
Beberapa hari kemudian.
Waktu terus bergulir dan terasa cepat berlalu. Tanpa terasa kini sudah satu minggu Rendra hilang tanpa kabar. Beberapa kali Amara mencoba menghubungi dan mengirimkan pesan namun tak mendapatkan jawaban atau balasan dari Rendra.
Amara dibuat bingung dengan sikap Rendra yang hilang tanpa kabar. Kebingungannya pun kini semakin bertambah setelah mendengar ungkapan cinta dari Aga untuknya beberapa waktu lalu.
Setelah hari itu, hari dimana Aga mengungkapkan perasaan kepadanya, Amara mencoba mengartikan perasaannya kepada Aga dan kepada Rendra. Entah mengapa Amara merasa perasaannya pada Aga kini kembali mendominasi. Apa hal tersebut ada kaitannya dengan hilangnya Rendra? Entahlah, Amara juga tidak tahu jawabannya.
Seseorang yang paling mengetahui isi hati Amara dan seluruh cerita Amara saat ini hanyalah Agatha. Dengan wanita itu, Amara bebas mengungkapkan isi hatinya yang sedang gundah gulana.
Malam itu, Amara kembali terlibat percakapan dengan Agatha di sambungan telefon. Amara kembali menceritakan pada Agatha tentang kegelisahannya tentang Rendra. Bagaimana keadaan Rendra saat ini dan apakah sudah terjadi masalah pada Rendra hingga membuat pria itu menghilang tanpa kabar.
Agatha yang mendengarkan cerita Amara dibuat galau. Apakah ia harus menceritakan apa yang dilihatnya beberapa hari yang lalu pada Amara atau tidak. Namun mengingat beban pikiran Amara saat ini sudah semakin bertambah, akhirnya Agatha memilih mengurungkan niatnya untuk memberitahu Amara tentang Rendra.
"Aku akan mencoba membantu mencari tahu informasi tentang Rendra saat ini, Mara." Ucap Agatha setelah Amara terdiam beberapa saat.
__ADS_1
Hembusan napas Amara di seberang sana terdengar kasar. Dapat Agatha duga jika saat ini Amara sedang frustrasi dengan jalan hidupnya saat ini.
Keduanya pun terus berbicara hingga akhirnya terhenti setelah tidak ada lagi hal yang ingin mereka bahas.
"Siapa yang menelefon?" Suara Aga yang berasal dari belakang tubuh Agatha mengagetkan Agatha yang baru saja memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
"Kak Aga," Agatha mengusap dada. Menatap sebal wajah Aga yang baru saja mengagetkannya.
"Siapa yang menelefon? Amara?" Tebak Aga tanpa peduli dengan keterkejutan Agatha.
"Oh, begitu." Aga mengangguk paham.
Agatha menatap intens wajah sang Kakak. Ia teringat dengan cerita Amara beberapa hari yang lalu tentang ungkapan hati Aga pada Amara. "Kak Aga, apa benar saat ini Kakak sudah menyadari perasaan Kakak jika Kakak mencintai Amara?" Tanya Agatha dengan wajah serius.
"Kenapa ku bertanya seperti itu?" Tanya Aga.
__ADS_1
"Jawab saja, Kak. Aku perlu jawaban dari Kakak."
"Ya." Jawab Aga singkat.
Agatha berdecak sebal mendengar jawaban Aga yang terbilang singkat. "Kalau saat ini Kakak sudah menyadari perasaan Kakak pada Amara, lantas kenapa Kakak tidak berusaha mendapatkan hatinya kembali?" Tanya Agatha bingung.
"Kakak tidak bisa memaksa seseorang untuk membalas cinta Kakak, Gatha. Hati Amara kini sudah berpaling pada pria lain. Kakak hanya bisa berdoa agar dia bahagia dengan pilihannya sendiri."
Agatha menggelengkan kepalanya merasa tak setuju dengan jawaban Aga yang terbilang pasrah. "Kakak harus berjuang mendapatkan hatinya, Kak. Saat ini adalah kesempatan bagus untuk Kakak mendapatkan hati Amara kembali. Perlihatkan pada Amara jika Kakak benar mencintainya agar dia tidak ragu lagi dengan perasaannya sendiri."
"Kesempatan bagus, maksudmu bagaimana?" Tanya Aga.
"Rendra menghilang tanpa kabar, Kak. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk Kakak berjuang mendapatkan hati Amara kembali sebelum semuanya terlambat." Ucap Agatha dengan wajah serius
***
__ADS_1