Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Apakah Belum Sembuh?


__ADS_3

"Astaga, Zeline!" Amara rasanya sangat ingin menelan Zeline hidup-hidup. Kedua matanya yang melotot, kini seakan hendak lepas dari wadahnya.


Zeline tak memperdulikan tatapan Amara itu, ia tersenyum saja tanpa dosa.


Aga yang mendengar aduan Zeline jadi mengulum senyum. "Memangnya bagaimana Anty Amara mengigaunya?" Aga seakan penasaran dengan ngigauan sang pujaan hati. Ia juga merasa senang karena ternyata Amara membawa dirinya sampai ke dalam mimpi.


"Kaya gini, Om!" Zeline hendak bercerita. Namun telapak tangan Amara sudah menempel di bibirnya. "Diam atau Anty akan menggigitmu!" Ancam Amara. Wajahnya kini sudah sangat merah. Tak terkondisikan lagi bagaimana malunya Amara saat ini.


"Emh..." Zeline memberontak. Dan melihat itu membuat Daniel segera berdehem agar Amara melepas bekapannya di mulut putrinya.


"Papah, lihat Anty jahat sama Zel!" Adu Zeline sambil mengusap mulutnya yang dibekap oleh Amara.


"Itu karena kau sudah asal bicara centil!" Amara dibuat gemas sekaligus geram.


"Amara, jangan jahat pada keponakanmu!" Naina menimpali. Mendengar perkataan Naina lantas saja membuat Amara melototkan kedua matanya. Tak menyangka jika Naina akan ikut membantu Zeline agar terlepas darinya.


Aga semakin mengulum senyum. Dapat ia lihat bagaimana ekspresi malu Amara saat ini.

__ADS_1


"Jadi Om Aga mau dengar cerita Zeline tidak?" Zeline nampaknya tak urung untuk menceritakan bagaimana ngigauan Amara.


"Mau. Jadi bagaimana Anty Mara ngigaunya?" Tanya Aga. Ia nampak sudah tak sabar menunggu jawaban dari Zeline.


"Seperti ini..." Zeline pun menutup kedua kelopak matanya. "Pelan-pelan Kak Aga, Mara kan takut jatuh!" Zeline berucap menirukan suara Amara.


Amara dibuat malu bukan main. Zeline yang sejak dulunya adalah komplotannya kini sudah berubah haluan menjadi musuh ciliknya. Kedua pipi Amara terasa semakin panas. Amara sudah dapat menebak bagaimana warna kedua pipinya saat ini yang semakin memerah akibat menahan malu.


Daniel dan Aga saling melempar pandangan lalu menahan tawa bersamaan. Sementara Naina hanya diam saja.


"Anty tidak marah kan pada Zel?" Zeline menelengkan kepalanya menatap wajah Amara.


"Wah, Anty Zel ternyata diam-diam suka mimpiin Om Aga, ya." Daniel menggoda. Semakin Amara merasa malu maka ia akan semakin senang.


Kedatangan pelayan membawa makan untuk mereka menyelamatkan Amara dari pertanyaan Zeline dan godaan Daniel. Amara menghembuskan napas perlahan. Mengatur diri agar tak nampak terlalu gugup.


"Ayo kita makan dulu." Ajak Daniel. Perutnya yang sudah lapar membuatnya memilih mengajak keluarganya untuk makan dulu sebelum melanjutkan kegiatan menggoga Amara.

__ADS_1


Amara dan yang lainnya mengangguk. Kemudian mulai mengambil makanan masing-masing.


**


Setelah makan siang bersama selesai, Amara berpamitan pergi ke kamar mandi. Ia berniat menghindar dari keluarganya agar tak lagi menggodanya. Terlebih pada Zeline. Karena semakin banyak Zeline menggodanya, maka semakin banyak pula rahasianya terbongkar.


"Amara..." suara lembut Naina memanggil namanya mengagetkan Amara yang sedang mencuci tangan di atas westafel.


"Kak Nai," Amara tersenyum pada kakak kesayangannya itu. "Kenapa Kakak ikut ke sini? Apa Kakak ingin buang air juga?" Tanya Amara.


Naina menggeleng. Dengan lembut sebelah tangannya mengusap lengan Amara. "Kakak ingin menyusulmu. Ada suatu hal yang ingin Kakak tanyakan kepadamu."


"Apa itu, Kak?" Amara nampak penasaran.


"Apa luka di hatimu sampai saat ini masih belum sembuh sehingga kau sulit membuka hatimu kembali untuk Kak Aga? Maaf, bukannya Kakak ingin ikut campur. Hanya saja Kakak tidak ingin kau jadi trauma dengan yang namanya cinta."


***

__ADS_1


Sebelum lanjut, jangan lupa like, komen, gift dan votenya dulu ya. Dan jangan lupa follow instagram @shy1210 untuk seputar info karya shy. Terima kasih🪴


__ADS_2