Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Ada Apa Dengan Mereka?


__ADS_3

Aga mengangkat kedua bahunya. "Aku juga tidak tau. Cakra begitu pandai dalam bersikap menutupi apa yang dia rasakan selama ini sehingga aku tidak bisa membaca segala gerak-geriknya yang mencurigakan."


Amara diam. Otaknya kini tengah berpikir keras bagaimana bisa seorang Cakra membantu biaya pengobatan Ibu Sisil sementara selama ini ia tidak pernah melihat kedekatan Cakra dengan Sisil. Terlebih, beberapa bulan lalu Amara sempat melihat sebuah rekaman video saat Cakra memarahi Sisil karena sudah membulinya.


"Sungguh di luar nurul dan tidak masuk akmal!" Gumamnya.


Aga yang mendengarkannya menyunggingkan senyum. Walau merasa heran dengan apa yang Cakra lakukan, namun Aga memilih tidak ikut campur dalam urusan pribadi asistennya itu.


"Sepertinya aku harus menyelidiki ini semua. Gak mungkin 'kan Tuan Cakra bisa tiba-tiba baik seperti itu pada Sisil dan ibunya. Pasti ada suatu hal yang tidak aku ketahui di sini."


**


**

__ADS_1


Setelah beberapa hari mengambil cuti untuk menemani ibunya yang masih berada di rumah sakit pasca operasi, akhirnya hari itu Sisil kembali masuk bekerja seperti biasanya. Jika beberapa waktu lalu wajah Sisil nampak muram mengingat keadaan ibunya yang semakin memburuk, kini berbeda. Wajahnya sudah tak lagi muram justru cerah. Bagaimana tidak, setelah melewati tindakan operasi beberapa waktu lalu, keadaan ibunya dinyatakan semakin membaik bahkan sore ini ibunya sudah diperbolehkan untuk pulang.


"Sisil," kedatangan Sisil ke ruangan khusus cleaning service disambut dengan senyuman di wajah Ane yang sudah tiba di perusahaan lebih dulu.


Sisil menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman membalas sapaan Ane.


"Wajahnya cerah banget. Kelihatannya ada yang udah seneng nih." Goda Ane.


Senyuman di wajah Sisil semakin terkembang mendengar perkataan teman baiknya itu. "Iya, nih. Aku seneng banget karna kondisi ibu udah makin membaik dan hari ini udah boleh pulang."


"Iya. Aku seneng banget karna ibu gak ngerasain sakit kayak dulu lagi."


Ane menganggukkan kepalanya seraya mengulas senyum. Ia turut merasakan kebahagiaan yang tengah Sisil rasakan saat ini.

__ADS_1


Setelah cukup berbincang sambil mempersiapkan diri untuk mulai bekerja, Ane dan Sisil pun mulai mengerjakan tugas mereka pagi itu. Sesuai dengan jadwal, pagi ini Sisil mendapatkan tugas membersihkan lantai lobby dan sekitarnya.


Pada saat dirinya sedang fokus mengepel lantai lobby, kegiatan Sisil terhenti saat sepasang kaki berhenti tepat di depannya.


"Maaf..." Sisil yang hendak meminta seseorang yang tengah berdiri di depannya saat ini untuk bergeser mengurungkan niatnya saat melihat siapakah sosok yang berdiri depannya saat ini.


"Tuan Cakra." Ucap Sisil lirih.


Cakra yang disebut namanya hanya menatap datar wajah Sisil. Dan tanpa kata, ia melanjutkan langkahnya menuju lift.


Tentu saja melihat sikapnya itu membuat Sisil mengerutkan dahi merasa aneh dengan sikap Cakra. "Ada apa dengan Tuan Cakra. Kenapa dia tadi berhenti di depanku. Apa aku ada salah?" Sisil menebak-nebak dengan dahi yang semakin mengkerut dalam.


Di ambang pintu lobby, Amara yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Cakra saat melihat Sisil pun ikut mengerutkan dahi seperti yang Sisil lakukan saat ini. "Sepertinya memang ada sesuatu di antara Tuan Cakra dan Sisil yang tidak aku ketahui." Gumam Amara. Sepertinya setelah ini ia akan menyelidiki kasus di antara Sisil dan Cakra yang sudah membuatnya penasaran sejak kemarin.

__ADS_1


***


Next?


__ADS_2