
"Mohon diterima, Tuan." Sisil semakin menyodorkan selembar uang bewarna hijau tersebut mendekat pada Cakra sebab Cakra tak kunjung menerimanya.
"Ambil saja uang itu. Aku bukan tukang ojek yang harus kau bayar! Satu lagi, tidak perlu mencuci jasku karena aku bisa mencucinya sendiri."
"Tapi, Tuan..." Sisil meragu sebab ia merasa berhutang budi pada Cakra yang sudah memberikan tumpangan untuknya.
"Tidak ada tapi-tapian. Kalau kau masih saja memaksaku menerima uang itu tidak masalah, aku bisa mengembalikanmu lagi ke halte tadi." Ucapnya dengan nada mengancam.
Sisil seketika menarik tangannya setelah mendengar perkataan Cakra.
"Sekarang kemarikan jas milikku!" Cakra menyodorkan sebelah tangannya pada Sisil berniat mengambil jas miliknya dari tangan Sisil.
"Untuk jas ini biarkan saya saja yang mencucinya, Tuan. Jasnya sudah kotor terkena tubuh saya. Tangan Tuan bisa gatal-gatal jika memegangnya nanti."
__ADS_1
Cakra mendecakkan lidah. Capek sekali dirinya berdebat dengan wanita bernama Sisil ini pikirnya. Tak ingin terlalu membuang waktu lebih lama terlebih hujan masih saja turun mengguyur kota, Cakra memilih membiarkan saja jas miliknya dicuci oleh Sisil.
"Hati-hati di jalan, Tuan. Sekali lagi terima kasih." Sisil mengatupkan kedua tangannya melepas Cakra yang hendak pergi meninggalkan rumahnya.
Cakra hanya mengangguk kemudian melajukan mobilnya meninggalkan area rumah Sisil.
Sisil tak langsung beranjak masuk ke dalam rumah. Ia memilih menatap kepergian mobil Cakra hingga lenyap dari pandangannya.
"Harum sekali," Sisil yang tanpa sadar mencium aroma jas Cakra kembali pun memuji aroma yang keluar dari jas milik Cakra. Sedetik kemudian ia merutuki dirinya yang sudah bersikap bodoh menciuma aroma jas Cakra.
"Lebih baik sekarang aku mandi dan mencuci jas ini. Setelah itu aku pergi ke rumah sakit untuk merawat Ibu." Setelah bergumam, Sisil membuka pintu kontrakannya lalu masuk ke dalamnya.
Melihat suasana kontrakannya saat ini yang nampak sepi tanpa kehadiran seorang ibu membuat kedua bola mata Sisil berkaca-kaca. "Ibu, cepat sembuh ya agar kita bersama-sama lagi di sini." Gumamnya lirih.
__ADS_1
**
**
Cakra nampak tak fokus mengendarai mobilnya sebab pemikirannya terus tertuju pada sosok Sisil yang nampak jauh berubah dari pertama kali ia mengenalnya. Sosok Sisil yang dulunya ia ketahui seorang yang angkuh dan sombong kini sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Sisil berubah menjadi wanita yang lembut dan manis.
"Ada bagusnya juga Tuan Aga memberikan hukuman pada mereka hingga bisa membuat mereka sadar dengan kesalahan mereka kemarin." Gumam Cakra. Jika saja Aga tidak memberikan hukuman dengan tegas, mungkin sampai saat ini Sisil dan Ane tidak akan berubah justru semakin menjadi-jadi.
Di tengah pemikirannya tentang Sisil, Cakra pun teringat dengan perkataan Sisil jika ia ingin pergi ke rumah sakit untuk menjaga ibunya yang sedang dirawat.
"Dia kan tidak punya kendaraan lagi. Lalu menggunakan apa dia pergi ke rumah sakit?" Pikir Cakra. Baru saja berpikir, Cakra sudah merutuki dirinya yang sudah memikirkan Sisil sampai sejauh itu. "Mau pakai sampan kek, mau pakai helikopter. Apa pedulinya denganku?"
**
__ADS_1