Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Pernikahan Dimajukan


__ADS_3

Pulang dari rumah sakit, Amara dan Agatha memilih langsung pulang ke kediaman Agatha sebab ada hal penting yang katanya ingin Aga bicarakan dengan Amara di rumahnya. Selama berada dalam perjalanan menuju kediaman Agatha dan Aga, Amara berpikir dan menebak-nebak hal penting apa yang ingin Aga bicarakan kepadanya.


"Menurutmu Kakakmu mau membicarakan apa kepadaku, Gatha?" Tanya Amara yang sudah buntu untuk menebak-nebak.


Agatha yang sedang fokus menyetir mengangkat kedua bahunya. "Aku juga tidak tahu. Lebih baik kau cari tahu jawabannya nanti setelah sampai di rumahku."


Amara mengangguk mengiyakannya. Bertanya pada Agatha pun sudah jelas tidak mendapatkan jawaban pasti sebab Agatha tidak diberitahu oleh Aga tentang apa yang ingin Aga bicarakan kepadanya.


"Oh ya, Gatha, menurutmu siapa orang baik yang sudah membantu Sisil, ya. Kenapa aku merasa sosok itu sangatlah misterius." Tanya Amara kembali.


Agatha kembali mengangkat kedua bahunya. "Aku juga tidak tahu, Mara. Aku juga penasaran untuk itu. Siapa orang yang sudah berbaik hati membantu Sisil. Nominal uang yang dibantu juga gak sedikit, loh. Aku yakin yang membantunya bukanlah dari kalangan sembarangan."


Amara terdiam. Entah mengapa ia jadi penasaran dengan sosok misterius yang sudah membantu Sisil itu. Jika orang yang membantu Sisil adalah teman dekatnya, rasanya tidak mungkin sebab orang-orang yang dekat dengan Sisil masih terbilang golongan bawah sama seperti dirinya.


"Sungguh misterius sekali. Buat aku jadi penasaran saja." Gumam Amara.

__ADS_1


Agatha yang mendengarkannya pun menganggukkan kepalanya. Entah mengapa kali ini ia juga penasaran dengan sosok baik hati yang sudah mau membantu Sisil dan ibunya.


**


**


Mobil yang dikendarai Agatha kini telah tiba di depan rumah. Amara dan Agatha langsung saja keluar dari dalam mobil setelah Agatha mematikan mesin mesin mobilnya.


"Ayo masuk, Mara!" Ajak Agatha sebagai tuan rumah.


Setibanya di ruang tengah, kedatangan mereka disambut dengan senyuman di wajah Aga dan Papa Andrew yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan keduanya.


Melihat Papa Andrew juga berada di tempat yang sama dengan Aga, membuat Amara kembali menebak hal penting apa yang ingin dikatakan Aga kepadanya.


"Ayo duduk dulu." Ucap Aga lembut pada Amara.

__ADS_1


Amara mengangguk kemudian duduk di sofa yang berhadapan dengan Papa Andrew dan Aga.


Suasana di ruang tengah rumah Papa Andrew pun terasa tegang oleh Amara sebab Aga dan Papa Andrew belum membuka suara justru saling berpandangan lewat tatapan mata.


"Amara, ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepadamu tentang pernikahan kita." Ucap Aga pada akhirnya membuka percakapan di antara mereka.


Detak jantung Amara berdegub tak karuan mendengar kata pernikahan yang keluar dari mulut Aga.


"Apa itu, Kak?" Tanya Amara.


"Setelah menceritakan kesibukanku dua bulan lagi pada kedua orang tuamu dan Papa, aku dan keluarga kita sudah mengambil keputusan agar pernikahan kita yang rencananya dilangsungkan dua bulan lagi dimajukan menjadi bulan depan." Beri tahu Aga.


"Apa?" Kedua bola mata Amara membola. Terkejut tak percaya mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Aga.


"Ya. Aku dan keluarga kita mencemaskan jika akan terjadi sesuatu yang tak terduga saat aku berada di luar negeri nantinya yang bisa membuat pernikahan kita jadi tertunda. Maka untuk mengantisipasi kesibukan tak terduga yang terjadi nanti, akhirnya kami memutuskan untuk memajukan jadwal pernikahan kita. Dan saat aku pergi nanti, aku bisa membawamu ikut juga bersamaku."

__ADS_1


***


__ADS_2