
"Kak Rendra, wanita tadi siapa?" Suara Okta yang terdengar cukup jelas di telinga Rendra mengalihkan pandangan Rendra dari punggunh Amara yang semakin menjauh darinya.
Rendra menoleh. Menatap ke arah samping dimana Okta menatapnya penuh tanya. "Amara sahabatku."
"Oh..." Okta menganggukkan kepalanya tanpa berniat bertanya lebih lanjut.
"Ayo jalan. Bukannya kau ingin membeli cake yang ada di sana." Ajak Rendra. Tujuan utamanya datang ke taman pagi itu hanya sekedar ingin menuntaskan keinginan Okta yang menginginkan cake kesukannya.
Okta mengangguk tanpa suara. Kaki mungilnya pun melangkah mengikuti Rendra yang sudah melangkah lebih dulu meninggalkannya.
"Sepertinya wanita tadi cukup spesial untuk Kak Rendra. Jika tidak, tak mungkin Kak Rendra menatapnya penuh cinta seperti itu." Okta bergumam dalam hati. Walau saat ini status Rendra adalah calon suaminya, namun Okta tak ingin terlalu ikut campur dalam urusan pribadi Rendra. Terlebih Okta tahu jika Rendra mau menikahinya hanya karena terpaksa.
Sementara Amara dan Aga yang kini sudah berada di area parkir letak motor mereka berada nampak saling tatap satu sama lain.
"Kita mau kemana lagi, Kak?" Tanya Amara membuka suara. Ia tak memperlihatkan raut kesedihan sedikit pun di wajahnya pada Aga.
"Jalan-jalan lagi bagaimana? Setelah itu kita ke mall." Tawar Aga.
__ADS_1
Kedua sudut bibir Amara melengkung sempurna. Ajakan Aga terdengar cukup menarik di telinganya. Kembali berjalan-jalan kemudian menghabiskan waktu siang di mall.
"Baiklah, aku mau, Kak!" Seru Amara bersemangat.
Aga menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman. Melihat senyuman Aga yang terlihat sangat manis di mata Amara membuat Amara sejenak terdiam.
"Kenapa Kak Aga mudah tersenyum akhir-akhir ini, ya. Apa dia tahu jika senyumannya itu sangat manis hingga aku dibuat hampir diabetes melihatnya?" Amara bergumam dalam hati.
"Ayo naik!" Terlalu larut mengagumi kemanisan di wajah Aga membuat Amara tak sadar jika Aga kini sudah naik ke atas motor bahkan menyalakan mesinnya.
"Agh, ya, Kak!" Amara tersenyum kaku. Ia merasa sedikit malu karena Aga pasti sudah melihat dirinya yang diam-diam mengagumi kemanisan di wajah Aga.
Mengerti dengan kode yang diberikan Aga, Amara lantas saja memegang pundak Aga kemudian naik ke atas motor.
"Ingat, pegang pinggangku setelah motor ini berjalan." Pesan Aga.
Amara mengangguk tanpa suara. Ia mengulum bibir menyembunyikan senyum yang hampir terbit di wajahnya karena perlakuan manis Aga.
__ADS_1
Motor antik milik Daniel akhirnya melaju meninggalkan taman. Sesuai dengan permintaan Aga, Amara kini sudah melingkarkan kedua tangannya di pinggangnya saat motor sudah melaju.
"Mara..." suara Aga terdengar mengalun di telinga Amara.
Amara mendongak. Menatap ke arah wajah Aga berniat memberikan pertanyaan. "Ada apa, Kak Aga?" Tanyanya sedikit keras agar suaranya dapat terdengar jelas di telinga Aga.
Aga mengusap sebelah tangan Amara dengan tangannya yang bebas. "Maaf kalau aku memegang tanganmu seperti ini, ya." Ucapnya merasa tak enak namun tetap melakukannya.
Amara kembali menyembunyikan senyum. Sejujurnya ia merasa tak masalah dipegang tangannya oleh Aga seperti ini. Ia hanya sedikit gugup saja dan itu tidak sebuah masalah.
"Emh, ya. Tidak masalah, Kak." Jawabnya diikuti anggukan di kepala.
Aga kembali menarik kedua sudut bibir. Jawaban yang diberikan Amara berhas membuatnya bukan hanya memegang tangan Amara namun kini juga mengusapnya.
Deg
***
__ADS_1
Sebelum lanjut, jangan lupa like, komen, gift dan votenya dulu ya. Dan jangan lupa follow instagram @shy1210 untuk seputar info karya shy. Terima kasih🪴