
Amara tertunduk. Berharap apa yang ia lakukan itu dapat menutupi wajahnya dari kamera yang sedang tertuju ke arahnya.
Namun usahanya itu jelas sia-sia karena pengambil foto sudah mendapatkan foto wajahnya dengan jelas.
"Kenapa?" Aga melihat wajah Amara yang nampak cemas dari kaca spion motornya.
Amara tak memberi tanggapan karena telinganya tidak terlalu jelas menangkap apa yang Aga katakan. Amara pun sontak saja memajukan wajah ke arah wajah Aga. "Kakak bilang apa?" Tanyanya sedikit berteriak agar Aga dapat mendengar perkataannya."
"Aku bilang pegang pinggangku agar kau tak terjatuh. Aku ingin ngebut sebentar lagi!" Sahut Aga.
Amara mengerutkan dahi. Sedengarnya tadi Aga tak berucap seperti itu. Agh, mungkin hanya perasaannya saja.
Aga tak main-main dengan ucapannya. Ia segera menambah laju motornya sehingga Amara sontak memegang kedua pinggangnya takut merasa jatuh.
"Hampir saja jantungku copot!" Amara bergumam sebab Aga terlalu cepat menambah kecepatan motornya.
__ADS_1
Aga mengulum senyum. Menyembunyikan smirk yang tercetak di sudut bibirnya. Ia merasa sangat puas karena usahanya membuahkan hasil. Ia bisa kembali merasakan pergi menggunakan motor dengan Amara dan merasakan pelukan Amara lagi walau hanya dari belakang.
Motor milik Aga terus melaju menuju restoran yang menjadi tempat makan siang mereka bersama keluarga kecil Daniel. Amara yang dibonceng oleh Aga tetap memegang pinggang Aga sebab Aga terus melajukan motor dengan kecepatan tinggi.
"Huh, huh." Amara mengatur napas setelah Aga memarkirkan motor di area parkir restoran.
Aga menatap gemas wajah Amara yang sedang mengatur napas itu. Ia kemudian membuka helm yang terpasang di kepalanya kemudian membantu membuka helm Amara tanpa diminta oleh Amara.
"Aku bisa membukanya sendiri, Kak." Amara melayangkan kata protes diikuti wajahnya yang merona karena malu. Bagaimana tidak, wajah Aga yang sangat dekat dengan penglihatannya saat ini membuat Amara lagi-lagi terpesona dengan keindahan wajah Aga.
Amara tak memberikan tanggapan. Ia benar-benar dibuat malu dengan apa yang Aga lakukan saat ini.
Aga tersenyum tipis melihat kedua pipi Amara yang sudah memerah mengalahkan blush on yang Amara pakai. "Ayo masuk!" Ajaknya tak lupa menggenggam sebelah tangan Amara.
Amara terkesiap. Menatap tangannya yang kini digenggam oleh Aga.
__ADS_1
"Tadi membantu membuka helmku, sekarang menggenggam tanganku tanpa permisi. Setelah ini apa lagi yang akan Kak Aga lakukan kepadaku?" Amara berucap dalam hati. Walau pikirannya memaksa agar dirinya melepas genggaman tangan Aga, namun hatinya menolak hingga akhirnya Amara membiarkan tangan Aga tetap menggenggam tangannya.
Dari dalam restoran, Daniel memperhatikan gerak-gerik kakak sepupunya itu. Sebelah sudut bibirnya tertarik ke atas melihat Aga yang sangat pandai memanfaatkan kesempatan yang ada.
"Papa napa senyum-senyum sendiri?" Tanya Zeline.
"Lihat ke arah sana. Om Aga dan Anty Mara sudah datang." Daniel tak menjawab. Ia justru meminta Zeline melihat ke arah Aga dan Amara dengan lirikan matanya.
Zeline sontak bersorak gembira melihat kedatangan dua sosok yang sudah ia tunggu-tunggu sejak tadi. "Anty Mara, Om Aga!" Seru Zeline seraya mengayunkan tangan mungilnya di udara.
Amara dan Aga yang mendengarkan suara Zeline memanggil namanya lantas menatap ke sumber suara. Senyuman di wajah Aga pun tertarik melihat mak comblang sedang menyambut kedatangan mereka dengan girang.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa like, komen, gift dan votenya dulu ya. Dan jangan lupa follow instagram @shy1210 untuk seputar info karya shy. Terima kasih🪴
__ADS_1