
Dengan kondisi kepalanya yang masih terasa sakit akibat baru saja dijahit, Aga tetap melanjutkan pekerjaannya meninjau proyek pembangunan perumahan yang sedang berlangsung. Segala larangan Anjani agar Aga kembali ke hotel saja dan membiarkan dirinya dan Amara yang melanjutkan peninjauan tak dipedulikan oleh Aga.
"Aga, kau ini keras kepala sekali." Anjani sampai menggelengkan kepala melihat sikap keras Aga.
Aga tak menghiraukan perkataan Anjani. Ia terus saja melakukan apa yang ia inginkan saat ini. Amara pun tak berani mengeluarkan suara. Sampai saat ini masih menyimpan rasa bersalah pada Aga karena sudah membuat pria itu terluka.
"Kenapa kau dari tadi diam saja?" Aga akhirnya melontarkan sebuah pertanyaan pada Amara setelah hampir satu jam berada di lokasi proyek namun Amara masih diam saja.
"Saya tak apa, Tuan." Amara berucap formal seraya mengulas senyum.
Aga dapat merasakan dan melihat gelagat aneh Amara saat ini. Walau begitu, ia memilih tak berkomentar dan membiarkan Amara kembali diam hingga akhirnya mereka kembali ke hotel setelah selesai melakukan peninjauan.
"Aga, apa kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Anjani saat baru saja keluar dari dalam mobil milik Aga.
__ADS_1
"Tidak ada. Aku hanya ingin istirahat dan jangan diganggu."
"Tapi bagaimana dengan kepalamu?" Anjani memastikan. Ia memperlihatkan pada Aga jika sangat memperdulikan pria itu.
"Memangnya ada apa dengan kepalaku? Hanya luka kecil dan tidak perlu dikhawatirkan."
Anjani dibuat bungkam. Akhirnya ia mengangguk mengiyakan perkataan Aga dan tak lagi berniat bertanya hingga akhirnya sampai di lantai tempat kamar penginapannya berada.
"Semoga saja dengan kejadian tadi membuat Aga sadar jika aku sangat peduli kepadanya." Gumam Anjani sambil melangkah ke arah kamar penginapannya berada. Di dalam pemikirannya saat ini, Anjani sangat berharap jika Aga akan terbayang dengan kebaikan dan perhatiannya selama setengah hari ini hingga Aga terus terbayang dengan wajahnya.
*
"Ada apa Kak Aga?" Tanya Amara. Wajahnya yang biasanya ceria kini nampak murung entah karena apa.
__ADS_1
"Kenapa dari tadi hanya diam saja, hem?" Aga balik melontarkan sebuah pertanyaan pada Amara.
Amara memusatkan seluruh pandangannya pada wajah Aga. Wajahnya yang murung kini nampak sendu diikuti kedua bola mata yang berkilat merah. "Aku merasa bersalah pada Kak Aga. Belum satu hari berada di sini saja aku sudah membuat kekacauan dan membuat Kakak jadi terluka." Amara menyuarakan isi hatinya.
Kerutan halus terlihat jelas di dahi Aga. "Kenapa kau kembali menyalahkan dirimu? Bukankah sudah aku katakan jika kau tidak bersalah?"
"Tapi aku merasa bersalah, Kak. Batu itu harusnya mengenai kepalaku bukan kepala Kakak. Dan Kakak kenapa memilih menolongku? Lebih baik Kakak biarkan saja batu itu mengenai kepalaku dari pada mengenai kepala Kakak." Suara Amara terdengar sedikit bergetar saat mengatakannya.
Aga mendesah-kan napas kasar di udara. "Kenapa kau harus bertanya seperti itu? Aku tidak mungkin membiarkan batu itu mengenai kepalamu. Mungkin saja luka di kepalamu akan lebih lebar dari pada aku saat ini jika aku membiarkannya."
"Tidak masalah, asal..." perkataan Amara terhenti karena Aga tiba-tiba saja membawa tubuhnya ke dalam pelukannya.
"Jika diam seperti ini kau jauh lebih manis." Ucap Aga pelan."
__ADS_1
***