Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Richard!


__ADS_3

Agatha membuka ganggang pintu kamar Amara dengan pelan karena mengetahui Amara masih tertidur saat ini. Setelah berhasil melesatkan tubuh dari pintu yang baru terbuka sebagian, Agatha pun menatap pada sosok Amara yang masih bergumul di dalam selimut.


"Astaga, anak ini tidur sudah seperti kerbau saja." Agatha menggelengkan kepala lalu melangkah mendekati ranjang. "Apa tidak masalah jika aku membangunkannya?" Agatha menimbang-nimbang. Namun mengingat Bu Fatma sudah memberikan pesan untuk membangunkan Amara, akhirnya Agatha pun tanpa pikir panjang lagi langsung saja membangunkan Amara dari tidur panjangnya.


Setelah dengan susah payah membangunkan Amara dari tidur panjangnya, akhirnya Amara pun membuka kedua kelopak matanya dengan malas.


"Gatha, kau mengganggu tidurku saja." Ucap Amara parau.


"Ck. Kau ini tidur sudah seperti orang pingsan saja, Mara. Sekarang ayo bangun. Bukannya kita sudah membuat janji bertemu jam 3 ini."


Amara bergumam seraya merubah posisi berbaring menjadi duduk. Beberapa kali ia mengusap kedua kelopak matanya mengusir rasa kantuk yang masih mendera.


"Apa kau masih mau malas-malasan di sini, Mara? Kalau benar begitu lebih baik aku pulang saja." Ancam Agatha.


Kedua mata Amara seketika cerah setelah mendengarkan ancaman Agatha. Ia ingat dengan jelas tujuan pertemuan mereka sore ini dan ia harus segera mempertanyakannya pada Agatha.

__ADS_1


"Siapa pria itu?" Tanya Amara tanpa basa-basi.


Agatha mendengus mendengarnya. "Aku akan menjawabnya jika kau sudah selesai bersiap-siap untuk pergi."


Amara yang mengerti jika Agatha tidak main-main dengan perkataannya segera bangkit dari ranjang dan berlari ke arah kamar mandi. Walau punggungnya masih terasa sakit saat ini namun Mara tak memperdulikannya. Menurutnya jawaban dari Agatha lebih penting dari rasa sakitnya.


Agatha dibuat menggelengkan kepala melihat Amara yang begitu bersemangat menunggu jawaban darinya. Sambil menunggu Amara mandi, Agatha memilih membaringkan tubuh ke atas ranjang sambil memainkan ponsel di tangannya.


Ting


Agatha memilih mengabaikan pesan tersebut. Ia tidak peduli jika seseorang di seberang sana akan marah dengan sikapnya saat ini. Menurutnya, apa yang ia lakukan saat ini sudah benar. Terlebih hari ini bukanlah hari bekerjanya.


"Apa dia tidak mau menikmati waktu liburnya dengan tenang juga? Kenapa justru menggangguku seperti ini!" Geram Agatha.


Sepuluh menit berlalu, akhirnya Amara keluar dari dalam kamar mandi. Amara segera melangkah ke arah lemari dan dengan gerakan cepat mengganti pakaiannya di sana.

__ADS_1


"Aku sudah siap!" Seru Amara setelah mengeringkan dan menyisir rambutnya.


"What, kau yakin sudah siap? Kau bahkan belum memoleskan lipstik ke bibirmu!"


"Aku bisa memolesnya di dalam mobil nanti. Sekarang ayo kita pergi. Aku sudah tidak sabar menanti jawaban darimu!"


Agatha memilih mengangguk saja mengiyakan perkataan Amara. Keduanya pun keluar dari dalam kamar dan berpamitan pada Bu Fatma untuk pergi keluar.


Setibanya di luar rumah, Amara dibuat terkejut melihat mobil yang dibawa oleh Agatha. "Kau membawa mobil Kak Aga?" Tanya Amara.


Agatha mengangguk mengiyakannya lalu mengajak Amara masuk ke dalam mobil.


"Jadi siapa pria itu?" Tanya Amara cepat setelah Agatha ikut masuk ke dalam mobil.


"Kau pasti tidak mengenalinya. Dia adalah pria menyebalkan bernama Richard." Jawab Agatha malas sambil memasang seat beltnya.

__ADS_1


***


__ADS_2