Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Ancaman Richard


__ADS_3

"Richard?" Amara mengulang nama yang disebutkan oleh Agatha. Nama tersebut terdengar tidak asing di telinganya. "Kenapa aku merasa pernah mendengar nama itu, ya." Ucapnya seraya berpikir.


"Jelas saja kau pernah mendengarnya, Mara. Di dunia ini bukan hanya satu orang yang memiliki nama Richard!"


Amara menganggukkan kepalanya. "Iya juga, ya?"


Agatha berdehem lalu melajukan mobil milik Aga meninggalkan komplek perumahan tempat tinggal Amara.


"Jadi alasan apa yang membuatmu sering bertemu dengan pria yang bernama Richard itu? Apa kau sedang dekat dengannya saat ini?" Tanya Amara penasaran.


"Tidak. Apa yang kau katakan itu sangat salah!"


"Lalu? Kenapa kau sering bertemu dengannya?" Amara nampak bingung.


Agatha yang sebenarnya malas menceritakan awal mula permasalahannya dan Richard pun akhirnya menceritakannya karena desakan dari Amara. Sebagai pendengar, Amara mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti dengan penjelasan dari Agatha.


"Jadi Tuan Richard itu adalah salah satu klien di butikmu." Ucap Amara setelah mendengarkan penjelasan dari Agatha.

__ADS_1


"Ya, dan sekarang dia membuat masalah denganku karena memintaku membuatkan seragam acara pernikahan untuk keluarganya dan harus selesai dalam waktu dekat ini."


"Apa? Secepat itu?" Tanya Amara terkejut.


"Iya. Dia hanya memberi waktu satu minggu untuk aku menyelesaikan pesanan baju keluarganya itu!" Gerutu Agatha.


"Benar-benar di luar nurul." Amara menggelengkan kepalanya. Untuk menyelesaikan satu baju saja Agatha membutuhkan waktu beberapa hari untuk mendesain dan menjahit. Lantas bagaimana Agatha bisa menyelesaikan beberapa pesanan baju hanya dalam waktu dekat?


"Tapi kau bisa meminta tolong pada beberapa pegawaimu untuk membantu bukan?" Tanya Amara.


Amara sampai terbatuk-batuk mendengarnya. "Benar-benar tidak masuk akal!" Ucap Amara tak percaya.


Agatha menganggukkan kepalanya. 


"Jika kau tidak sanggup menyelesaikannya, kenapa tidak menolak permintaannya saja?" Amara dibuat bingung.


"Karena dia mengancamku, Mara. Jika aku tidak menyelesaikan pesanannya maka dia akan membuat repurtasi butikku menjadi hancur. Dan ancamannya itu terdengar tidak main-main." Gerutu Agatha.

__ADS_1


Amara menatap iba wajah Agatha yang nampak frustrasi saat ini. "Jika dia berani mengancammu seperti itu berarti dia bukanlah orang sembarangan bukan?" Tanya Amara.


Agatha menganggukkan kepalanya. "Dia salah satu pemimpin perusahaan di kota ini. Sebenarnya bisa saja aku meminta tolong Kak Aga atau Kak Daniel untuk menolongku keluar dari ancamannya, namun aku tidak ingin karena aku ingin membuktikan kepadanya jika aku bisa."


Amara meraih sebelah tangan Agatha dan menggenggamnya. "Semangat Agatha. Kau pasti bisa!" Semangatnya.


"Ya, doakan saja dalam waktu beberapa hari ini aku bisa menyelesaikan pesanannya dengan baik dan sesuai dengan keinginannya."


Amara mengaminkannya.


Mobil milik Aga terus melaju di jalan raya menuju salah satu kafe yang menjadi tempat tujuan Amara dan Agatha saat ini. Hingga akhirnya sepuluh menit berlalu, mobil milik Aga telah sampai di depan kafe yang dituju.


Agatha dan Amara segera turun dari dalam mobil lalu melangkah masuk ke dalam kafe. Melihat suasana di dalam kafe yang nampak cukup ramai sore itu membuat Agatha dan Amara sedikit kesusahan mencari meja yang masih kosong.


"Silahkan ke lantai dua saja, Nona. Di lantai dua masih ada beberapa meja yang masih kosong." Ucap salah satu pelayan pada keduanya.


***

__ADS_1


__ADS_2