Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Surat Apa Ini?


__ADS_3

"Benarkah begitu, Kak?" Amara menatap wajah Aga dengan tatapan tak percaya.


Anggukan kepala Aga menjawab pertanyaan Amara. "Bagaimana, apa kau bersedia pernikahan kita dimajukan?"


Tanpa ragu Amara menganggukkan kepalanya. Sangking tidak ragunya, Amara sampai menjawab dengan keras. "Iya, Mara setuju, Kak!"


Aga mengulum senyum melihat respon yang Amara berikan. Amara yang menyadari kesalahannya sudah terlalu bersemangat menjawab pertanyaan Aga pun menutup mulut kemudian menatap Papa Andrew dengan tersenyum kaku.


"Semangat sekali sih yang mau nikah ini." Goda Agatha pada sahabat baiknya itu.


Amara jadi kikuk dan masih tersenyum kaku. Papa Andrew yang melihatnya pun hanya bisa tersenyum.


"Karena Amara sudah menyetujuinya, jadi setelah ini kalian bisa menghubungi pihak WO jika jadwal pernikahan kalian dimajukan. Selain itu, kalian bisa mulai secepatnya mengurus berkas apa saja yang diperlukan untuk pernikahan nanti." Ucap Papa Andrew.

__ADS_1


Amara dan Aga menganggukkan kepalanya merespon perkataan Papa Andrew.


"Baik, Pah. Mulai besok kami akan segera mengurus berkas apa saja yang diperlukan untuk pernikahan nanti."


Papa Andrew menganggukkan kepalanya. Kemudian berpamitan pergi ke kamarnya untuk memberi ruang pada Aga dan Amara untuk berbicara lebih santai.


"Asiknya akhirnya pernikahan Kakak dan Amara dimajukan juga!" Seru Agatha setelah kepergian Papa Andrew. Senyuman di wajah Agatha terkembang membayangkan sebentar lagi Amara akan menikah dengan kakaknya sesuai apa yang ia harapkan selama ini.


"Jangan senang dulu, Gatha. Kau tidak lupa bukan dengan tugasmu menjahit seluruh seragaman keluarga kita."


"Jadi bagaimana, masih senang gak kalau pernikahan kami dimajukan?" Goda Amara melihat perubahan reaksi Agatha.


"Ck. Tetap senang. Tapi tugasku jadi mendesak. Hm..." Agatha mendesah-kan napas bebas di udara. Niatnya yang ingin bersantai-santai dalam minggu ini sepertinya harus ia urungkan.

__ADS_1


Amara menahan senyum mendengarnya. Pun dengan Aga. "Semoga pekerjaanmu berjalan dengan lancar. Semoga saja dengan mempermudah urusanku dan Kak Aga untuk menikah nanti, jodohmu akan semakin dimudahkan untuk mendekat kepadamu." Harap Amara.


"Aamiin. Semoga saja!" Sahut Agatha semangat tanpa menyadari jika jodohnya sudah berada sangat dekat dengannya saat ini.


Setelah membahas rencana pernikahan Aga dan Amara yang sudah berada di depan mata, Amara pun menceritakan pada Aga jika ia sudah memberikan uang yang diberikan Aga saat itu pada Sisil. Tak lupa Amara juga menceritakan jika ada orang baik yang mau membayarkan tunggakan jaminan kesehatan Ibu Sisil beserta biaya pengobatan Ibu Sisil yang lainnya yang tidak ditanggung oleh pihak jaminan kesehatan.


Berbeda dengan Amara, Aga tak merasa penasaran dengan siapakah orang baik yang sudah mau membantu Sisil secara cuma-cuma. Bahkan orang tersebut tidak mau identitas dirinya diketahui oleh Sisil. Menurut Aga, biarlah itu menjadi urusan Sisil. Yang terpenting saat ini ia sudah melakukan kewajibannya dengan baik untuk membantu biaya pengobatan Ibu Sisil.


Dan setelah hari itu, Aga dan Amara pun mulai disibukkan mengurus berkas untuk pernikahan mereka. Sangking sibuknya, Aga dan Amara sesekali mengambil waktu cuti untuk mengurus berkas pernikahan mereka yang ternyata cukup menguras waktu dan energi.


Hari itu, Aga yang kembali disibukkan mengurus berkas pernikahannya berniat meminta tolong Cakra untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai. Saat dirinya sudah masuk ke dalam ruangan Cakra sambil membawa berkas yang belum sempat ia periksa, pandangan Aga tiba-tiba saja tertuju pada sebuah surat dari rumah sakit yang berada di atas meja Cakra.


"Surat apa ini?" Gumam Aga merasa penasaran sebab setahunya asistennya itu dalam keadaan sehat dan tidak pernah berurusan dengan rumah sakit akhir-akhir ini.

__ADS_1


***


__ADS_2