
Wajah Amara nampak sangat tak bersahabat setelah terlibat percakapan singkat dengan Anjani. Antara rasa kesal dan sakit hati Amara rasakan kini. Kesal karena Anjani terus menerornya tentang Aga dan sakit entah karena apa. Tidak ingin moodnya yang buruk merusak suasana makan malam mereka saat ini, Amara mencoba tersenyum menyamarkan raut masam di wajahnya.
Kedatangan seorang pelayan memberitahu Hanum jika Baby Daisy sudah terjaga dari tidurnya membuat Hanum segera berpamitan untuk menemui putri kecilnya.
"Kak Dio tidak membawa Divan ikut ke sini juga?" Tanya Amara teringat dengan putra angkat Hanum dan Dio yang tidak kelihatan sejak tadi.
"Tidak. Divan tidak mau mengambil libur dan tertinggal pelajaran. Jadi dia Kakak titipkan di rumah Mama Kakak saja." Jawab Dio.
Amara mengangguk paham. "Divan anak yang cerdas dan rajin. Aku yakin suatu saat nanti ia akan menjadi anak yang membanggakan kedua orang tuanya."
Kedua sudut Dio tertarik sempurna mendengarnya. "Putra Kakak memang sehebat itu. Kakak berharap di akan selalu bersikap seperti saat ini sampai dewasa nanti." Walau Divan bukanlah anak kandungnya namun Dio sangat menyayangi Divan selayaknya ia menyayangi Daisy anak kandungnya.
__ADS_1
Setelah hampir dua jam menghabiskan waktu di kafe milik Dio, Aga dan Amara pun berpamitan untuk pulang. Namun ternyata alasan pulang yang Aga berikan hanya alasan belaka karena nyatanya Aga justru mengajak Amara ke salah satu taman yang berada dekat dengan kota.
"Kenapa Kak Aga mengajakku ke sini?" Tanya Amara setelah keduanya duduk di kursi yang berada dekat di tepi taman.
"Apa kau tidak menyukai jika aku mengajakmu datang ke sini?" Aga balik bertanya.
Amara menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Tidak seperti itu. Aku hanya heran saja. Aku pikir Kakak akan membawaku langsung pulang."
Amara tak lagi menjawab. Jantungnya kini bekerja tidak normal karena duduk di sebelah Aga. Jujur saja Amara belum bisa sepenuhnya melupakan cintanya pada Aga. Hingga duduk berdekatan seperti saat ini cukup membuatnya menjadi kurang nyaman.
"Oh ya, kau berbicara apa dengan Anjani tadi? Kenapa sampai membawa namaku ke dalam percakapan kalian?" Pertanyaan yang sejak tadi bersarang di kepala Aga akhirnya Aga keluarkan juga.
__ADS_1
Wajah Amara lantas saja berubah masam mendengar nama Anjani disebut oleh Aga. Bagaimana tidak, wanita itu sudah berhasil membuat moodnya menjadi buruk akhir-akhir ini.
"Aku kan sudah bilang jika Kak Anjani pasti mempermasalahkan kepergian kita tanpa mengajaknya. Dan tadi, Kak Anjani mempertanyakan hal itu kepadaku. Dia protes kenapa tidak diajak."
"Lalu kau menjawab apa?"
"Aku bilang saja tanyakan langsung pada Kakak. Toh Kakak yang mengajakku dan tidak ingin membawa dirinya."
Aga menipiskan bibir menahan senyum melihat wajah masam Amara yang terlihat menggemaskan di wajahnya. "Sudahlah, tidak perlu memikirkannya." Ucap Aga.
"Tapi aku tidak nyaman, Kak. Aku tidak peduli ada hubungan apa di antara Kakak dan dirinya, namun yang aku inginkan saat ini Kakak bisa bersikap tegas pada Kak Anjani agar tidak lagi membawa namaku di dalam permasalahan kalian. Sudah cukup banyak masalah yang datang ke kehidupanku saat ini. Jadi aku harap Kak Anjani tidak menjadi salah satu masalah di dalam hidupku yang sudah runyam."
__ADS_1
***