
Amara dengan perlahan melepaskan genggaman tangan Aga. Dan pergerakannya itu lantas saja membuat Aga menatapnya dengan intens.
"Untuk saat ini aku sedang tidak ingin memikirkan tentang cinta, Kak." Lirih Amara. Entah mengapa ungkapan cinta dari Aga tak membuatnya bahagia. Amara justru takut apa yang Aga katakan kepadanya hanya untuk menyenangkan hatinya saja.
"Apa kau tidak percaya dengan ungkapan cintaku ini, Amara?" Tanya Aga. Ia menebak jika Amara masih meragu dengan perkataannya.
Amara menggeleng dusta. "Aku hanya ingin fokus menyembuhkan hatiku yang sedang terluka, Kak. Semoga Kakak dapat mengerti." Ucap Amara.
Aga dapat mengerti maksud permintaan Amara saat ini. Ia pun memilih tak memaksa Amara untuk menerima cintanya saat ini.
Mungkin saat ini adalah karma yang harus ia jalani dimana dirinya dituntut untuk berjuang mengambil hati Amara seperti apa yang Amara lakukan beberapa bulan lalu kepadanya.
Aga menjauhkan tubuhnya dari Amara. Ia mengatur napas kemudian melanjutkan kembali perjalanan mereka menuju rumah Amara.
Sisa perjalanan menuju kediamannya dilewati Amara dengan keheningan. Terlalu banyak hal yang Amara pikirkan akhir-akhir ini. Dan pemikirannya pun semakin bertambah karena mendengar kembali ungkapan cinta dari Aga yang terdengar bersungguh-sungguh.
"Aku tidak boleh bersikap gegabah. Jangan sampai aku seperti memanfaatkan cinta Kak Aga untuk menghilangkan rasa sakit karena ditinggal menikah oleh Rendra." Ucap Amara dalam hati. Walau tak bisa menampik lebih dari separuh hatinya masih tertinggal untuk Aga, namun Amara tak lantas ingin menerima cinta Aga begitu saja. Amara pikir ia harus bersikap dewasa membenahi hatinya yang sempat jatuh kepada Rendra.
__ADS_1
Mobil milik Aga terus melaju hingga akhirnya tiba di depan rumah Amara yang nampak sepi.
"Apa Kak Aga mau mampir dulu?" Tawar Amara.
Aga memperhatikan rumah Amara yang nampak terkunci. "Apa tidak masalah?" Tanya Aga.
"Tidak masalah, Kak. Kalau Kakak mau mampir ayo masuk dulu, Kak. Aku akan membuatkan minum untuk Kakak." Ajak Amara.
Aga yang tak ingin melewatkan kesempatan begitu saja pun akhirny mengiyakannya. Ia segera membuka seat belt yang membalut tubuhnya kemudian keluar dari dalam mobil.
Amara yang tak ingin lagi dibantu Aga membuka pintu mobil pun segera keluar dari dalam mobil sebelum Aga sempat membukakan pintu mobil untuknya.
Aga mengangguk kemudian melangkah ke arah pintu rumah.
Amara pun segera membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang ia punya. Setelah pintu rumah terbuka, Amara lantas saja mempersilahkan Aga untuk masuk.
"Aku akan membuatkan minum untuk Kakak dulu. Tunggu sebentar, ya." Pamit Amara.
__ADS_1
Aga mengangguk saja. Kebetulan tenggorokannya sudah terasa kering dan membutuhkan air untuk menghilangkan dahaganya.
Tak berselang lama, Amara telah kembali dengan membawa segelas air dingin untuk Aga. Ia segera menghidangkan air untuk Aga di atas meja lalu kemudian duduk di sofa yang berhadapan dengan Aga. "Ayo diminum dulu, Kak." Ucap Amara.
Aga mengangguk. "Terima kasih." Ucapnya lalu meraih gelas di atas meja.
Keheningan pun mulai menyelimuti Aga dan Amara setelah Aga meminum air pemberian Amara.
Ehm...
Aga berdehem untuk memecahkan keheningan di antara mereka. Mendengar deheman Aga, lantas saja membuat Amara menatap ke wajah Aga.
"Ada apa, Kak?" Tanya Amara saat melihat Aga sepertinya ingin mengungkapkan sesuatu kepadanya.
"Mara, dulu kau pernah meminta izin kepadaku untuk berjuang mendapatkan cintaku. Dan sekarang, aku ingin balik meminta izin kepadamu untuk berjuang mendapatkan cintamu kembali. Apa kau bersedia memberikan izin itu kepadaku, Amara?" Tanya Aga penuh harap. Ia tak ingin menyerah begitu saja walau Amara sudah memberikan pernyataan jika dirinya tak ingin terlibat dalam urusan cinta untuk saat ini.
***
__ADS_1
Sebelum lanjut, jangan lupa like, komen, gift dan votenya dulu ya. Dan jangan lupa follow instagram @shy1210 untuk seputar info karya shy. Terima kasih🪴