
Amara jadi dibuat kepikiran dengan informasi yang diberitahukan Ibunya kepadanya beberapa jam yang lalu. Bukan hanya kepikiran, Amara juga dibuat bingung mengapa Rendra sampai saat ini belum mengaktifkan jaringan di ponselnya hingga membuat pesan yang sejak tadi ia kirim belum masuk ke dalam ponsel Rendra sampai saat ini.
Ingin sekali rasanya Amara menelefon pria itu. Menanyakan keberadaannya dan kabarnya, namun Amara merasa urung mengingat ia tidak biasa melakukannya lebih dulu.
Amara jadi galau. Bingung harus melakukan apa. Sebuah nama pun terlintas di kepala Amara.
"Agatha, ya, lebih baik aku hubungi Agatha saja untuk meminta pendapat." Tanpa pikir panjang Amara lantas saja melakukan panggilan telefon dengan Agatha. Namun setelah melakukan panggilan selama tiga kali, panggilan tak kunjung diangkat oleh Agatha.
"Kenapa Agatha tidak mengangkat telefonku, ya. Tumben sekali." Amara menghembuskan napas kasar di udara.
Tak menemukan solusi sama sekali, jadi lah Amara memilih mengistirahatkan tubuhnya lebih awal malam itu.
**
Waktu sudah berganti pagi. Amara yang tidur lebih awal tadi malam akhirnya terbangun lebih cepat pagi ini. Berniat memanfaatkan waktu yang ada sebelum bersiap-siap untuk pergi ke kantor, Amara memilih membantu Ibu membuat sarapan di dapur. Seperti biasa, Amara memilih membantu untuk menyiapkan bahan-bahan masakan saja karena sejujurnya ia belum pandai jika disuruh terjun langsung untuk memasak.
__ADS_1
Setelah hampir satu jam berada di dapur, akhirnya Amara kembali ke dalam kamarnya. Melihat ponselnya yang tergeletak di atas nakas, Amara pun teringat akan sesuatu dimana Rendra belum membalas pesannya tadi malam.
Merasa penasaran apakah Rendra sudah membalas pesannya atau belum, Amara pun segera mengambil ponselnya dari atas nakas.
Huft...
Amara harus menelan kekecewaan karena ternyata Rendra belum membalas pesan darinya. Bukan hanya belum membalas, pesan yang ia kirim pun belum masuk ke dalam ponsel Rendra.
Tak ingin banyak berpikir di pagi hari, Amara segera bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Ia tidak ingin moodnya menjadi buruk hanya karena Rendra belum membaca pesan darinya.
**
"Selamat pagi, Tuan Cakra." Amara menyapa.
Cakra hanya mengangguk lalu masuk ke dalam ruangan kerjanya. "Kenapa Tuan Cakra nampak aneh, ya?" Tanyanya bingung.
__ADS_1
Setelah hampir satu jam duduk di kursi kerjanya, Aga tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Amara jadi penasaran, apakah Aga tidak masuk bekerja pagi ini? Jika benar, kenapa Aga tidak mengabarinya seperti biasanya? Amara jadi bertanya-tanya.
Amara mencoba kembali fokus pada pekerjaanya tanpa memperdulikan kehadiran Aga lagi. Menurutnya, mungkin saja Aga datang terlambat pagi ini karena ada urusan penting yang harus ia selesaikan lebih dulu sebelum pergi ke kantor.
Waktu semakin bergulir dan kini sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Amara yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya meregangkan otot-otot jari dan punggungnya yang terasa kaku
Ceklek
Suara pintu ruangan kerja Cakra yang terdengar terbuka mengalihkan pandangan Amara ke sumber suara.
"Tuan Cakra?" Amara menyapa diikuti senyuman manis di wajah cantiknya.
Cakra hanya mengangguk lalu mendekati meja kerja Amara. "Amara, saya mau pergi ke rumah sakit dulu. Jika ada yang mencari saya dan Tuan Aga, katakan saja untuk menemui saya esok hari."
"Baik, Tuan. Tapi, kenapa Tuan ingin ke rumah sakit. Memangnya siapa yang sakit?"
__ADS_1
Cakra menghela napas dalam. Raut wajahnya berubah cemas. "Tuan Aga. Tadi pagi Tuan Aga muntah-muntah dan hampir pingsan hingga akhirnya dilarikan ke rumah sakit."
***