Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Sedikit Kaku


__ADS_3

Serangkaian acara pernikahan sekaligus resepsi Aga dan Amara hari itu akhirnya selesai. Sepanjang acara berlangsung tadi, Aga dan Amara tak menyurutkan sedikit pun senyuman di wajah masing-masing. Bahkan Aga yang jarang sekali tersenyum pun memperlihatkan senyumannya terbaiknya pada semua orang.


"Capek, ya?" Tanya Aga melihat wajah istrinya yang nampak lelah sambil memberikan usapan di pipi.


Semburat merah nampak muncul di pipi Amara yang diusap oleh Aga. "Sedikit." Jawabnya malu.


Aga tersenyum melihat ekspresi malu-malu istrinya itu. Kemudian dia membantu Amara turun dari atas pelaminan.


Ibu Fatma dan Naina yang menunggu Amara dan Aga turun dari atas pelaminan segera menghampiri Aga dan Amara yang kini sudah turun dari pelaminan.


"Amara, Aga, sekarang kalian istirahat dulu di kamar, ya. Nanti malam berkumpul lagi untuk makan malam bersama." Tutur Bu Fatma.


Amara menganggukkan kepalanya. "Baik, Bu. Oh, ya. Ibu dan Kak Nai mau kemana setelah ini?" Tanyanya.

__ADS_1


"Ibu dan Kak Nai mau bercengkrama sebentar dengan keluarga kita yang lain. Nanti setelah mereka pulang, Ibu akan beristirahat juga."


Amara kembali mengangguk tanda paham. Kemudian ia dan Aga melangkahkan kaki meninggalkan ballroom hotel menuju sebuah kamar yang sudah dipersiapkan khusus untuk keduanya.


Masuk ke dalam kamar, hawa canggung mulai menyelimuti Amara. Ini adalah pertama kalinya ia berada di dalam kamar yang sama hanya berdua dengan Aga dengan status sebagia sepasang suami istri.


"Kenapa?" Aga memeluk pinggang Amara dari belakang sambil membenamkan wajah di ceruk leher Amara.


Bulu kuduk Amara terasa merinding. Secepat mungkin ia menormalkan kecanggungannya mengingat pesan Naina agar tidak bersikap malu-malu pada Aga. Dengan memberanikan diri, Amara mengusap tangan Aga yang sedang melingkar di pinggangnya kemudian menatap wajah Aga.


Aga semakin mengeratkan pelukan tangannya di tubuh Amara. "Tidak perlu canggung. Sekarang kita kan sudah sah menjadi sepasang suami istri."


Amara menganggukkan kepalanya kemudian dengan perlahan membalikkan tubuhnya menatap wajah Aga.

__ADS_1


Keduanya kini sudah berdiri dengan posisi saling berhadapan. Tatapan mata Amara berubah sayu menatap wajah pria yang sangat dicintainya kini sudah sah menjadi suaminya. "Aku sangat bahagia, Kak. Karena kini pria yang aku cintai sudah sah menjadi suamiku." Ungkap Amara.


Aga tersenyum mendengarnya. Sebelah tangannya pun terangkat mengusap wajah Amara. "Aku juga bahagia karena bisa menikahi wanita secantik dan sebaik dirimu."


Amara melukis senyum di wajah cantiknya.


Perlahan, Aga memajukan wajahnya pada wajah Amara. Melihat pergerakan suaminya itu, lantas saja membuat Amara memejamkan kedua kelopak matanya. Kali ini Amara berharap lebih, ia tidak ingin apa yang ia pikirkan tidak terjadi lagi.


Dan benar saja, sebuah benda kenyal kini sudah menempel di bibirnya. Sejenak Amara tertegun merasakan sentuhan bibir pria untuk pertama kalinya di bibirnya. Setelah menormalkan dirinya kembali, Amara pun membalas ciuman Aga dengan sedikit kaku.


Bibir keduanya saling berpangut. Menyalurkan cinta lewat ciuman masing-masing. Aga yang merasakan kakunya Amara saat membalas senyumannya tersenyum. Ia merasa senang karena yakin jika dirinyalah orang pertama yang berhasil mendapatkan ciuman Amara.


Ciuman yang awalnya lembut itu akhirnya mulai memanas saat lidah Aga sudah menelusup masuk ke dalam rongga mulut Amara dan menjelajah di sana. Amara yang terbuai dengan ciuman Aga pun mencoba membalas ciuman Aga dengan mengandalkan bayangan film dewasa yang sering ia tonton bersama Agatha.

__ADS_1


***


Skip dulu masih pagi🤭


__ADS_2