Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Indahnya Dicintai


__ADS_3

Setelah hampir dua jam menunggu di balkon kamar, ternyata sosok yang diharapkan Aga keluar dari dalam kamarnya tak kunjung keluar juga. Aga yang sudah merasa bosan memilih kembali masuk ke dalam kamarnya. Di dalam pemikiran Aga kini tengah berpikir jika mungkin Amara sudah tidur hingga tidak keluar lagi dari dalam kamarnya seperti malam kemarin.


Dan tentu saja dugaan Aga salah besar. Karena nyatanya Amara bukan tertidur di dalam kamar melainkan asik menelepon dengan Rendra hingga berjam-jam lamanya. Amara yang merasa sudah mengantuk pun akhirnya tertidur tanpa menyadari jika panggilan teleponnya dengan Rendra masih terhubung.


"Dia pasti lelah hingga tertidur seperti ini." Gumam Rendra sambil menatap layar ponselnya yang masih menunjukkan panggilan telefon dengan Amara masih terhubung. Rendra tidak ingin mematikan sambungan telefon tersebut walau mengetahui Amara sudah tidur. Ia membiarkan panggilan tersebut tetap terhubung hingga berjam-jam lamanya.


**


Malam sudah berganti pagi. Amara yang sudah tertidur berjam-jam lamanya akhirnya terjaga dari tidur panjangnya. Sebuah ponsel yang berada tidak jauh dari bantal menjadi pusat perhatian Amara saat ini. "Kenapa alarm ponselku tidak berbunyi?" Gumam Amara bingung karena pagi ini ia terjaga lebih lama dari hari kemarin setelah melihat jam menggantung di atas dinding sudah menunjukkan pukul lima pagi.

__ADS_1


Amara segera meraih ponsel tersebut. Kedua kelopak matanya terbuka lebar melihat layar ponsel masih menunjukkan panggilan telefon yang terhubung dengan Rendra. "Astaga, dia tidak mematikan sambungan teleponnya?" Gumam Amara melihat waktu telefon mereka sudah berlangsung selama sembilan jam.


Amara menempelkan ponsel ke daun telinganya. Dari pendengarannya di telefon saat ini terdengar suara bising di sana. Dapat Amara tebak jika saat ini Rendra sudah bangun dan sedang melakukan kegiatan di dalam kamarnya.


"Rendra," Amara mencoba bersuara. Memastikan apakah Rendra mendengar suaranya atau tidak.


"Mara, kau sudah bangun?" Suara Rendra terdengar menyahut dari jauh.


Kali ini terdengar suara kebisingan dari jarak dekat. Ternyata di seberang sana Rendra tengah mengambil ponselnya yang ia taruh di atas nakas. "Karena aku ingin menemanimu tidur walau dari jarak jauh." Jawab Rendra.

__ADS_1


Amara tersipu malu mendengarnya. Kedua pipinya pun terasa hangat setelah mendengar perkataan Rendra. "Kau ini bisa saja. Kalau begitu aku matikan sambungan teleponnya dulu, ya. Aku ingin mandi dan bersiap-siap.


"Baiklah. Sampai bertemu di sambungan telefon berikutnya, Mara."


Jawaban yang Rendra berikan kembali membuat Amara malu mendengarnya. "Rendra ini kenapa semakin hari semakin manis saja, ya." Gumam Amara. Jika dulu ia akan bersikap biasa saja mendapatkan perlakuan manis dari Rendra, namun kini sebaliknya. Amara mudah sekali merasa malu dan merona mendapatkan perlakuan hangat dari Rendra.


"Ternyata begini indahnya rasanya dicintai bukan hanya mencintai." Gumam Amara. Kini Amara menyadari jika merasa dicintai akan lebih baik dari pada merasa mencintai. Dicintai oleh seseorang seperti Rendra membuat hari-harinya terasa berbunga-bunga. Sementara saat hanya mencintai Aga, Amara hanya sering merasakan peliknya kehidupan karena Aga tak kunjung membalas cintanya.


Mengingat nama Aga tiba-tiba saja membuat Amara teringat akan sesuatu. Amara segera mengecek ponselnya untuk memastikan apakah Aga meneleponnya seperti pagi kemarin atau tidak. Dan benar saja, ternyata ada panggilan masuk tak terjawab dari Aga beberapa menit yang lalu.

__ADS_1


***


__ADS_2