
Setelah drama kenakalan Farhan dan Fahri berakhir, akhirnya Papa Alexander pun mengajak keluarganya yang sudah datang untuk menikmati jamuan makan malam yang sudah tersedia.
Jika biasanya Amara akan sangat senang sekali jika Zeline berupaya agar dirinya bisa duduk di sebelah Aga, kini justru berbeda. Amara tak memanfaatkan kesempatan yang Zeline berikan dan memilih tetap duduk di posisinya.
Agatha yang sangat menyadari perubahan sikap Amara pun hanya bisa tersenyum. Ia tahu kini Amara mulai belajar melupakan Aga dan berniat memulai hubungan yang baru dengan Rendra.
Setengah jam berlalu, akhirnya acara makan malam bersama pun selesai. Papa Alex yang berstatus sebagai tuan rumah pun mengajak keluarganya untuk pindah duduk ke ruang keluarga dan berbincang ringan di sana.
Di saat situasi sedang serius seperti saat ini, Farhan dan Fahri pun menunjukkan sifat baik mereka. Keduanya hanya duduk diam di atas sofa sambil menatap wajah keluarganya secara bergantian. Dara yang melihat sikap baik kedua anaknya pun merasa lega dan tersenyum bangga.
Di tengah pembicaraan yang sedang berlangsung, pandangan Papa Alex pun tertuju pada Amara yang nampak tengah memusatkan pandangan kepadanya. "Oh ya, Mara, Paman rasa saat ini usiamu tak lagi muda begitu pula dengan Agatha. Apa saat ini kalian sudah berniat untuk menikah?" Tanya Papa Alex.
__ADS_1
Amara dan Agatha yang disebutkan namanya saling pandang.
"Kalau Gatha belum, Paman. Mungkin Amara sudah." Jawab Agatha.
Papa Alex mengembangkan senyum menatap wajah Amara. "Benar begitu, Mara? Kalau benar Paman sangat senang sekali. Sebagai hadiah pernikahanmu, Paman akan memberikan fasilitas hotel untukmu menikah." Ucap Papa Alex. Walau Amara bukanlah anak kandungnya, namun Papa Alex sudah menganggapnya sebagai anak sekaligus adik dari Daniel. Sama seperti dirinya menganggap Agatha.
Amara tersenyum kaku. Terlebih kini pandangan semua orang terpusat kepadanya seolah menuntut jawaban.
Bu Fatma yang mendengarkan putri bungsunya akan menikah pun tersenyum. Sementara Naina memasang wajah bingung karena tengah memikirkan siapakah calon adik iparnya. Apakah Aga? Tapi Naina rasa tidak mungkin mengingat ia sempat mendengar jika Amara sudah menyerah mengejar cinta Aga.
"Paman pasti selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anak Paman."
__ADS_1
Amara dan yang lainnya tersenyum mendengarnya. Daniel yang sejak tadi mencuri pandangan pada wajah Aga pun berdehem.
"Papa ini bagaimana sih, kenapa bertanya pada Amara dan Agatha saja, kenapa Kak Aga tidak?" Ucap Daniel.
Aga menatap malas pada adik sepupunya yang sedang melempar batu ke arahnya.
Papa Alex yang diberikan pertanyaan pun tersenyum. "Aga sepertinya akan secepatnya. Kemarin Papa sempat melihat Aga dan anak rekan bisnis Papa tengah berjalan berdua. Dari rumor yang beredar mengatakan jika Aga dan anak dari teman Papa itu sudah menjalin hubungan yang dekat." Ucap Papa Alex.
"Paman jangan terlalu cepat menyimpulkan sesuatu. Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya teman dan selamanya akan tetap begitu." Ucap Aga datar dan penuh penekanan.
Papa Alex yang mengerti jika Aga tidak menyukai perkataannya pun mengangguk. "Baiklah, Aga. Sama seperti Amara dan Agatha, Paman juga mendoakan yang terbaik untukmu. Semoga hendaknya anak-anak Paman mendapatkan jodoh yang baik. Dan kalau bisa saling berjodoh." Ucap Papa Alex penuh maksud di akhir perkataannya.
__ADS_1
***