
"Kak Aga..." Amara tergugu. Terkejut sekaligus tak percaya dengan lamaran secara tiba-tiba yang Aga lakukan.
"Aku mungkin adalah pria yang pernah melukai hatimu, Amara. Dan aku juga pria yang akan mengobati luka di hatimu itu." Aga semakin menggenggam erat tangan Amara. Menyalurkan rasa cintanya yang tulus lewat tatapan matanya.
Amara dapat melihat kesungguhan di wajah Aga saat menyatakannya. Tanpa ia sadari, air matanya pun meleleh di sudut matanya.
Aga menatap wajah Amara penuh harap. Di dalam hati ia berdoa agar Amara dapat menerima lamarannya.
Ditatapa demikian oleh Aga membuat Amara semakin sulit untuk berkata-kata. Jujur saja ia masih tidak merasa percaya diri untuk menjadi pendamping Aga mengingat perbedaan kasta di antara mereka. Entahlah, perkataan Ane dan Sisil kemarin masih saja membekas di hatinya.
"Kenapa kau diam saja?" Tanya Aga lembut.
"Maafkan aku, Kak. Aku belum bisa menjawabnya untuk saat ini." Lirih Amara. Bukannya berniat menggantung perasaan Aga. Hanya saja Amara harus meyakinkan dirinya lebih dulu. Terlebih rasa trauma ditinggal menikah masih terasa di hatinya.
Wajah Aga berubah lesu mendengar jawaban Amara yang tidak sesuai dengan harapannya. "Apa kau masih ragu dengan rasa cintaku kepadamu, Mara? Apa aku terlihat bermain-main dalam mencintaimu?"
__ADS_1
Amara menggeleng lemah. "Tidak begitu, Kak. Hanya saja aku ingin meyakinkan hatiku lebih dulu. Mohon beri aku waktu untuk menjawab." Pinta Amara.
Aga mengusap sudut mata Amara yang terus melelehkan cairan bening. Dengan kondisi Amara yang sedang sakit seperti saat ini, sepertinya ia memang tak bisa berharap lebih.
"Baiklah, aku akan menunggu." Putus Aga. Memasang wajah tersenyum walau dalam hati sangat kecewa.
Kedatangan Ayah Arif dan Ibu Fatma masuk ke dalam ruangan membuat Aga melepaskan genggaman tangannya pada Amara.
"Bibi, Paman..." Aga bangkit dari posisi duduk. Menghampiri Ayah Arif dan Ibu Fatma kemudian menyaliminya.
"Belum lama, Bu." Jawab Aga ramah.
Bu Fatma tersenyum. "Duduklah lagi. Ibu hanya sebentar saja ke sini. Mau melihat keadaan Amara apa sudah semakin membaik dari subuh tadi."
Aga mengangguk. Ia memilih memberikan ruang pada Ayah dan Ibu Amara untuk berbicara dengan putrinya.
__ADS_1
Melihat sudut mata Amara yang basah membuat Ibu menatap wajah putrinya penuh tanya.
"Mara tidak apa-apa, Bu." Ucap Amara sebelum sang ibu bertanya.
Bu Fatma tentu tak percaya. Namun ia memilih tak banyak tanya dan akan mempertanyakannya nanti.
Deringan ponsel Aga yang terdengar cukup keras membuat Aga segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dilihatnya nama yang tertera di layar ponsel memperlihatkan nama sang papa di sana.
Aga segera berpamitan keluar untuk mengangkat telefon. Firasatnya mengatakan jika ada hal buruk yang sudah terjadi dan ingin disampaikan Papa Andrew kepadanya.
Dan benar saja, baru saja panggilan terhubung, Papa Andrew sudah langsung menyampaikan kabar jika orang kepercayaan mereka yang mengurus perusahaan di luar negeri kabur membawa seluruh surat aset kepemilikan perusahaan.
Aga dibuat gundah. Tak bohong jika ia merasa khawatir dengan kondisi perusahaan keluarganya berada di ambang kehancuran. Namun walau pun begitu, Aga mencoba tetap tenang agar Papa Andrew tak terlalu cemas.
"Papa tenang saja. Aku akan segera berangkat ke luar negeri untuk menyelesaikan masalah ini." Ucap Aga sebelum menutup panggilan telefon Papa Andrew.
__ADS_1
***