
Aga dapat mengerti maksud perkataan Amara saat ini. Dibandingkan Amara, ia juga merasa tidak nyaman dengan sikap Anjani akhir-akhir ini. Jika biasanya Anjani tidak akan ikut campur dengan urusan pribadinya, namun akhir-akhir ini sebaliknya. Dan hal itulah yang membuat Aga menjadi tidak nyaman dekat dengan Anjani.
"Aku akan membahas hal ini dengan Anjani nanti." Jawab Aga.
"Ya, memang sebaiknya begitu, Kak. Agar aku dan Kak Anjani sama-sama nyaman setiap kali kami bertemu."
"Aku mengerti, Amara." ucap Aga lembut.
Amara tak lagi mengeluarkan suara karena menurutnya sudah cukup dirinya mengeluarkan segala unek-unek yang tersimpan di dalam hatinya sejak tadi. Dan Amara harap Aga bisa memberikan pengertian pada Anjani yang bisa membuat Anjani berubah tak lagi melibatkan dirinya dalam urusan hati Anjani.
Keheningan kembali menyelimuti Amara dan Aga saat keduanya tidak berniat mengeluarkan suara satu sama lain. Amara yang merasa bosan dengan keheningan di antara mereka memilih mengeluarkan ponsel dari saku tas sandangnya. Sementara Aga masih setia menatap sekitarnya dimana kini banyak anak-anak yang berlarian di depannya.
Bunyi deringan notifikasi yang terdengar secara beruntun mengalihkan perhatian Aga ke ponsel milik Amara. Dapat Aga lihat sekilas nama Rendra memenuhi layar notifikasi ponsel Amara. Aga segera mengalihkan perhatiannya dari ponsel milik Amara setelah melihat notifikasi tersebut. Ia membiarkan Amara berbalas pesan dengan Rendra sementara dirinya kembali fokus menatap anak-anak yang sedang berkeliaran di depannya.
__ADS_1
"Ada hubungan apa kau dengan pria itu?" Tanya Aga setelah melihat Amara tak lagi fokus pada ponsel di tangannya.
"Pria siapa yang Kakak maksud?" Tanya Amara heran.
"Tentu saja pria yang sering pergi berdua denganmu."
"Oh..." Amara mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Belum ada hubungan yang serius. Aku dan Rendra masih mencoba menjalin kedekatan satu sama lain." Jawab Amara jujur. Menurutnya dengan Aga mengetahui proses hubungannya dan Rendra saat ini bisa membuat Aga sadar jika dirinya tidak lagi mengharapkan Aga.
*
Tak berselang lama setelah percakapan singkat Aga dan Amara tentang Rendra selesai, Aga pun mengajak Amara untuk kembali ke hotel. Amara mengiyakan saja ajakan Aga karena saat ini tubuhnya sudah lelah dan membutuhkan waktu untuk istirahat.
Tidak ada lagi percakapan di antara Aga dan Amara selama berada di dalam perjalanan menuju hotel. Keduanya larut dalam pemikiran masing-masing. Hingga tiga puluh menit berlalu, Amara dan Aga pun akhirnya sampai di hotel tempat mereka menginap.
__ADS_1
Masuk ke dalam loby, Amara dan Aga dikejutkan dengan keberadaan Anjani yang sedang duduk di kursi tunggu bersama seorang pria yang berstatus sebagai asisten Anjani.
"Aga tunggu!" Anjani bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Aga.
"Ada apa Anjani?" Tanya Aga setelah mengalihkan pandangan dari wajah asisten Anjani.
"Bisa kita bicara sebentar?" Pinta Anjani. Dari pada ia bertanya Aga dari mana, lebih baik Anjani mengajak pria itu untuk berbicara empat mata lebih dulu.
"Bisa. Kebetulan ada hal yang ingin aku bicarakan juga kepadamu."
Senyuman di wajah Anjani terkembang setelah mendengar perkataan Aga. Anjani tengah menduga-duga jika Aga ingin meminta maaf karena tidak mengajaknya pergi bersama Amara tadi.
***
__ADS_1