
Amara dibuat bingung tak mengerti dengan maksud perkataan Anjani. Sementara Aga yang sudah mengerti pun masih diam dengan ekspresi datarnya.
"Aga, bukankah kau berkata akan berangkat setelah aku berangkat lebih dulu tadi pagi?" Tanya Anjani memastikan.
Aga yang ditanyakan pun menganggukkan kepalanya. "Aku ingin mengambil kunci kamar dulu." Ucap Aga tak ingin Anjani berbicara terlalu banyak hingga membuatnya jadi pusing.
Anjani mengangguk dan membiarkan Aga pergi menuju meja resepsionis. Amara yang belum memiliki kunci kamar pun langsung saja menyusul Aga setelah berpamitan pada Anjani.
Anjani yang menunggu Aga kembali bersama Amara pun dibuat terkejut karena mendengar Aga dan Amara menginap di lantai yang berbeda dengannya.
"Waktu berkunjung ke proyek masih ada beberapa jam lagi. Sambil menunggu waktu kunjungan, kalian bisa istirahat di kamar masing-masing." Ucap Aga pada Anjani dan Amara.
Amara mengangguk sementara Anjani hanya diam saja.
Aga pun melangkah ke arah lift berada diikuti oleh Amara yang ingin pergi ke lantai yang sama dengan Aga.
"Kenapa semua terasa aneh? Aga mencari alasan agar tidak pergi bersama denganku dan kini dia menginap di lantai yang sama dengan Amara bukan denganku." Gumam Anjani sambil menatap kepergian Aga dan Amara.
__ADS_1
Tak ingin hanya tinggal seorang diri di lobby hotel, Anjani lantas saja mengikuti Aga dan Amara masuk ke dalam kamar penginapannya.
Lift yang membawa Amara dan Aga akhirnya berhenti di lantai kamar penginapan Aga dan Amara. Amara yang membiarkan Aga melangkah lebih dulu mendahuluinya dibuat terkejut menyadari jika kamar penginapannya dan Aga bersebelahan.
"Kenapa Tuan Aga memesan kamar yang bersebelahan denganku?" Lirih Amara.
Tidak punya pilihan lain, Amara lantas saja masuk ke dalam kamar penginapannya untuk beristirahat.
Sementara Aga yang sudah berada di dalam kamar penginapannya pun mengirimkan sebuah pesan berisi ucapan terima kasih pada Rega entah untuk apa.
Suara deringan telefon yang terdengar cukup keras dari ponselnya membangunkan Amara dari tidur singkatnya. Melihat nama pemanggil telefon yang tak lain adalah Aga, Amara lantas saja mengangkat panggilan tersebut.
"Segera turun dan makan siang. Sebentar lagi kita akan turun ke lapangan!" Titah Aga tanpa basa-basi lebih dulu.
"Baik, Kak." Jawab Amara di tengah kesadarannya yang belum sepenuhnya terkumpul.
Panggilan telefon pun terputus. Amara yang tidak ingin membuat Aga menunggu waktu lama segera bersiap untuk turun ke lantai bawah untuk makan siang.
__ADS_1
Tanpa diduga oleh Amara, saat sudah berada di dalam lift yang akan membawanya ke lantai satu dimana restoran hotel berada, Amara bertemu dengan Anjani yang juga masuk ke dalam lift yang sama dengannya.
"Kak Anjani." Amara tersenyum berusaha ramah pada Anjani.
Anjani membalas senyuman di wajah Amara dengan ikut tersenyum.
"Amara, boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Anjani ramah.
"Boleh saja. Tanyakan saja langsung, Kak."
"Kenapa tadi pagi kau dan Aga terlambat sampai di sini. Memangnya kalian pergi kemana dulu?" Tanya Anjani penasaran.
"Tidak pergi kemana-mana, Kak. Kami hanya menikmati sarapan pagi bersama di rumahku lalu membeli cemilan di supermarket dan langsung berangkat ke kota ini." Jawab Amara apa adanya.
"Apa?" Kedua kelopak mata Anjani terbuka lebar mendengar Aga menyempatkan waktu untuk sarapan lebih dulu bersama Amara di rumah Amara sedangkan dirinya sudah berangkat lebih dulu dan melewatkan sarapan paginya.
Apa-apaan ini, kenapa Aga bisa sarapan bersama di rumah Amara. Apa hubungan di antara mereka sedekat itu?
__ADS_1