
Seperti seorang buronan yang sedang dikejar oleh polisi, Amara berlari ke arah mobil Aga berada sambil menatap ke kiri dan ke kanan. "Huh, huh." Hembusan napas Amara terdengar tak beraturan setelah masuk ke dalam mobil milik Aga.
"Ada apa denganmu?" Kerutan halus nampak terbit di pelipis Aga melihat sikap aneh Amara yang seperti habis dikejar anjing galak.
"Aku baru saja berlari dari pintu keluar hotel sampai ke sini."
"Berlari?" Ulang Aga. Semakin dalam saja kerutan di kening Aga saat ini.
"Ya. Aku takut jika Kak Anjani melihat gerak-gerikku dan curiga kemana aku akan pergi." Jawab Amara jujur.
Aga menghela napas panjang. Bingung sekali dirinya dengan sikap Amara yang semakin hari semakin ada-ada saja. "Kenapa terus memikirkannya? Kalau dia tanya ya tinggal dijawab saja. Kenapa sampai diambil pusing."
"Tentu saja karena aku tidak ingin Kak Anjani menjadi tak enak hati kepadaku karena melihat aku pergi berdua dengan Kak Aga."
"Kenapa kau memikirkan perasaannya? Memangnya dia siapa untukku?" Aga kembali melontarkan pertanyaan yang berhasil membuat Amara hening beberapa saat.
__ADS_1
Merasa tak mendapatkan jawaban dari Amara, Aga lantas saja menghidupkan mesin mobilnya lalu melajukannya keluar dari area hotel.
"Memangnya Kakak dan Kak Anjani tidak sedang menjalin sebuah hubungan?" Tanya Amara pelan namun dapat didengar dengan jelas oleh telinga Aga.
"Tidak." Sahut Aga singkat dan apa adanya.
Amara tak langsung percaya begitu saja. Terlebih selama dua bulan belakangan ini sikap Anjani dan Aga selalu menunjukkan jika mereka seperti sedang menjalin sebuah hubungan.
Aga tidak berniat memberikan penjelasan dari jawaban yang sudah ia berikan karena menurutnya jawabannya sudah sangat jelas.
"Apa Kak Aga mengetahui dimana lokasi kafe milik Kak Dio?" Amara kembali melontarkan sebuah pertanyaan yang berhasil memecahkan keheningan di antara mereka.
"Apa sebelumnya Kakak sudah pernah mengunjungi kafe Kak Dio selama pergi ke sini?"
"Ya. Sudah beberapa kali. Kebetulan setiap aku datang ke sini Dio juga sedang berkunjung ke kafe miliknya."
__ADS_1
"Wah, kebetulan sekali, ya." Amara mengangguk-anggukkan kepalanya. Aga pun ikut mengangguk mengiyakan perkataan Amara.
Perjalanan menuju kafe milik Dio kembali terasa hening karena kini Amara sudah fokus pada ponsel di tangannya. Sesekali Amara tersenyum dan tertawa setelah melihat video yang nampak lucu dan menggemaskan di matanya.
Sementara Aga yang sudah biasa dalam mode hening dan jarang membuka pembicaraan di antara mereka pun kini tengah berpikir perkataan apa yang harus ia keluarkan dari mulutnya untuk memecahkan keheningan di antara mereka.
Terlalu lama berpikir, Aga sampai tidak menyadari jika kini mobil miliknya sudah sampai di depan kafe milik Dio. Dari dalam mobil, Aga dapat melihat jika suasana di dalam kafe saat ini ramai dengan pengunjung walau waktu baru menunjukkan pukul tujuh malam.
"Ayo turun." Ajak Aga sambil membuka seatbelt yang terpasang di tubuhnya.
"Iya, Kak." Amara ikut membuka seatbelt yang terpasang di tubuhnya lalu keluar dari dalam mobil.
Baru saja melangkah masuk ke dalam kafe, Aga dan Amara sudah disambut dengan senyuman hangat di wajah Dio dan Hanum yang ternyata sejak tadi menunggu kedatangan mereka.
"Wah, akhirnya pasangan yang ditunggu dari tadi datang juga." Ucap Dio seraya menepuk pundak Aga.
__ADS_1
"Pasangan? Pasangan apa maksud Kak Dio?" Lirih Amara heran.
***