
Agatha merasa semakin salut memiliki sahabat setulus dan sebijak Amara. Jika dirinya yang menjadi Amara, mungkin saat bertemu dengan Sisil tadi ia akan menjambak rambut wanita itu sampai Sisil meminta ampun.
"Kau memang wanita hebat tidak sama seperti diriku yang bar-bar ini." Kelakar Agatha.
Amara memukul pelan lengan Agatha. "Kau ini berlebihan sekali. Aku tidak hebat, hanya saja melakukan tugasku dengan baik sebagai sesama manusia."
Agatha mengangguk saja. Begitulah sahabatnya itu. Dipuji sebanyak apa pun tidak akan membuatnya menjadi besar kepala.
"Jadi kita mau kemana lagi habis ini? Apa mau ibadah dulu?" Tanya Agatha setelah melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam.
"Bagaimana kalau kita langsung ke mall saja? Kebetulan aku juga sedang datang bulan." Beri tahu Amara.
"Baiklah, kita langsung ke mall saja. Aku pikir kau sudah melupakan niat awal kita tadi."
"Tentu saja tidak. Sekarang ayo kita pergi." Amara menarik tangan sahabatnya itu menuju lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai besement.
__ADS_1
**
Empat puluh menit berlalu, Amara dan Agatha telah berada di dalam sebuah mall yang cukup ternama di ibu kota. Sejak awal masuk ke dalam mall, Amara dan Agatha tak menyurutkan senyum di wajah masing-masing setelah Amara menceritakan bagaimana kebucinannya dengan Aga.
"Tidak ku sangka Kakakku bisa lebay juga, ya!" Kelakar Agatha. Jika biasanya Aga terlihat sebagai pria datar, dingin dan tak tersentuh, namun berbeda saat bersama dengan Amara, Aga berubah menjadi pria manis dan sedikit lebay.
"Apa menurutmu perhatian pada pasangan itu termasuk lebay?" Tanya Amara dengan bibir mengerucut. Ia tak terima jika sang pujaan hati dikatakan lebay oleh sahabat sekaligus calon iparnya itu.
"Bagaimana tidak lebay, Amara. Kakakku sampai menawari membawa ponsel ke dalam kamar mandi hanya karena tidak ingin panggilan telefon kalian terputus!" Agatha meledakkan tawa di akhir perkataannya. Sungguh, ia merasa sikap Aga sungguh lebay atau bisa dibilang konyol.
Agatha tertawa-tawa. "Iya deh, iya!" Sahutnya tak ingin berdebat lebih lama.
Amara menggelengkan kepala melihat Agatha mengakhiri percakapan di antara mereka. Sambil melangkah bersama Agatha, Amara menyempatkan waktu untuk membalas pesan dari Aga yang mempertanyakan keberadaannya saat ini.
Agatha yang melihat Amara tersenyum-senyum sendiri sambil membalas pesan dari Aga pun dibuat geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Dasar duo bucin." Ucapnya dalam hati sambil menahan senyum.
Amara yang tidak menyadari jika Agatha tengah memperhatikan gerak-geriknya terus saja membalas pesan Aga sambil tersenyum malu-malu karena kini Aga meminta dirinya mengapload fotonya di mall.
"Waduh, hari ini Kak Aga minta kirim foto wajah, besok Kak Aga minta kirim foto apa lagi, ya." Ucap Amara dalam hati.
"Amara, apa kau sudah selesai senyum-senyum sendirinya?" Tanya Agatha di saat mereka hampir dekat dengan sebuah restoran yang menjadi tempat tujuan awal mereka saat ini.
"Sudah, eh... maksudnya bagaimana?" Tanya Amara terbata menyadari dirinya sudah asal menjawab tanpa mengerti maksud perkataan Amara.
"Maksudnya, kalau kau sudah selesai senyum-senyum sendiri sambil melihat foto Kakakku, bagaimana kalau kita langsung masuk ke restoran saja karena perutku sudah sangat lapar." Jawab Agatha seraya mencibir.
Amara jadi malu mendengarnya. "Emh, ya. Kita langsung masuk ke tempat makan saja." Setelah memasukkan ponsel ke dalam tas selempangnya, Amara pun menarik tangan Agatha masuk ke dalam restoran favorit mereka.
***
__ADS_1