
Ting
Pintu lift terbuka. Seseorang yang sedang menunggu di depan pintu lift nampak tercengang melihat pemandangan di depannya dimana tangan Aga sedang mengusap pipi Amara.
Menyadari jika pintu lift sudah terbuka dan seseorang di depan lift tengah menatap ke arahnya membuat Aga segera menurunkan tangan dari pipi Amara.
"Tuan Cakra?" Kedua mata Amara membola. Terkejut melihat keberadaan Cakra. Pria itu kini terlihat tengah menahan senyum menyebalkan pada Amara.
"Ayo keluar," Aga segera melangkah keluar dari dalam lift sebelum pintu lift kembali tertutup.
Amara pun turut melakukan hal yang sama.
Jika Amara memasang wajah malu melihat keberadaan Cakra, Aga justru santai saja.
"Kau ingin kemana?" Tanya Aga tanpa merasa canggung pada Cakra.
"Saya ingin menghampiri divisi keuangan, Tuan. Ada laporan yang ingin saya ambil di sana."
__ADS_1
Sebelah alis Aga terangkat. "Repot-repot sekali dirimu menjemput ke sana. Kau kan bisa meminta mereka yang mengantarkannya langsung ke ruangan kerjamu." Aga nampak heran.
Cakra mengulas senyum tipis. "Tidak masalah Tuan. Sekalian ada hal yang ingin saya beri tahu pada mereka."
Aga mengangguk saja. Membiarkan Cakra melakukan hal yang ingin ia lakukan.
Cakra pun akhirnya berpamitan masuk ke dalam lift. Sebelum masuk ke dalam lift, ia menyempatkan melirik kepada Amara dengan senyum menyebalkan yang tak bisa ditahan. "Saya masuk dulu Nona Amara." Ucapnya dengan suara yang terdengar menyebalkan di telinga Amara.
"Kau..." Amara melototkan kedua mata. Merasa sebal dengan sikap Cakra yang selalu mencoba menggodanya.
Setelah pintu lift kembali tertutup dan menghilangkan sosok Cakra dari pandangan mereka, Aga pun mengajak Amara untuk kembali melangkah.
Amara lantas saja menggelengkan kepala. "Saya bawa mobil sendiri, Tuan." Jawabnya sudah bersikap formal.
"Jika kau mau, aku bisa meminta salah satu karyawan membawakan mobil ke rumahmu." Aga masih mencoba menawar.
Amara menggelengkan kepala. "Tidak. Terima kasih, Tuan."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu." Aga pun melangkah pergi meninggalkan meja kerja Amara menuju ruangannya berada.
Melihat kepergian Aga membuat Amara dapat menghela napas lega sebab keberadaan Aga di dekatnya tadi berhasil membuat Amara sulit untuk bernapas dengan normal.
"Astaga... kenapa semakin ke sini sikap Kak Aga semakin manis saja. Dan apa itu tadi, Kak Aga menawariku pulang bersama padahal dia tau aku membawa mobil." Amara menggelengkan kepala. Merasa tak habis pikir dengan jalan pemikiran Aga.
Amara pun teringat dengan sikap Rendra yang juga sangat manis saat mencoba mendekatinya. "Apa semua pria akan terlihat manis sebelum mendapatkan pujaan hatinya. Tapi... apa Kak Aga serius ingin mendapatkan cintaku kembali?" Amara meragu. Terlebih hatinya masih saja takut ditinggal menikah untuk yang kedua kalinya.
Tring
Tring
Deretan notifikasi masuk ke dalam ponselnya mengalihkan pandangan Amara pada ponselnya yang baru saja ia letakkan di atas meja. Amara terkesiap melihat pesan di grup sudah menunjukkan angka 500 pesan lebih. Dengan hati ragu Amara segera membuka pesan di grup tersebut. Dan sedetik kemudian Amara menghembuskan napas kasar di udara karena tebakannya benar jika orang-orang di dalam grup sedang menggunjingnya saat ini.
"Apa jangan-jangan wanita yang dibilang Ulva tadi pagi adalah Amara?" Sebuah pertanyaan terbaca oleh Amara. Di bawah pertanyaan tersebut terlihat deretan orang-orang yang mengiyakan pertanyaan tersebut jika dirinya adalah wanita yang dicintai Aga saat ini.
"Astaga, belum apa-apa saja mereka sudah berani menggunjingkanku begini. Bagaimana bila nanti aku benar menjadi kekasih atau mungkin istri Kak Aga. Apa mereka akan menghajarku tanpa ampun?" Pikir Amara. Sedetik kemudian Amara pun tersadar dengan apa yang ia ucapkan baru saja. "Astaga, Mara. Kenapa kau jadi berpikir ingin menjadi istri Kak Aga seperti ini!" Rutuk Amara sambil memukul pelan kepalanya yang sudah berpikir yang tidak-tidak.
__ADS_1
***
Sebelum lanjut, jangan lupa like, komen, gift dan votenya dulu ya. Dan jangan lupa follow instagram @shy1210 untuk seputar info karya shy. Terima kasih🪴