Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Gara-gara Zeline


__ADS_3

Ibu memperhatikan gerak-gerik cucunya itu dari meja makan. Ia dapat melihat mulut Zeline yang nampak berkomat-kamit saat berbicara dengan Aga. Entah apa yang cucunya itu bicarakan dengan Aga. Ibu tak dapat mendengarnya dengan jelas karena suara Zeline yang terdengar pelan.


"Anty Mara tuh sedih Om Aga. Om Rendra mau nikah sama orang lain." Cerita Zeline pada Aga.


Di seberang sana Aga nampak terkesiap mendengar perkataan Zeline. Ia jadi bertanya-tanya kenapa Rendra bisa menikah dengan wanita lain sementara pria itu terlihat sangat mencintai Amara.


"Om Aga sini ya main rumah Nenek. Ajak Anty Mara jalan-jalan. Kasian tuh Anty Mara di rumah aja nanti malah tambah sedih." Pinta Zeline.


Aga di seberang sana merasa mendapat kesempatan emas setelah mendengar permintaan Zeline. "Baiklah, Om akan ke rumah Nenek sebentar lagi. Kalau begitu Om siap-siap dulu."


Zeline mengembangkan senyum. Akhirnya usahanya membujuk Aga berhasil juga.


"Zel tunggu ya Om Aga!" Seru Zeline. Kali ini suara terdengar sedikit keras sehingga ibu dapat mendengarnya.

__ADS_1


"Iya, Princess."


Panggil telfon pun terputus. Zeline mendekap ponsel ibu di dada seraya tersenyum senang. "Asik... Om Aga akan datang ke sini. Bisa dekat-dekat tuh sama Anty Mara." Gumam Zeline.


Kaki mungil Zeline pun melangkah ke arah ibu yang sejak tadi memperhatikannya.


"Sudah selesai telfon Om Aganya?" Tanya Ibu lembut.


Zeline menganggukkan kepalanya. "Sudah, Nek. Zel mau telfon Mamah dan Papah boleh, Nek?" Pinta Zeline.


"Mau minta Mamah dan Papah bawa adik main sini, Nek. Zel mau main sama adik Ziko di sini."


Ibu menghela napas. Baru kemarin Zeline melarang Naina untuk menginap di rumahnya kini Zeline sudah berubah pikiran. Ibu pun akhirnya pasrah, ia mengambil ponsel dari tangan Zeline lalu melakukan panggilan telefon pada Naina. Setelah panggilan terhubung, Ibu pun menyerahkan ponsel kembali pada Zeline.

__ADS_1


"Mamah, tolong bawa baju sekolah Zel untuk hari senin, ya. Zel mau nginap di rumah Nenek saja sampai hari senin." Pinta Zeline. Bukan tanpa alasan Zel ingin menginap di rumah Ibu, alasan terbesarnya tentu saja karena Zel ingin memastikan Amara tidak akan bersedih lagi karena Rendra.


Naina di seberang sana hanya bisa pasrah mengiyakan permintaan putrinya. Sedangkan Daniel yang baru saja ingin memulai permainan kuda-kudaanya dengan Naina dibuat frustrasi karena Naina sudah beranjak memakai pakaiannya kembali.


"Kita ke rumah Ibu sekarang, Sayang. Zel sudah menunggu kita di sana." Cicit Naina.


Daniel menggaruk kepalanya yang terasa gatal tiba-tiba. "Apa tidak bisa dimulai dulu? Kita bisa berangkat beberapa jam lagi." Pintanya penuh harap.


Naina tersenyum kaku. "Tidak bisa, Sayang. Zel meminta kita untuk cepat. Apa kau ingin mengundur waktu jika Zel yang meminta? Lagi pula aku harus mempersiapkan baju sekolah Zel dulu karena Zel mau menginap di rumah Ibu sampai hari senin."


Daniel lantas saja menggeleng. "Tentu saja tidak. Dia pasti akan mengomel jika kita terlambat. Sudahlah, kita lanjutkan di rumah ibu saja." Daniel akhirnya turun dari atas ranjang kemudian memakai pakaiannya kembali. Sungguh, ia merasa gemas dengan putrinya yang sudah berhasil membuat moodnya menjadi buruk.


"Princess, kau selalu saja mengganggu aksi panas Papah dan Mamahmu." Gumam Daniel untuk putri kecilnya yang jauh di sana.

__ADS_1


***


Flashback dikit ya sama Papah Niel dan Mamah Nai. Oh ya, jangan lupa follow instagram @shy1210. Dan jangan lupa like, komen, gift dan votenya manteman❤️❤️


__ADS_2