
Mendengar masukan dari Naina lantas saja membuat Amara tersadar dengan sifat egoisnya saat ini yang hanya mementingkan keinginannya sendiri tanpa memperdulikan keinginan Aga.
"Amara, Kakak bukan bermaksud ingin ikut campur dalam permasalahanmu saat ini dengan Kak Aga. Namun sebagai kakakmu, Kakak merasa memiliki kewajiban untuk memberikan saran dan masukan jika kau membutuhkannya seperti saat ini." Ucap Naina kemudian.
Amara menganggukkan kepalanya. "Mara mengerti, Kak. Salah Mara juga terlalu egois gak mau menerima pendapat Kak Aga." Jawabnya. Sebagai calon istri dari seorang pemilik perusahaan, harusnya dirinya sadar jika Aga pasti ingin membuat acara yang berkesan sebab di hari pernikahan mereka nanti Aga bukan hanya mengundang keluarga mereka saja melainkan juga mengundang para pejabat dan relasi kerjanya.
Mendengar adiknya sudah tak lagi keras dengan keinginannya sendiri akhirnya membuat Naina bisa bernapas lega. Pun dengan Daniel yang memang sangat ingin membuat acara resepsi pernikahan yang mewah untuk pernikahan adik ipar dan kakak sepupunya nanti.
Setelah menengahi perdebatan sengit antara Aga dan Amara, akhirnya Daniel pun mengajak Naina untuk pulang menyusul kedua anak mereka yang sudah dibawa pulang oleh Ayah Arif dan Bu Fatma ke rumah mereka lebih dulu.
"Maafkan Mara ya, Kak." Cicit Amara setelah Daniel dan Naina pergi meninggalkan mereka.
Aga mengusap sayang kepala calon istrinya itu seraya tersenyum. "Tidak perlu meminta maaf karena tidak ada yang salah." Jawab Aga lembut.
"Tapi Mara bersalah, Kak. Mara egois karena hanya ingin semuanya berjalan sesuai keinginan Mara." Ucapnya dengan kepala tertunduk. Sudahlah acara lamaran mereka kemarin dilakukan Aga sesuai dengan keinginannya, kini ia kembali memaksa Aga untuk melakukan konsep pernikahan sesuai keinginannya juga. Rasanya Amara sudah bersikap menjadi wanita yang sangat egois.
__ADS_1
"Tidak salah, kok. Karena kita yang akan menjalani acara pernikahan nanti, kau juga berhak untuk memberikan pendapat. Dan sebagai calon suamimu, Kakak menghargai pendapatmu itu. Jadi sekarang, tidak perlu dibahas lagi dan merasa bersalah, ya." Tutur Aga lembut.
Amara menganggukkan kepala seraya tersenyum pada Aga. "Terima kasih, Kak. Mara sayang Kak Aga." Ucapnya pelan.
"Aku juga sangat menyayangimu." Jawab Aga lembut kemudian memberikan usapan kembali di kepala Amara.
**
Setelah cukup lama menghabiskan waktu di dalam restoran, akhirnya Aga dan Amara pun memutuskan untuk pulang menyusul anggota keluarga mereka yang sudah pulang lebih dulu.
"Dingin, ya?" Tanya Aga lembut melihat Amara yang kini menggosokkan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Sedikit," jawab Amara dengan tersenyum kaku.
"Mau dihangatkan tidak?" Tawar Aga sambil menarik sebelah alis matanya ke atas.
__ADS_1
"Dihangatkan, bagaimana caranya, Kak?" Tanya Amara diikuti dahi yang mulai mengekerut.
"Begini," tanpa membuang waktu lama, Aga langsung saja mempraktekkan bagaimana caranya menghangatkan tubuh Amara dengan cara membawa tubuh Amara ke dalam pelukannya.
Deg
Deg
Jantung Amara berdebar tak karuan merasakan pelukan Aga secara tiba-tiba.
"Kak Aga..." lirihnya dengan kedua kelopak mata yang sudah terbuka lebar.
Aga yang kini dapat merasakan debaran jantung Amara pun semakin mendekap erat tubuh sang pujaan hatinya itu.
"Bagaimana, sudah mulai hangat belum?" Tanyanya sambil memberikan sedikit usapan di pipi Amara dengan ibu jarinya.
__ADS_1
***