Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Kedatangan Pujaan Hati


__ADS_3

Amara merasa waktu terlalu lambat berputar menuju jam pulang bekerja tiba. Sejak mengetahui keadaan Aga saat ini, Amara merasa tidak tenang. Ia terus memikirkan keadaan Aga. Menanyakan keadaan Aga pada Agatha pun sudah Amara lakukan. Namun tidak ada jawaban yang Amara dapatkan dari Agatha karena Agatha belum melihat pesan yang ia kirimkan.


Di tengah kegelisahannya, Amara teringat pada Rendra. Pria itu sejak semalam belum membalas pesan dan memberikan kabar kepadanya. Amara jadi penasaran kemana perginya pria itu sampai tidak mengabarinya seperti ini.


"Huh, kenapa aku jadi banyak pikiran begini!" Rutuk Amara. Karena terlalu banyak berpikir, Amara jadi melupakan pekerjaannya yang masih tersisa. Ia segera mengusir banyaknya pikiran di dalam benaknya lalu mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai.


*


Akhirnya waktu pulang yang ditunggu Amara tiba. Amara segera bergegas membereskan barang-barangnya di atas meja lalu segera bangkit untuk pergi. Rencananya, sore ini Amara ingin melihat keadaan Aga lebih dulu sebelum pulang ke rumahnya. Anggap lah keinginan Amara saat ini sebagai sikap profesionalnya sebagai sekretaris yang ingin menjenguk bosnya yang sedang sakit. 


Perjalanan menunu rumah sakit terasa lamban karena macetnya jalanan yang diisi kendaraan para pekerja yang baru saja pulang seperti dirinya.


Amara mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Sesekali ia menambah kecepatan mobilnya menjadi kencang saat melihat situasi memungkinkan.

__ADS_1


Hingga akhirnya empat puluh menit berlalu, Amara telah tiba di rumah sakit tempat Aga dirawat sekaligus rumah sakit tempat Dara bekerja.


Amara segera turun dari dalam mobilnya. Melangkah lebar menuju pintu masuk rumah sakit. Sebelum memasuki rumah sakit, Amara bertanya pada seorang security yang sedang berjaga di depan rumah sakit di lantai mana nama ruangan Aga dirawat saat ini.


Setelah mendapatkan jawaban, Amara segera melangkah lebar memasuki rumah sakit. Berjalan ke arah lift yang akan mengantarkannya ke lantai yang dimaksud oleh security. Dengan bermodalkan informasi dari security yang ia yakini mengetahui seluk beluk ruangan rumah sakit, akhirnya Amara pun telah tiba di lantai ruangan perawatan Aga.


Dari kejauhan, Amara dapat melihat Papa Andrew dan Agatha sedang berdiri di depan pintu membicarakan sesuatu yang nampak serius. Amara segera mempercepat langkahnya menghampiri keduanya.


"Mara?" Wajah Agatha terlihat terkejut menatap Amara yang sudah berada di depannya.


"Mara, kau datang ke sini." Ucap Agatha masih dengan ekspresi terkejut.


"Ya, aku mengetahui Kak Aga masuk rumah sakit dari Tuan Cakra. Gatha, kenapa kau tidak memberitahukan kepadaku jika Kak Aga masuk rumah sakit?"

__ADS_1


Agatha memandang Amara dengan raut wajah bersalah." Maafkan aku, Mara. Aku tidak sempat mengabarimu. Tadi pagi ponselku tinggal di rumah dan aku belum mengambilnya sampai sekarang."


Amara mengangguk paham. Ia mengerti Agatha pasti sangat cemas hingga melupakan  ponselnya yang tidak ia bawa.


"Mara, masuk lah. Kak Aga pasti senang melihat kedatanganmu." Ucap Agatha.


"Gatha..." Amara menatap Agatha datar.


"Iya, iya. Masuk lah." Jawab Agatha yang sudah paham dengan maksud tatapan Amara.


Amara mengangguk lalu dengan ragu membuka pintu ruangan perawatan Aga. Agatha pun memilih memberi ruang pada Amara untuk berduaan dengan Aga di dalam ruangan perawatan Aga.


"Amara?" Wajah Aga yang pucat menatap kedatangan Amara dengan senyuman tipis menghiasi wajahnya.

__ADS_1


Amara dapat melihat samar senyuman itu. Kaki jenjangnya pun melangkah ke arah ranjang Aga.


***


__ADS_2