Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Tersudutkan


__ADS_3

"Hust..." Sisil menaruh jari telunjuk di bibir meminta Ane mengecilkan suaranya sebab kini pandangan orang-orang yang berada di ruangan tersebut mengarah kepada mereka.


"Kau pulang dengan Tuan Cakra? Apa kau tidak bercanda?" Tanya Ane dengan suara yang sudah berubah pelan.


Sisil mengedarkan pandangan lebih dulu untuk memastikan sekitarnya jika tidak ada yang mendengar percakapannya dan Ane selain mereka berdua.


Setelah memastikan situasi aman, Sisil pun menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Ane.


"Astaga, bagaimana bisa, Sisil?" Tanya Ane dengan wajah yang nampak terkejut tak percaya.


Sisil pun mendekatkan bibirnya ke kuping Ane kemudian menjelaskan hal yang terjadi kemarin hingga akhirnya dirinya memutuskan pulang bersama Cakra.


Mendengar cerita Sisil, lantas saja membuat kedua kelopak mata Ane terbuka semakin lebar. "Oh my god... beruntung sekali dirimu Sisil." Ucap Ane.


Sisil menggelengkan kepalanya merasa tak setuju dengan kata beruntung yang diucapkan oleh Ane. Agar tak salah paham, ia pun menjelaskan dengan rinci jika ia menerima tawaran Cakra karena keadaan yang memaksa.


"Tidak ku sangka jika Tuan Cakra baik juga. Dia sampai repot-repot mau mengantarkanmu." Puji Ane.


Sisil menghela napas dalam. Kemudian kepalanya mengangguk membenarkan perkataan Ane. "Mungkin aslinya Tuan Cakra memang baik pada siap saja." Ucap Sisil tak ingin besar kepala.

__ADS_1


Ane mengangguk saja walau ia merasa ada yang janggal dengan kebaikan Cakra pada Sisil.


"Sudahlah, lebih baik sekarang kita lanjutkan makannya sebelum waktu istirahat habis." Ajak Sisil tak ingin melanjutkan pembahasan mereka tentang Cakra.


"Baiklah, kalau begitu ayo segera habiskan sarapan paginya." Jawab Ane dan diangguki Sisil sebagai jawaban.


**


**


Uhuk


Uhuk


Aga yang sedang asik mengusapkan tangannya di kepala Amara pun seketika menghentikan kegiatannya karena ada Cakra di dekat mereka.


"Ada apa, Cakra?" Tanya Aga menatap datar wajah Cakra.


"Satu jam lagi adalah jadwal keberangkatan kita ke perusahaan Dharma, Tuan." Ucap Cakra mengingatkan.

__ADS_1


"Oh, iya. Apa kau sudah mempersiapkan berkas apa saja yang dibutuhkan untuk pertemuan nanti?" Tanya Aga memastikan.


"Sudah, Tuan. Semua sudah dipersiapkan dan tinggal pergi saja."


Aga mengangguk paham. Aga yang berniat meminta Cakra kembali masuk ke dalam ruangan kerjanya agar tidak mengganggu dirinya dan Amara seketika mengurungkan niatnya saat teringat dengan sesuatu.


"Oh ya Cakra. Kemarin malam kau pergi kemana?" Tanya Aga dengan tatapan penuh selidik.


"Emh, pergi kemana maksudnya, Tuan?" Tanya Cakra berusaha tetap tenang.


Aga memperhatikan raut wajah Cakra yang nampak sedikit tegang walau Cakra sudah bersusah payah untuk menyembunyikan ketegangannya.


"Ya, tadi malam kau pergi kemana. Tadi pagi saat saya bertemu dengan Kak Dara di rumah Amara, saya mendapat kabar jika tadi malam kau datang ke rumah sakit tempat Kak Dara bekerja." Ucap Aga.


Deg


Cakra meneguk salivanya susah payah. Kebingungan mulai melanda dirinya karena bingung harus menjawab apa.


"Apa benar tadi malam kau pergi ke rumah sakit tempat Kak Dara bekerja, Cakra? Tapi untuk apa kau pergi ke sana? Rasanya saya tidak percaya dengan perkataan Kak Dara jika kau datang ke sana untuk menjenguk ibu dari temanmu yang sedang sakit." Tanya Aga dengan tatapan penuh selidik.

__ADS_1


***


__ADS_2