Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Cukup Melihatmu Saja


__ADS_3

Pespa antik milik Daniel kini telah melaju menyusuri jalanan ibu kota. Suara khas motor pespa antik yang terdengar cempreng membuang beberapa pasang mata mengarah ke arah mereka. Amara yang merasakan sensasi yang berbeda karena kali ini berjalan-jalan menggunakan motor nampak senang. Ia jadi teringat dengan masa sekolahnya dulu dimana ia masih sering bepergian menggunakan motor.


"Pegangan yang kuat, ya. Aku ingin menambah kecepatan motornya!" Seru Aga.


Belum sempat menyahut, Amara sudah melingkarkan kedua tangannya di perut Aga karena motor tiba-tiba melaju dengan cepat.


Merasakan sebuah tangan kini melingkar indah di pinggangnya membuat Aga tersenyum tipis. Menatap tangan yang sedang melingkar itu dengan hati senang.


"Kak Aga pelan-pelan saja!" Pinta Amara. Ia merasa malu karena sudah memeluk Aga karena rasa terkejutnya. Walau pun malu, namun Amara tak melepaskan tangannya dari perut Aga.


Aga hanya mengangguk mengiyakan perkataan Amara sambil mengembangkan senyum yang tak dapat terlihat oleh Amara.


"Kita kau kemana ini, Kak?" Amara sedikit mengeraskan suaranya agar terdengar di telinga Aga.


"Kemana saja. Asal bersamamu." Sahut Aga.

__ADS_1


Deg


Jantung Amara berdebar-debar. Pun dengan kedua pipinya yang kini terasa panas setelah mendengar perkataan Aga.


Aga yang sedang fokus mengendarai motor mengembangkan senyum menyadari jika Amara kini tengah tersipu karena perkataannya


"Jangan dilepas, tetaplah seperti ini." Aga menahan pergerakan tangan Amara saat hendak lepas dari pinggangnya.


Amara tak kuasa untuk menolak. Terlebih kini lidahnya terasa kelu untuk menjawab perkataan Aga.


Motor antik milik Daniel terus melaju di jalan raya. Mengelilingi jalanan ibu kota yang nampak tidak terlalu padat pagi itu. Amara yang dibonceng oleh Aga begitu menikmati perjalanan mereka pagi itu. Menatap ke kiri dan kadang ke kanan melihat banyaknya gedung-gedung tinggi yang mereka lewati.


"Kak Aga..." Amara berucap lirih. Tidak menyangka jika Aga tengah memegang tangannya saat ini.


Aga tak mengeluarkan suara. Ia mengurangi laju kecepatan motornya sambil memegang tangan Amara.

__ADS_1


Hampir setengah jam berkeliling tanpa tujuan, akhirnya motor yang dikendarai Aga berhenti di sebuah taman yang nampak ramai didatangi oleh pengunjung. Aga memarkirkan motor di area parkir lalu mengajak Amara untuk membeli beberapa jajanan yang dijual di area taman.


"Aku mau es krim, Kak." Pinta Amara pada Aga.


"Es krim yang di sana?" Aga menunjuk stand penjual es krim.


Amara mengangguk. Tanpa diduga oleh Amara, Aga memegang tangan Amara dan menuntunnya menuju stand es krim tersebut.


"Kak Aga tidak mau es krimnya?" Tanya Amara karena Aga hanya memesan satu cone es krim saja.


"Tidak, aku cukup melihatmu makan es krim saja." Jawab Aga.


Penjual es krim yang mendengar perkataan Aga nampak tersenyum mendengar jawaban Aga. Sementara Amara, bukan hanya malu-malu, namun kini kedua pipinya sudah merona mendengar perkataan Aga. Amara pun menunduk berharap Aga tak melihat kedua pipinya yang sedang merona saat ini.


"Kenapa aku jadi salah tingkah seperti ini sih hanya mendengar jawaban dari Kak Aga." Amara merutuki dirinya dalam hati. Jika biasanya ia sudah tak lagi tersipu dengan setiap perlakuan manis dari Aga, namun pagi ini terasa berbeda.

__ADS_1


***


Sebelum lanjut, jangan lupa like, komen, gift dan votenya dulu ya. Dan jangan lupa follow instagram @shy1210 untuk seputar info karya shy. Terima kasih🪴


__ADS_2