
Hati dan pikiran Cakra mulai tak sejalan. Saat pikiran Cakra berkata untuk melajukan mobilnya kembali menerjang derasnya hujan, hati Cakra justru meminta agar dirinya keluar dari dalam mobil dan memberikan tumpangan pada Sisil.
Cakra menghembuskan napas kasar di udara karena pikirannya kalah dengan hatinya. Terlebih saat ini ia melihat Sisil tengah menatap ke arah mobilnya sambil memeluk erat tubuhnya yang kedinginan.
"Sial!" Cakra segera mengambil payung dari dalam mobilnya dan segera keluar.
Melihat sosok Cakra keluar dari dalam mobil yang berhenti tepat di depannya membuat Sisil nampak bingung. Wanita itu terus memperhatikan Cakra hingga akhirnya pria itu berdiri tepat di depannya.
"Tuan Cakra?" Sapanya pada Cakra sedikit terbata.
"Cepat masuk ke dalam mobil!" Titah Cakra tanpa menjawab sapaan Sisil.
"Hah?" Sisil terperangah. Wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut.
Lidah Cakra berdecak melihat respon Sisil. "Aku bilang cepat masuk ke dalam mobilku!" Ulangnya sedikit keras agar perkataannya masuk ke dalam kuping Sisil dan dicerna oleh pikiran Sisil.
"Kenapa saya harus masuk ke dalam mobil Tuan?" Sisil yang nampak tidak mengerti pun bertanya.
__ADS_1
"Lalu kau mau menunggu bus di sini sampai malam begitu?" Sentak Cakra.
Sisil tergugu. Mulai menangkap maksud perkataan Cakra.
Pandangan Cakra pun beralih pada baju putih yang dikenakan oleh Sisil kini nampak tembus pandang hingga memperlihatkan bentuk bra bewarna hitam yang dikenakan Sisil. Baju tersebut bukanlah baju khusus clening service melainkan baju pribadi yang sudah diganti Sisil sebelum pulang bekerja.
"Kau masih ingin berdiam diri di sini? Apa kau mau memerkan bentuk bra tak seberapa milikmu itu pada pria yang melewati jalan ini?" Tanya Cakra nampak jengah.
Sisil memperhatikan bagian dadanya. Dan benar saja kini bra yang ia kenakan sudah mencetak di baju kaosnya yang tipis dan bewarna putih.
"Tapi Tuan..." Sisil meragu. Tidak pantas rasanya ia masuk ke dalam mobil milik Cakra.
"Cepat masuk atau aku berubah pikiran!"
Sisil tak memiliki pilihan. Terpaksa ia masuk ke dalam mobil milik Cakra dengan kondisi tubuh basah kuyub.
Tubuh Cakra yang terkena air hujan pun mulai basah. Cakra yang menyadarinya pun bergegas masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
"Pakai ini!" Ucap Cakra memberikan jas kerjanya pada Sisil setelah ia masuk ke dalam mobil miliknya.
Sisil memperhatikan jas yang diberikan Cakra untuknya. "Untuk apa ini, Tuan?"
Lidah Cakra berdecak. Sebal sekali ia menghadapi wanita seperti Sisil. "Tentu saja untuk dipakai. Apa kau mau memerkan bentuk bramu itu kepadaku?" Ucapnya malas.
"Tapi..." Sisil kembali meragu. Tidak dapat ia bayangkan bagaimana nantinya kondisi jas mahal milik Cakra menyentuh pakaian dan kulit tubuhnya yang kusam.
"Kalau tidak mau dipakai silahkan buang saja!" Ucapnya kemudian menghidupkan mesin mobil tanpa menunggu jawaban Sisil.
Sisil akhirnya mengangguk kemudin menyelimuti jas milik Cakra pada bagian depan tubuhnya yang terasa sangat dingin karena basah.
"Dimana tempat tinggalmu?" Tanya Cakra setelah mobil miliknya melaju menembus derasnya hujan.
Sisil pun segera menjawab pertanyaan Cakra. Menyebutkan alamat rumahnya yang berada di sebuah gang sempit.
Cakra tak menyahut jawaban Sisil atau pun merespon dengan anggukan kepala. Ia memilih diam dan fokus melajukan mobil menuju alamat yang Sisil sebutkan.
__ADS_1
***
Maaf atas tragedy salah masuk kamarnya ya teman-teman. Bab di atas seharusnya masuk ke kamar novel Noda Menjadi Yang Ke 2ðŸ«