
"Bukan pasangan apa-apa, Mara. Kakak hanya bercanda saja," Dio menjelaskan maksud perkataannya setelah melihat kebingungan di wajah Amara.
Perasaan Amara terasa lega setelah mendengarkan penjelasan dari Dio. Ia pikir perkataan Dio tadi memiliki sebuah maksud tersembunyi.
"Oh ya, ada apa dengan kepala Kak Aga. Kenapa diperban begini?" Perhatian Dio kini teralihkan pada kepala Aga yang ditutupi perban.
"Tidak apa-apa, hanya luka kecil biasa." Jawab Aga seraya menyematkan senyuman tipis.
"Karena apa, Kak? Perasaan sebelum Kakak berangkat ke sini kemarin aku sempat melihat kepala Kakak baik-baik saja."
"Bukan hal yang besar, hanya terkena jatuhan batu di lokasi proyek."
Manik mata Dio membulat sempurna mendengar jawaban Aga. "Astaga, untung saja tidak berefek besar, Kak."
__ADS_1
Aga menganggukkan kepalanya dan mengalihkan pembicaraan mereka dengan mengajak Dio untuk duduk di meja yang sudah disediakan untuk mereka.
"Kak Aga baik sekali. Dia bahkan tidak menjelaskan pada Kak Dio jika kejadian yang menimpanya kemarin itu karena menyelamatkan aku," lirih Amara dalam hati.
*
Di saat Amara dan Aga sedang asyik menikmati makan malam bersama di kafe milik Dio dengan berbagai hidangan yang menggugah selera, di tempat yang berbeda atau lebih tepatnya di hotel tempat mereka menginap, Anjani nampak kebingungan mencari keberadaan Aga. Mencoba menelefon tidak diangkat dan mencari ke kamar Aga tidak menemukan siapa-siapa.
"Sebenarnya Aga pergi kemana? Kenapa dia tidak mengabariku jika akan pergi?" Anjani semakin bingung sendiri.
"Sepertinya Amara tidak berada di dalam kamarnya juga." Ucap Anjani. Pemikiran Anjani pun mulai menebak-nebak apakah Amara dan Aga pergi berdua meninggalkan dirinya.
"Aku harus segera menghubungi Amara untuk memastikannya!" Anjani segera merogoh ponsel dari saku celananya lalu melakukan panggilan telefon dengan Amara.
__ADS_1
Di kafe milik Dio, Amara terlihat bingung menatap layar ponselnya yang bergetar dan memperlihatkan nama Anjani di sana.
"Bagaimana ini, apa aku harus mengangkatnya?" Ucap Amara bingung.
"Mara, kenapa panggilannya tidak diangkat?" Hanum yang duduk di sebelah Amara pun bertanya karena Amara hanya menatap layar ponselnya tanpa berniat mengangkat panggilan telefonnya.
"Agh, iya, Kak. Ini mau Mara angkat." Amara buru-buru menggeser ikon bewarna hijau di layar ponselnya lalu meletakkan ponsel ke daun telinganya.
Baru saja panggilan terhubung, Anjani tanpa basa-basi langsung mempertanyakan dimana keberadaan Amara saat ini. Merasa tidak suka dengan sikap Anjani yang menurutnya terlalu kepo dengan hidupnya, Amara lantas saja mengatakan keberadaannya dan dengan siapa ia pergi.
Pembicaraan Amara dan Anjani pun akhirnya mengalihkan perhatian Aga dan Dio yang sedang asik berbicara tertuju ke sumber suara.
"Kalau Kakak merasa penasaran kenapa Kak Aga tidak mengajak Kakak untuk ikut bersama kami maka tanyakan saja langsung pada Kak Aga karena aku juga tidak mengetahui jawabannya." Ucap Amara acuh.
__ADS_1
Kerutan halus nampak terbit di dahi Aga mendengar namanya di bawa-bawa oleh Amara. Sementara Amara yang tidak memperdulikan kebingungan Aga terus saja berbicara acuh pada Anjani tanpa perduli lagi dengan perasaan Anjani yang mungkin akan sakit setelah mendengarkan jawaban darinya.
***