
Setelah memasukkan barang-barang ke dalam koper, Amara segera menghampiri Aga yang sedang menunggu di luar kamar dan mengajaknya untuk pulang.
"Tunggu sebentar, ya. Aku masih telefonan sama Cakra." Kata Aga sambil mengusap sayang rambut istrinya.
Cakra yang mendengarkan perkataan Aga di seberang telefon spontan terbatuk. Hal yang selalu ia lakukan setiap kali mendengar atau melihat Amara dan Aga bersikap romantis.
Amara menganggukkan kepala. Ia kembali ke dalam kamar untuk mengambil koper miliknya. Sementara Aga kembali melanjutkan percakapannya dengan Cakra.
Tak berselang lama, Amara kembali keluar dari dalam kamar sambil menyeret sebuah koper, Aga segera mengambil alih koper tersebut. "Ayo pulang." Kata Aga sambil memberikan usapan di kepala Amara. Hal yang acap kali Aga lakukan saat berbicara dengan istrinya.
Senyuman di wajah Amara terkembang. Ia mengangguk kemudian melangkah meninggalkan hotel sambil memegang tangan suaminya.
Sebuah mobil BMW bewarna hitam yang terparkir di depan lobby hotel menyambut kedatangan Amara dan Aga. Seorang sopir pribadi keluarga Aga segera mengambil alih koper dari tangan Aga kemudian memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
"Ayo masuk tuan putri." Kata Aga setelah membukakan pintu untuk sang pujaan hati.
__ADS_1
Amara mengiyakannya dengan rasa bahagia yang menyeruak di dalam dada. Ia segera menaiki mobil kemudian diikuti oleh Aga.
"Tidur dulu saja sambil menikmati perjalanan pulang." Kata Aga setelah mobil melaju meninggalkan area hotel.
Amara mengangguk. Kebetulan matanya masih mengantuk dan tubuhnya juga masih terasa lelah.
Aga menepuk pundaknya. Seakan memberikan kode pada Amara agar menyandarkan kepala di pundaknya. Mengerti kode dari Aga, Amara segera menjatuhkan kepala di pundak Aga.
"Dielus-elus dulu kepalanya biar cepat tidur." Kata Aga lembut.
Beberapa saat berlalu, mobil yang membawa Aga dan Amara akhirnya tiba di kediaman Aga. Di saat bersamaan, Amara membuka kedua kelopak matanya. Ia seakan bisa mengatur diri agar terbangun setelah tiba di kediaman Aga.
"Baru saja mau digendong. Sudah bangun saja." Kelakar Aga sambil memberikan usapan kepala.
Amara jadi tersenyum. "Gak perlu digendong. Malu sama Pak Sopir." Katanya sambil menatap sopir dengan lirikan mata.
__ADS_1
"Saya gak lihat kok, Nona. Jadi gak masalah kalau Nona mau digendong Tuan Aga." Sahut sopir yang dimaksud Amara.
"Ehe..." Amara tersenyum kikuk. "Enggak dulu, deh. Nanti aja gendong-gendongannya di dalam rumah." Jawabnya ikut berkelakar.
Aga jadi geleng-geleng kepala mendengar percakapan istri dan sopir pribadinya.
Setelah mengeluarkan koper dari dalam bagasi, akhirnya sopir pun berpamitan kembali ke kediaman Papa Andrew. Setelah kepergian sopir, Amara dan Aga segera masuk ke dalam rumah Aga yang nampak gelap gulita.
"Kak Aga gak menyuruh orang menginap di sini apa?" tanya Amara sedikit ngeri melihat rumah yang nampak kosong tanpa penghuni itu.
"Enggak. Tapi setelah kita tinggal di sini mulai malam ini, aku akan meminta beberapa orang untuk tinggal di sini dan membantu mengerjakan pekerjaan rumah agar istriku ini tidak kelelahan mengerjakan tugas sebagai seorang istri."
Amara jadi merasa haru mendengarnya. Dipeluknya tubuh suaminya yang sangat pengertian itu. "Untuk saat ini aku memang belum pandai memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik. Tapi Kakak tenang saja, sebagai gantinya aku bisa memuaskan Kakak dengan baik di atas ranjang." Katanya dengan senyuman menggoda.
***
__ADS_1