih sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian darinya. Aga menjadi merasa sangat egois setelah menyadari kesalahannya selama ini.
Aga kemudian bangkit dari duduknya. Berjalan mendekati Agatha lalu membawa Agatha ke dalam pelukannya. "Jangan menangis lagi. Kakak akan memikirkan keinginanmu agar kita bisa tinggal bersama lagi." Ucap Aga.
__ADS_1
Agatha menatap Aga dengan air mata yang masih tergenang di pelupuk matanya. "Apa Kak Aga serius?" Tanya Agatha.
Aga mengangguk. "Kakak sangat menyayangimu. Kakak tidak mungkin membiarkanmu merasa hidup sendiri di dunia ini."
Agatha tersenyum senang mendengarnya. Papa Andrew yang ikut mendengarnya pun merasa haru dengan kedua bola mata berkaca-kaca. Setelah sekian lamanya, akhirnya putra kesayangannya mau melunakkan hatinya untuk kembali tinggal di rumahnya.
*
"Apa sudah saatnya aku tinggal kembali bersama Papa dan Agatha." Gumam Aga. Terlalu larut dalam kesedihan karena ditinggalkan ibu kandungnya membuat dirinya menjadi pria yang egois hingga memilih tinggal berpisah dari keluarganya. Dan saat ini, Aga menuai hasil dari keputusannya. Adik kandungnya terluka karena keputusannya pun dengan ayah kandungnya.
Malam semakin larut namun Aga tak kunjung bisa memejamkan kedua kelopak matanya. Bayangan sang mama yang dulunya sering tersenyum kepadanya terus terlintas di benak Aga. Hingga akhirnya Aga berhasil memejamkan kedua kelopak matanya, wajah sang mama pun muncul di dalam mimpinya.
__ADS_1
"Mamah!" Aga berteriak memanggil sang mama saat kedua kelopak matanya yang terpejam terbuka tiba-tiba.
Aga mengedarkan pandangannya ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan sang mama. Namun tidak terlihat sosok sang mama yang ia harapkan. Semuanya nampak hampa. Sang mama telah tiada dan tidak mungkin ada di hadapannya saat ini.
"Mamah..." Aga tanpa sadar menitikkan air matanya. Hembusan napasnya terasa semakin sesak. Aga pun menangis terisak-isak membayangkan kebersamaannya dengan sang mama saat mamanya masih hidup.
"Kenapa Mama pergi meninggalkan Aga, Mah. Kenapa Tuhan begitu jahat memisahkan kita." Lirih Aga.
Sebelumnya sosok Aga adalah sosok yang sangat hangat dan ceria. Namun setelah kejadian naas itu menimpa sang mama, Aga berubah menjadi sosok yang sangat dingin dan irit bicara. Aga bahkan sangat sulit untuk membuka hati untuk seorang wanita. Hingga pada akhirnya, sosok Naina hadir dalam hidupnya menggantikan kesedihan yang ia rasakan menjadi sebuah kebahagiaan.
***
__ADS_1